Menanti Keputusan The Fed, Bitcoin Siap Cetak ‘All Time High’?
JAKARTA, investortrust.id – Bitcoin (BTC) kembali mencapai level US$ 108.000 pada awal pekan ini, didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Muncul laporan bahwa Iran terbuka untuk bernegosiasi dengan AS dan Israel. Jika BTC mampu mengkonfirmasi US$ 110.000 sebagai level support baru, hal itu bisa menjadi pijakan untuk menuju titik all-time-high (ATH) baru.
Mengutip data real time coinmarketcap.com, Bitcoin pada Selasa (17/6/2025) pukul 14:38 WIB diperdagangkan pada harga US$ 106.668, turun 0,36% dalam 24 jam terakhir. Namun pagi tadi pukul 08:00 WIB, BTC masih terapresiasi 1,72% dalam 24 jam menjadi US$107.250, mengikuti pemulihan pasar saham Amerika Serikat.
“Bitcoin masih bertahan solid di atas level psikologis US$ 100.000. Ini menandakan minat beli jangka menengah dari institusi tetap kuat, bahkan di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian makro,” jelas Financial Expert Ajaib Panji Yudha melalui surat elektronik, Selasa (17/6/2025).
Dari sisi arus dana, minat institusi terhadap Bitcoin terlihat jelas melalui aliran masuk yang signifikan pada ETF spot Bitcoin. Berdasarkan data SoSoValue, total inflow ke aset Bitcoin sepanjang periode 9 hingga 12 Juni 2025 mencapai US$ 1,07 miliar.
Rinciannya, pada 9 Juni tercatat inflow sebesar US$ 386,27 juta, disusul 10 Juni sebesar US$ 431,12 juta, 11 Juni sebesar US$ 164,57 juta, dan 12 Juni sebesar US$ 86,31 juta.
“Konsistensi arus masuk ini memperkuat narasi akumulasi jangka menengah, sejalan dengan langkah MicroStrategy yang kembali membeli 10.100 BTC (senilai sekitar US$ 1,05 miliar), meningkatkan total kepemilikannya menjadi 592.100 BTC dengan harga beli rata-rata US$ 70.700,” sambung Panji.
Baca Juga
BTC Rebound, Konflik Israel-Iran Apakah Membuat Bitcoin Berisiko?
Perusahaan Jepang Metaplanet juga menembus kepemilikan 10.000 BTC, sementara Trump Media mulai masuk ke sektor kripto dengan rencana peluncuran ETF berbasis Bitcoin dan Ethereum .
Pekan ini, fokus investor beralih pada tiga indikator makro penting yang akan dirilis. Data retail sales AS diprediksi turun 0,6% dari April ke Mei. Jika terealisasi, hal ini dapat mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Sedangkan data initial jobless claims diperkirakan naik ke 250.000, yang mencerminkan melemahnya pasar tenaga kerja AS.
Keputusan Suku Bunga FOMC pada 19 Juni pukul 01.00 WIB pun diperkirakan memiliki peluang lebih dari 99% bahwa suku bunga tetap di 4,25%–4,5%. Namun, narasi dovish akan menjadi katalis positif bagi aset berisiko seperti kripto.
“The Fed telah menunda pemangkasan suku bunga dalam beberapa pertemuan terakhir, tetapi adanya kemungkinan pemotongan 25 bps pada September 2025. Di tengah ketidakpastian ini, Bitcoin semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai terhadap tekanan makro,” kata Panji.
Baca Juga
Lampaui Meta dan Tesla, Bitcoin (BTC) Raih Posisi Aset Terbesar ke-5 Dunia
Prospek Harga dan Level Kunci
Secara teknikal, Bitcoin kini berada di titik krusial. Breakout meyakinkan di atas US$ 110.000 dapat membuka jalan menuju all time high baru, dengan target jangka pendek di kisaran US$ 115.000. Sebaliknya, kegagalan menembus level ini dapat memicu aksi ambil untung, dengan zona support terdekat berada di harga US$ 106.000.
“Jika BTC mampu mengkonfirmasi US$ 110.000 sebagai level support baru, ini bisa menjadi pijakan untuk reli berikutnya menuju rekor tertinggi baru,” tutup Panji.

