Lebih dari Sekadar Investasi, Kini Kripto Jadi Alat Transaksi bagi 55 Juta Orang di AS
JAKARTA, investortrust.id - Aset kripto di Amerika Serikat (AS) kini bukan lagi sekadar instrumen investasi atau komoditas spekulatif. Laporan bertajuk ‘2025 State of Crypto’ yang dirilis oleh National Cryptocurrency Association (NCA) mengungkap, lebih dari 55 juta orang dewasa di Negeri Paman Sam tersebut kini menggunakan aset digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, mulai dari berbelanja, menabung, hingga kirim uang untuk keluarga.
Laporan tersebut juga mengungkapkan jika adopsi kripto saat ini sudah lebih meluas, bahkan merambah ke pekerja konstruksi, seniman, bahkan nenek rumah tangga. Survei ini dilakukan Harris Poll terhadap 10.000 pemilik kripto dari total 54.000 responden dewasa.
“Kripto adalah untuk semua orang. Bagi banyak orang, ini adalah cara yang lebih baik untuk melakukan apa yang sudah mereka lakukan, entah itu berbelanja, membayar tagihan, atau mengirim uang ke orang-orang terkasih,” ujar Wakil Presiden Komunikasi NCA Ali Tager, dilansir dari CoinTelegraph, Senin (16/6/2026).
Baca Juga
Dalam laporan disebutkan, 21% orang dewasa di AS kin sudah memiliki kripto. Dari jumlah tersebut, 39% menggunakannya untuk mengirim uang ke keluarga yang menjadi alternatif baru terhadap saluran remitansi tradisional. Penggunaan ini dilakukan bukan hanya sekali, 22% responden melaporkan bertransaksi dengan kripto setiap minggu.
Adopsi kripto menunjukkan tren yang semakin inklusif. Sebanyak 31% dari pemilik kripto adalah perempuan, dan hampir 17 juta perempuan di AS kini memiliki aset digital. Meski 67% pemilik berusia di bawah 45 tahun, hampir 9 juta diantaranya berusia di atas 55 tahun, menantang stereotip bahwa kripto hanya milik generasi muda yang paham teknologi.
“Kami mendengar cerita dari seorang peternak sapi yang melacak daging menggunakan blockchain, hingga ibu tunggal yang mempelajari perdagangan kripto demi kebebasan finansial,” kata Ali.
Baca Juga
Selain itu, 45% pemegang kripto melihatnya sebagai alat untuk inklusi keuangan dan pengentasan kemiskinan, sementara 38% menyebut peran kripto dalam mendorong inovasi teknologi dan ekonomi yang berkelanjutan.
Walau optimisme tinggi, kekhawatiran soal keamanan tetap menjadi sorotan. Sebanyak 75% pemegang kripto mengaku khawatir terhadap potensi penipuan, meskipun hanya 3% yang melaporkan pernah menjadi korban.
Dalam Laporan Chainanalysis, kejahatan berbasis kripto memang meningkat, namun didominasi oleh kasus besar seperti ransomware atau aktivitas internet gelap.
Menariknya, 81% pengguna menyatakan ingin mendapatkan lebih banyak edukasi tentang kripto, baik terkait strategi investasi, dasar teknologi, hingga dampak perpajakan. “Orang-orang haus akan informasi yang kredibel, bukan sensasi dari influencer,” ucap Ali.
soal regulasi, laporan NCA mencatat bahwa 64% pemegang kripto mendukung intervensi pemerintah yang bijak, dan 73% berharap AS menjadi pemimpin global dalam sektor ini. Namun, 67% juga waswas bahwa regulasi yang terlalu ketat dapat menghambat inovasi.
Situasi ini mencerminkan dinamika kebijakan kripto di era kepemimpinan Donald Trump. Dukungan dari Menteri Keuangan Scott Bessent dan legislator seperti Senator Cynthia Lummis memperlihatkan adanya titik balik menuju pendekatan yang lebih ramah terhadap kripto di Washington.

