Pendapatan Tetap Primadona, Cek Potensi Cuan 4 Jenis Reksa Dana di Tahun Pemilu
JAKARTA, investortrust.id - Reksa dana pendapatan tetap diyakini akan menjadi primadona dan berpotensi mencetak return lebih besar dibanding jenis reksa dana lain pada tahun 2024.
Vice President PT Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan, pertumbuhan kinerja reksa daan pendapatanan tetap didukung oleh peluang pemangkasan suku bunga yang akan dilakukan bank sentral tahun ini.
Terlebih, berkaca pada tahun lalu ketika ekonomi sedang stabil, pendapatan tetap menjadi nomor 1 dari semua jenis reksa dana.
“Tahun ini, itu justru banyak analis dan juga kami melihatnya bahwa suku bunga itu bisa turun. Kalau suku bunga sedang turun, pasti pendapatan tetap jadi primadona,” papar Wawan Hendrayana disela acara Best Stock Awards 2024, yang digelar oleh Investortrust dan Infovesta, di Artotel Mangkuluhur Jakarta, Kamis (25/1/2024) malam.
Baca Juga
Hadapi Bonus Demografi, Ketua Asosiasi Emiten Wanti-Wanti Masalah Kualitas SDM
Reksa dana pendapatan tetap sendiri, yang alokasi investasinya minimal 80% pada efek pendapatan tetap seperti surat utang berjangka lebih dari 1 tahun, diproyeksi dapat memberikan return hingga 6-7% pada tahun 2024.
Sedangkan reksa dana money market (pasar uang), diproyeksi dapat mencetak return di angka 4%, dan reksa dana campuran ada di angka 5%-6% untuk return pada tahun 2024.
“Kalau money market, karena saat ini justru mungkin bisa lebih tinggi dari tahun lalu, karena basis suku bunga tahun ini lebih tinggi, meskipun nanti bisa ada potensi turun. Tapi proyeksi kita money market sekitar 4% net, kalau campuran ya in between lah, mungkin 5-6%,” tutur Wawan.
Baca Juga
Di sisi lain, mengingat 2024 adalah tahun politik, yang mana beberapa negara pusat perekonomian dunia, seperti Amerika Serikat juga melakukan pemilihan umum, maka reksa dana saham juga berpotensi naik seiring dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang positif.
Potensi penguatan pasar saham di tahun pemilu mengacu pada kinerja IHSG pada momen pemilu tahun 2014 dan tahun 2019.
“Cenderung wait and see biasanya sih (untuk pasar saham). Jadi memang potensinya tetap menarik. Apalagi kalau kita belikan long term. Tapi kalau spesifik tahun ini, mungkin relatif akan volatil,” tegasnya.

