Tertekan di Kuartal II, Saham Sektor Poultry Bangkit di Paruh Kedua 2025?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham-saham emiten sektor poultry (unggas) diperkirakan menghadapi tekanan jangka pendek, seiring pelemahan harga ayam hidup. Namun, analis menilai prospek pemulihan kinerja akan menguat pada paruh kedua 2025, ditopang harga jual yang membaik, biaya pakan yang stabil, serta intervensi kebijakan pemerintah.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan terbarunya untuk mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor poultry dengan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebagai saham pilihan utama direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.800.
Baca Juga
Resmi Diterapkan! Pemerintah Patok Harga Pembelian Ayam di Tingkat Peternak Minimal Rp 18.000 per Kg
Berdasarkan pemantauan pasar memang terjadi kenaikan harga ayam hidup (live bird) ke Rp 18.600 per kg pada akhir Juni 2025. Namun, secara rata-rata kuartal II-2025, harga ayam hidup masih turun 15% menjadi Rp 16.800 per kg, dibanding kuartal sebelumnya. Harga tersebut juga lebih rendah sebanyak 19% dari tahun lalu.
BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa pelemahan diproyeksikan berlanjut pada Juli 2025 bertepatan dengan masuknya bulan Suro, di mana harga biasanya turun sekitar 8% secara bulanan. Rata-rata harga ayam hidup selama bulan Suro tahun ini diperkirakan hanya Rp 16.200/kg, bahkan bisa menyentuh titik terendah Rp 13.400/kg.
Meski tekanan masih membayangi dalam waktu dekat, analis optimistis prospek laba emiten poultry akan membaik pada semester II-2025. Hal ini didorong oleh perkiraan penurunan impor grand parent stock (GPS), program Mandatori Bauran Gandum (MBG), dan stabilnya harga pakan ternak.
Baca Juga
Meski Harga Pupuk hingga Bea Ekspor CPO Naik, Saham Perkebunan Masih Menarik!
Harga jagung lokal diperkirakan bertahan di level Rp 5.600/kg. Sedangkan harga soybean meal (SBM) global diproyeksi stabil di US$ 324/ton. Pemerintah juga gencar menyerap jagung lokal untuk menjaga keseimbangan pasokan.
Di tengah peluang pergerakan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menempatkan saham CPIN sebagai pilihan teratas, karena valuasinya menarik, yaitu -1,7 standar deviasi dari rata-rata historis lima tahun. Selain itu, posisi kepemilikan asing yang masih rendah membuka ruang untuk akumulasi kembali ketika tekanan harga mereda.
BRI Danareksa Sekuritas juga memperkirakan bahwa investor lokal maupun asing akan mulai kembali masuk ke saham-saham poultry secara taktis pada kuartal III- 2025, seiring meredanya tekanan harga dan mulai naiknya permintaan.
Grafik Saham Unggas

