Reliance Sekuritas: Ekonomi 2025 Terancam Lesu, Rupiah Bisa Tembus Rp 16.600, hingga Minyak Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI) memprediksi bahwa kondisi makroekonomi Indonesia hingga akhir 2025 akan tetap menghadapi tekanan signifikan. Tantangan utama berasal dari pertumbuhan ekonomi yang stagnan, inflasi rendah akibat daya beli melemah, dan potensi depresiasi nilai tukar Rupiah ke level tertingginya tahun ini.
Analis Reliance Sekuritas, Arifin, menyoroti bahwa ekonomi Indonesia kemungkinan hanya akan tumbuh di kisaran 4,8–4,9%, jauh di bawah ambang psikologis 5%. Data terakhir mencatat pertumbuhan ekonomi Mei 2025 sebesar 4,87% dan tren ini diperkirakan tidak membaik signifikan hingga akhir tahun.
Baca Juga
Investor Asing Lanjutkan Net Sell Rp 465,94 Miliar, Saham Bank Besar Ini Diobral
“Kami tidak melihat pertumbuhan ekonomi kembali ke level 5% atau lebih di 2025,” jelas Arifin dalam Market Update 2025 yang digelar daring, Jumat (4/7/2025).
Dia juga menambahkan bahwa inflasi akan tetap lemah di bawah 2,5%, seiring dengan pelemahan daya beli masyarakat. Outlook ini sejalan dengan proyeksi pemerintah dan Bank Indonesia yang masih melihat tekanan inflasi rendah hingga akhir tahun.
Terkiat nilai tukar Rupiah, Reliance juga memproyeksikan berlanjutnya tekanan dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan proyeksi tahunan, Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 15.800–Rp 16.600 per dolar AS, dengan potensi overshoot mencapai Rp 16.600 pada September 2025.
Baca Juga
Ekspor Batu Bara Indonesia ke China Anjlok, Ini 3 Penyebab Utamanya
“Dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah, daya beli menurun, dan ekonomi global yang belum pulih, kami melihat Rupiah sangat mungkin overshoot ke Rp 16.600,” tegas Arifin.
Di sisi lain, harga minyak mentah global (WTI) diprediksi akan mengalami kenaikan tajam akibat meningkatnya tensi geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. RELI memperkirakan harga minyak berpeluang menembus di atas US$ 80 per barel, selama konflik belum mereda. “Selama eskalasi politik di Middle East belum mereda, harga minyak cenderung akan bertahan tinggi,” pungkasnya.

