Pesimisme Mendominasi Paruh Pertama, Simak Optimisme Pasar Obligasi dan Saham di Semester II 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Memasuki paruh kedua 2025, pasar obligasi domestik disebut masih potensial di tengah ketidakpastian global. Hal ini ditopang oleh potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) lebih lanjut, potensi stabilitas Rupiah seiring berlalunya periode pembayaran dividen kuartal kedua, dan ekspektasi iklim Dolar AS yang lemah.
Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Dimas Ardhinugraha menyebutkan, sentimen tersebut dapat mendorong minat investor global ke pasar negara berkembang untuk mencari imbal hasil (yield) menarik.
“Selain itu permintaan dari investor domestik diperkirakan menguat seiring dengan turunnya imbal hasil SRBI yang membuat SBN lebih menarik,” ucap Dimas dikutip Sabtu (12/7/2025).
Dia meyakini, terdapat potensi reinvestasi peralihan ke SBN, dari banyaknya SRBI yang akan jatuh tempo di kuartal ketiga sebesar Rp 273 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp 191 triliun di kuartal kedua.
Baca Juga
Sementara, suplai obligasi diperkirakan tetap terjaga, walau defisit APBN 2025 melebar. Hal ini didukung oleh penggunaan saldo anggaran lebih (SAL) oleh pemerintah yang berpotensi mengurangi kebutuhan penerbitan obligasi. Adapun sentimen di pasar saham diperkirakan masih akan dinamis. MAMI melihat, setelah pesimisme mendominasi kuartal pertama, terjadi perbaikan sentimen di kuartal kedua didukung oleh stabilitas Rupiah dan meredanya tekanan jual investor asing.
“Memang terlepas dari perubahan cepat sentimen pasar, sebenarnya valuasi pasar saham saat ini masih rendah, jadi sangat menarik sebagai entry point untuk investor,” imbuh dia.
Di sisi lain, valuasi rendah juga mencerminkan pandangan pasar yang belum terlalu yakin pada outlook jangka pendek pasar saham.
Baca Juga
Pefindo Kembali Berikan Peringkat idAA untuk Obligasi Sarana Mitra Luas (SMIL)
Ke depan, berkurangnya ketidakpastian global dipercaya dapat mengukuhkan outlook dan keyakinan investor terhadap pasar saham Indonesia. Namun yang menjadi faktor terpenting adalah sinyal pemulihan pertumbuhan ekonomi domestik.
“Di tengah dinamika pasar, salah satu solusi yang dapat kita lakukan sebagai investor adalah diversifikasi di kedua kelas aset, mengambil benefit dari masing-masing karakteristik kelas aset tersebut,” tegas Dimas.
Dia memaparkan, obligasi dapat menjadi penahan volatilitas portofolio, sambil menantikan perkembangan negosiasi tarif kondisi geopolitik. Di saat yang sama, investor juga dapat menangkap potensi dari ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
Sedangkan di saham, investor dapat memanfaatkan momen harga saham yang rendah untuk menangkap peluang investasi jangka panjang. “Tentunya dengan alokasi yang disesuaikan dengan profil risiko, tujuan, dan horizon investasi investor,” pungkasnya.

