Terbuka Peluang IHSG Rebound Hari Ini Usai Turun Dalam, Tiga Saham Ini Layak Dipantau
JAKARTA, ivestortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (20/6/2025), berpotensi memantul rebound hari ini setelah indikator stochastic menunjukkan oversold. Saham ENRG, MEDC, hingga MBMA layak dilirik.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, dari sisi sisi teknikal, IHSG hari ini menguji support kuat di area MA50 6.935. Namun indikator stochastic telah memasuki area oversold, sehingga terbuka potensi pemantulan teknikal. Jika support ini bertahan, rebound jangka pendek berpeluang terjadi dengan target resistance 7.175–7.240.
"Namun, jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi melanjutkan penurunan ke support berikutnya di 6.812. Untuk jangka pendek, area 6.935 menjadi penentu arah pasar, dengan outlook mingguan yang masih rentan volatilitas," Hendra saat dihubungi investortrust.id Kamis, (19/6/2025).
Baca Juga
Di tengah tekanan pasar, menurut Hendra, sektor energi dan komoditas justru menjadi oasis yang menyerap dana investor. Saham-saham berbasis sumber daya alam mendapat limpahan sentimen positif dari lonjakan harga minyak, gas, dan emas.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bahkan menjadi top gainer dengan kenaikan impresif 6,59%, seiring meningkatnya minat investor terhadap emiten gas domestik. "Dengan eksposur langsung ke blok Kangean dan Lapangan Malacca, ENRG dinilai akan langsung menikmati manfaat dari lonjakan harga energi global. Kami merekomendasikan buy untuk ENRG dengan target harga jangka menengah di Rp 400," terangnya.
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga masuk radar akumulasi dengan potensi besar dari sisi momentum harga minyak dan proyek ekspansi LNG yang tengah digarap. Lonjakan harga minyak global di atas US$ 77 per barel membuka ruang perbaikan margin usaha dan cash flow perseroan.
Dengan sinergi sektor migas dan energi baru terbarukan (via Medco Power), MEDC memiliki fundamental solid dan arah bisnis yang sejalan dengan transformasi energi jangka panjang. Hendra menargetkan harga MEDC direvisi naik ke level Rp 1.600 dengan outlook positif hingga akhir tahun.
Baca Juga
Israel Perintahkan Serangan Lebih Intensif ke Iran, Harga Minyak Melonjak
Di sektor mineral strategis, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) layak dicermati karena merupakan bagian dari ekosistem industri baterai kendaraan listrik nasional.
"Di tengah tren elektrifikasi global dan peningkatan permintaan nikel kelas 1 untuk baterai EV, MBMA memiliki posisi strategis melalui proyek HPAL dan kerja sama dengan mitra global seperti CATL dan Tsingshan. Dengan valuasi yang masih atraktif serta prospek pertumbuhan berbasis permintaan baterai dan nikel, MBMA direkomendasikan buy dengan target harga Rp 500," beber dia.
Tekanan IHSG
Kemarin, IHSG ditutup anjlok 139,15 poin (1,96%) ke level 6.968,64. Hal ini mencatatkan koreksi harian terdalam dalam sebulan terakhir dan kembali menembus di bawah level psikologis 7.000.
Hendra Wardana mengatakan, aksi jual besar-besaran kemarin dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan kekhawatiran domestik yang saling menumpuk. Sementara dari sisi global, pasar diguncang oleh eskalasi konflik Iran-Israel, menyusul laporan serangan rudal Iran ke rumah sakit militer di Israel.
Baca Juga
IHSG Jebol ke Bawah 7.000, Level Ini Mengintai Perdagangan Selanjutnya
"Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak pada melonjaknya harga minyak dan emas, serta memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi stagflasi dan disrupsi jalur distribusi energi internasional. Bursa-bursa Asia pun mengalami aksi koreksi serempak, dengan Hang Seng terkoreksi hampir 2%," kata Hendra.
Sementara dari dalam negeri, pasar dibuat semakin resah setelah data pendapatan negara per Mei 2025 hanya mencapai 33,1% dari target APBN capaian yang bahkan lebih buruk dibandingkan periode pandemi.
Angka ini, ujar Hendra, menimbulkan kekhawatiran serius tentang potensi lonjakan defisit fiskal dan keberlanjutan pembiayaan program-program ambisius pemerintahan baru, mulai dari makan siang gratis, subsidi pupuk dan BBM, hingga pembangunan IKN.
"Minimnya kejelasan dan transparansi arah fiskal membuat pelaku pasar mengantisipasi risiko krisis fiskal terselubung, mendorong aksi jual agresif pada sektor-sektor defensif seperti perbankan dan telekomunikasi," tuturnya.

