Obligasi dan Reksadana Direkomendasikan Hadapi Volatilitas Kuartal III-2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Memasuki kuartal III-2025, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama bagi pasar keuangan. Tensi dagang yang belum mereda, risiko stagflasi di Amerika Serikat (AS), serta ketidakjelasan arah suku bunga global membuat investor perlu menyusun strategi alokasi aset secara lebih hati-hati dan adaptif.
CEO PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Sander Parawira, menyampaikan bahwa tekanan inflasi, ketidakpastian moneter, serta kebijakan fiskal negara maju turut berdampak langsung ke negara berkembang seperti Indonesia. Oleh sebab itu, pendekatan investasi yang disiplin dan berbasis fundamental sangat diperlukan.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Bertahan di Atas 7.000, Simak Rekomendasi 3 Saham Energi Ini
“Pasar keuangan pada paruh kedua 2025 masih akan bergerak fluktuatif. Investor disarankan untuk menyeimbangkan portofolio dengan kombinasi aset defensif dan berisiko,” ujarnya, Senin (30/6/2025).
Ketidakpastian terkait arah kebijakan dagang Presiden Trump dan lonjakan risiko fiskal AS memicu aksi jual obligasi pemerintah AS, khususnya tenor panjang. Imbal hasil US Treasury (UST) 30 tahun naik signifikan menjadi 4,81% per 26 Juni 2025, dari 4,47% pada awal April.
Aksi jual tersebut turut menekan nilai tukar Dolar AS dan mendorong arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Berdasarkan data per 19 Juni 2025, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp29,89 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Secara year-to-date (YTD), akumulasi pembelian asing di pasar SBN mencapai Rp44,93 triliun, meskipun terjadi net sell sebesar Rp47,15 triliun di pasar saham.
Baca Juga
Tim Negosiasi Indonesia 'Standby' di AS Hadapi Perang Tarif, Ini 3 "Senjata" Andalannya
“Kondisi ini menunjukkan preferensi investor terhadap instrumen berisiko rendah dengan imbal hasil stabil,” kata Sander.
Sander menyarankan bahwa strategi jangka menengah berbasis aset penghasil pendapatan (income-generating assets) seperti obligasi pemerintah, obligasi korporasi, dan reksa dana pendapatan tetap (RDPT). Instrumen-instrumen ini cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat.
Untuk investor dengan profil risiko agresif, saham-saham domestik berfundamental kuat tetap menarik. Namun, analisis valuasi tetap krusial karena sejumlah sektor telah rebound dari posisi terendah.
Baca Juga
IHSG Melesat, tetapi Masih Galau? Reksa Dana Pasar Uang Bisa Jadi "Parkir Aman" Investasi
Selain itu, pendekatan quantitative finance, khususnya strategi mean reversion, juga layak dipertimbangkan. Strategi ini mengasumsikan bahwa harga aset akan kembali ke nilai wajarnya, sehingga saat terjadi koreksi tajam, peluang keuntungan lebih besar daripada risiko kerugian (asymmetric payoff).
“Investor perlu tenang dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan emosi. Strategi yang disiplin dan berbasis fundamental tetap menjadi kunci menghadapi pasar yang tidak pasti,” tutup Sander.

