Trump Minta Iran dan Israel Berdamai, Bitcoin Rebound Ke US$ 106.000
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) berhasil rebound hingga ke posisi US$ 106.000 saat harapan tensi geopolitik di Timur Tengah bisa mereda, bersamaan dengan spekulasi perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Padahal Bitcoin pada awal pekan sempat turun tajam di bawah US$ 100.000 akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap serangan langsung AS ke nuklir Iran.
Seperti diketahui, usai AS melakukan pengeboman atas tiga nuklir Iran, Iran mengonfirmasi telah menyerang balik pangkalan militer utama AS di Qatar. Serangan ini disebut sebagai balasan atas serangan AS terhadap fasilitas nuklirnya. Namun menariknya, Presiden AS Donald Trump menyatakan tak akan membalas peluncuran rudal Iran ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Senin (23/6/2025) malam waktu setempat. Ia justru mendorong Iran dan Israel berdamai selepas serangan tersebut.
Alhasil, para trader sekarang mempertimbangkan apakah Bitcoin dapat naik ke US$ 110.000 atau apakah risiko penurunan masih ada. Menilik data Coinmarketcap, Selasa (24/6/2025) pagi harga Bitcoin kembali mencetak rekor baru dengan menembus level US$ 105.342 atau menguat 4,29% dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini turut mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai US$ 2,09 triliun, tumbuh 4,31% dibandingkan hari sebelumnya.
Meski volume perdagangan harian tercatat turun 4,02% menjadi US$ 63,55 miliar, investor tetap menunjukkan minat tinggi terhadap aset kripto terbesar di dunia ini. Saat ini, total pasokan Bitcoin berada di angka 19,88 juta BTC dari maksimum suplai 21 juta BTC, dengan tingkat sirkulasi mencapai 100%.
Dalam grafik harian, pergerakan harga Bitcoin sempat menyentuh titik terendah di kisaran US$ 100.880 sebelum melesat tajam menuju posisi tertinggi harian di atas US$ 106.000, mencerminkan sentimen pasar yang positif. Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah optimisme pelaku pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat serta meningkatnya adopsi institusional terhadap Bitcoin sebagai aset lindung.
Di sisi lain Peristiwa ini menggarisbawahi sifat Bitcoin yang tidak stabil di tengah ketegangan global dan ketidakpastian kebijakan moneter, dengan pasar merespons perkembangan geopolitik dan ekonomi secara bersamaan.
Reli ini menyusul penurunan tajam harga Bitcoin sebelumnya karena konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung yang melibatkan negara-negara utama. Pergeseran pasar ini mencerminkan bagaimana Bitcoin bereaksi terhadap berita geopolitik. Ahli strategi yang berpengaruh telah mengomentari perubahan pasar ini, dengan mencatat volatilitas Bitcoin.
Diskusi gencatan senjata telah melibatkan para pemimpin politik utama dan membawa potensi stabilitas, yang menyebabkan spekulan menyesuaikan posisi. Selain itu, komentar dari para influencer seperti Lucas McCarthy menyoroti korelasi kuat Bitcoin dengan aset berisiko tradisional, yang memengaruhi pergerakannya.
Melansir Kanalcoin, Selasa (24/6/2025) pengamat pasar telah mengamati respons tangguh dari bursa mata uang kripto, yang dibuktikan dengan penyesuaian harga Bitcoin yang cepat. Wawasan dan pembaruan dari analis Bitcoin BTC_Hyper2 juga menjelaskan perilaku pasar ini.
Investor memandang potensi penurunan suku bunga Federal Reserve sebagai daya ungkit untuk investasi masa depan. Tren historis menunjukkan pergeseran kebijakan moneter yang besar sering kali mengakibatkan peningkatan volatilitas aset, menambah ketidakpastian bagi badan pengatur dan memengaruhi strategi perdagangan untuk mata uang kripto.
Baca Juga
AS Serang Lokasi Nuklir Iran, Bitcoin Sempat Jatuh ke Bawah US$ 100.000 Untuk Pertama Kali Sejak Mei
Ketegangan geopolitik masa lalu sering kali mendorong fluktuasi nilai Bitcoin. Selama krisis, Bitcoin telah berganti-ganti antara bertindak sebagai tempat berlindung yang aman dan aset berisiko. Pola seperti itu terbukti selama konflik sebelumnya di mana pergeseran moneter memengaruhi dinamika pasar Bitcoin.
Para ahli menyarankan perilaku Bitcoin saat ini mencerminkan saham teknologi yang berfluktuasi daripada lindung nilai investasi yang stabil. Dengan data on-chain yang mengungkapkan pola volatilitas, analis menyarankan posisi yang hati-hati sambil mempertimbangkan preseden historis dan prakiraan ekonomi untuk aset digital.
"Bitcoin masih berperilaku lebih seperti saham teknologi berisiko tinggi daripada lindung nilai geopolitik. Investor beralih ke dolar dan obligasi pemerintah, bukan aset digital," ucap Ahli Strategi di Chainform Capital Lucas McCarthy.
Sehari sebelumnya, pasar keuangan global kembali terguncang pasca Amerika Serikat melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir utama Iran. Presiden Donald Trump mengklaim telah terjadi kerusakan besar di fasilitas bawah tanah Iran, meski analisis independen dan citra satelit belum mendukung klaim tersebut.
Konflik ini mendorong volatilitas di pasar saham AS, di mana indeks S&P 500 futures dan indeks utama lainnya mengalami tekanan, seiring investor mengkhawatirkan risiko eskalasi yang lebih luas serta potensi dampak terhadap pasokan minyak global. Kekhawatiran ini diperkuat dengan melonjaknya harga minyak dan menguatnya dolar AS. Saham-saham sektor pertahanan dan energi cenderung mendapat perhatian lebih, sementara pasar obligasi menunjukkan pelebaran credit spread sebagai tanda peningkatan risiko.
Secara terpisah Analyst Reku Fahmi Almuttaqin menilai secara umum, baik pasar saham AS maupun kripto bergerak defensif dan berpotensi menjadi lebih sensitif terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah di tengah potensi eskalasi konflik yang bisa berdampak lebih luas pada sentimen risiko global.
Baca Juga
Harga Bitcoin Jatuh Usai Trump Serang Nuklir Iran, Pasar Bersiap Hadapi Volatilitas Tinggi
Kian Solid
Mampu bertahannya Bitcoin di level harga yang ada saat ini di tengah segala sentimen negatif dan ketidakpastian tersebut mengindikasikan kekuatan pasar yang semakin solid, kondisi yang dapat mendukung berlanjutnya reli yang ada pada siklus ini.
“Dengan tren yang ada tersebut, adanya perkembangan positif seperti inflasi yang tidak engalami kenaikan signifikan dan diturunkannya suku bunga The Fed pada September, dapat berpotensi memicu reli yang signifikan di pasar kripto. Apabila tren penurunan suku bunga berjalan sesuai rencana, dengan kembali dilakukannya penurunan baik pada bulan November atau Desember, sentimen positif yang ada berpotensi dapat berkembang ke sektor altcoin yang secara umum sejauh ini cenderung underperformed,” katanya dalam risetnya dikutip Selasa (24/6/2025).
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, investor pemula dapat mempertimbangkan strategi menabung rutin untuk mendapatkan harga rata-rata di tengah ketidakpastian yang ada saat ini.
“Sedangkan bagi para investor berpengalaman yang ingin memanfaatkan momentum untuk mendapatkan potensi keuntungan yang lebih optimal, mengadopsi strategi rotasi dengan memindahkan aset yang dimiliki secara berkala mengikuti setiap wave yang ada dan mengakumulasi aset-aset strategis di tengah potensi penurunan suku bunga di kuartal IV tahun ini, menjadi beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan,” kata Fahmi.

