Garuda Indonesia (GIAA) Jajaki Pembelian 50 Pesawat Boeing, Analis Soroti Risiko Keuangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengonfirmasi sedang menjajaki komunikasi intensif dengan Boeing terkait rencana pembelian 50 unit pesawat baru, yang sebagian besar tipe Boeing 777.
Rencana pembelian ini merupakan bagian dari kesepakatan negosiasi tarif resiprokal antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, pemerintah AS menyetujui penurunan tarif impor hingga 19%, disertai komitmen Indonesia untuk membeli armada pesawat dari produsen asal AS.
Baca Juga
Pembelian Boeing Jadi Bagian dari Negosiasi Tarif, Pemerintah Serahkan ke Garuda
“Kami sampaikan sampai dengan saat ini bahwa Perseroan dan Boeing tengah melakukan komunikasi secara intensif untuk membahas detail kebutuhan armada yang sesuai dengan pangsa pasar Perseroan,” tulis Direktur Utama GIAA Wamildan Tsani dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip Selasa, (22/7/2025).
Lebih lanjut, Wamildan menyebutkan bahwa, pembelian pesawat merupakan bagian dari strategi jangka panjang restrukturisasi bisnis Garuda yang menitikberatkan pada penguatan armada dan optimalisasi jaringan penerbangan selama lima tahun ke depan.
Sejalan dengan itu, sumber pendanaan untuk rencana tersebut akan berasal dari skema pemulihan keuangan yang telah disetujui oleh Presiden RI dan Menteri BUMN serta RUPSLB pada 30 Juni 2025. Selain itu, perseroan juga secara paralel tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak pemberi dana potensial.
Baca Juga
Prabowo: Pemerintah Bertekad Besarkan Garuda Indonesia, Bakal Beli Boeing dari AS
"Pembelian pesawat tersebut akan menunjang transformasi bisnis dari aspek network dan fleet melalui rasionalisasi jaringan
rute yang didasari pada profitability uplift potential dan strategic network serta ekspansi armada yang align dengan permintaan market dengan tetap menjaga efisiensi atas operating cost, yang diharapkan dapat mengoptimalkan pendapatan perseroan," jelas dia.
Dihubungi terpisah, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata memandang dampak positifnya terhadap perseroan yakni membuka peluang ekspansi armada dan rute internasional, kemudian adanya dorongan untuk sektor Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) dan transfer teknologi jika adanya offset agreement.
Baca Juga
Garuda Mau Tambah Pesawat, Menhub: Kami Dukung untuk Melayani Ruang Udara Kita
Sedangkan dampak negatifnya, Liza menyoroti beban keuangan maskapai yang semakin meningkat, terutama di tengah kondisi keuangan GIAA yang belum sepenuhnya pulih. Tak hanya itu, ia menilai akan adanya overcapacity bila tidak diimbangi dengan permintaan riil, serta risiko pembelian yang terkesan dipaksa dalam rangka imbal dagang, bukan kebutuhan operasional murni.
"Secara korporat bisa membebani, namun jika dikelola melalui leasing dan diberi waktu delivery bertahap, pembelian ini bisa menjadi leverage ekspansi sektor penerbangan dan industri pendukungnya," kata Liza saat dihubungi investortrust.id baru-baru ini.

