IHSG Diprediksi Rebound Meski Dibayangi Konflik Timur Tengah, Saham BRPT, MBMA, dan ENRG Layak Dilirik
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (23/6/2025) ditutup melemah tajam sebanyak 199 poin atau 1,74% ke level 6.787,14. Bahkan, IHSG sempat terperosok ke titik terendah harian di level 6.745,14.
Penurunan tersebut melanjutkan pelemahan indeks pekan lalu lebih dari 3%. Penurunan kemarin dipicu atas aksi jual masif yang melanda pasar saham domestik terseret sentimen negative geopolitik global. Ketegangan meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir milik Iran. Aksi militer tersebut langsung memicu kekhawatiran akan meletusnya konflik berskala lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi Octa berpendapat, meski ada peluang rebound, penguatannya diperkirakan terbatas. Dalam situasi ini, banyak trader memanfaatkan volatilitas untuk strategi fast trading.
Baca Juga
IHSG Tergerus 1,74% dan Saham Emas-Migas Ini justru Tancap Gas, Apa Pemicunya?
“Ekspektasi awal pasar adalah koreksi lebih dari 4%, sehingga rebound teknikal bisa lebih besar. Namun tekanan jual masih tertahan, dan hanya terjadi pemulihan tipis,” ucap dia kepada investortrust.id Senin, (23/6/2025).
Selama tidak ada kabar negative baru dari global, menurut Reydi, khususnya konflik AS-Iran, IHSG berpotensi bergerak mendatar atau sedikit menguat dalam waktu dekat. Namun, jika muncul eskalasi baru, tekanan jual bisa kembali terjadi besok.
Penurunan kemarin juga dipicu ex-dividen untuk TINS, PTBA, dan ANTM. Ketiganya melemah sejak pembukaan, dengan PTBA menyentuh batas ARB. Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI juga turut tertekan, menyeret indeks lebih dalam bersama mayoritas sektor lainnya.
Pasar juga mengantisipasi respons Iran yang mengancam menutup Selat Hormuz, yang bisa mendorong lonjakan harga minyak, memicu inflasi, dan menunda potensi penurunan suku bunga global.
Baca Juga
“Investor global juga mencermati perkembangan di Tiongkok menjelang rapat Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, yang akan membahas isu anti-persaingan dan dampak tarif baru dari AS,” tutur Reydi.
Sependapat dengan Reydi, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang kian meningkat berpotensi memicu lonjakan harga minyak global, jika berlanjut menjadi perang terbuka.
Iran merupakan salah satu anggota penting OPEC dan memiliki kendali atas Selat Hormuz, jalur vital tempat lebih dari 20% pasokan minyak dunia melintas. “Jika konflik ini berkepanjangan dan mengganggu lalu lintas di kawasan tersebut, bukan tidak mungkin harga minyak dunia khususnya Brent melonjak ke kisaran US$90–100 per barel,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Senin, (23/6/2025).
Baca Juga
RUPSLB Bank Aladin Syariah Sepakat Ganti 1 Direksi dan 1 Komisaris
Bahkan, lanjut Hendra, dalam skenario terburuk, harga bisa menembus US$120, apabila eskalasi meluas ke kawasan Teluk secara regional dan menyeret negara-negara seperti Lebanon, Yaman, atau bahkan Arab Saudi. Peristiwa serangan ke fasilitas minyak Aramco pada 2019 yang memicu kenaikan harga lebih dari 20% dalam satu hari menjadi pembanding yang relevan atas risiko saat ini.
“Situasi tersebut tentu membawa dampak langsung ke pasar keuangan global, termasuk ke pasar saham Indonesia yang sudah menunjukkan gejala risk-off,” imbuhnya.
Saham Pilihan
Dalam kondisi seperti ini, sektor energi dan komoditas menjadi tumpuan utama para investor, karena potensi keuntungan dari naiknya harga minyak dan logam tambang jauh lebih besar dibanding risiko koreksi di sektor-sektor sensitif suku bunga dan biaya input.
“Saham-saham di sektor energi (seperti MEDC, PGAS, ELSA), tambang emas (MDKA, BRMS, PSAB), serta batubara (ADRO, ITMG) berpotensi menjadi penyeimbang portofolio saat pasar dilanda tekanan geopolitik dan kekhawatiran inflasi global,” bebernya.
Dari sisi strategi sektor dan pemilihan saham, beberapa emiten menarik untuk dicermati dalam waktu dekat. Menurut Hendra, saham BRPT berpeluang rebound dengan target kenaikan menuju Rp 1.700, seiring pemulihan industri petrokimia dan ekspansi di energi terbarukan. “Saham ini bisa menjadi proxy atas pemulihan siklikal yang didorong oleh harga minyak dan turunan kimianya,” jelas Hendra.
Baca Juga
Prabowo Gelontorkan Rp 43,6 T untuk Renovasi 2 Juta Rumah pada 2025, 1 Hunian Dapat Rp 21,8 Juta
Sementara itu, saham MBMA tetap menjadi bagian penting dari ekosistem hilirisasi nikel dan kendaraan listrik di Indonesia. Rekomendasi buy pada level saat ini cukup atraktif dengan target penguatan menuju Rp 450.
Tak kalah menarik, Hendra bilang saham ENRG sebagai emiten migas mid-cap menawarkan upside menarik di tengah kenaikan harga minyak dunia. Rekomendasi buy diarahkan dengan target jangka pendek ke level Rp 420, mencerminkan potensi apresiasi seiring sentimen positif sektor energi.

