Akhir Mei Harga Kripto Cenderung Lesu, Bagaimana Geraknya di Juni?
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin telah mengalami reli spektakuler selama sebulan terakhir, mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH) baru di US$ 111.980. Lonjakan harga yang signifikan ini memicu pertanyaan menyangkut keberlanjutan momentum Bitcoin menuju bulan Juni.
Sementara menilik data Coinmarketcap, Jumat (30/5/2025) pukul 06.00 WIB pasar kripto mayoritas berada di zona merah. Bitcoin terpantau turun 1,39% dalam 24 jam terakhir ke US$ 105.959 dan ambles 4,62% dalam sepekan terakhir. Ethereum, XRP dan BNB juga masing-masing nampak melemah.
Beberapa investor masih optimistis akan reli lebih lanjut. Namun, sebagian lainnya mulai bertanya-tanya apakah harga akan mendingin ataukah para holder Bitcoin akan mengambil langkah lebih hati-hati.
Sentimen pasar Bitcoin terkini ditopang oleh akumulasi yang solid. Saldo Bitcoin di crypto exchange telah menyusut sebanyak 66.975 BTC (senilai lebih dari US$ 7,2 miliar). Ini mencerminkan bahwa investor mulai memindahkan kepemilikan mereka dari exchange ke wallet pribadi.
Adapun aksi turun signifikan dalam pasokan Bitcoin di crypto exchange mengindikasikan tingkat kepercayaan yang meningkat atas aset ini serta keyakinan akan potensi apresiasi harga lebih lanjut.
Baca Juga
Laju Bitcoin Jelang Juni 2025, Bisa Menguat Atau Terkoreksi? Ini Analisanya
Akumulasi ini sebagian terpicu oleh FOMO (fear of missing out), karena investor baru mulai masuk ke pasar. Namun, hal ini juga didukung oleh keyakinan yang makin mengakar akan potensi jangka panjang Bitcoin. Meski demikian, Juan Pellicer, VP Riset di Sentora menyoroti bahwa lonjakan harga Bitcoin tak semata karena akumulasi saja.
“Keberanian investor mengambil risiko musim semi ini dipengaruhi oleh arus makro yang bergerak serempak ke arah kondisi keuangan yang lebih longgar. Inflasi terus melandai, pelonggaran kebijakan bank sentral kembali jadi topik utama, yield riil dan nilai dolar sedang tergelincir, likuiditas global makin meluas, dan keran fiskal masih terbuka lebar. Semua kekuatan ini mendorong seluruh aset berisiko, termasuk Bitcoin. Inilah alasan mengapa harga BTC sangat berkorelasi dengan S&P 500 sepanjang Mei,” ujar Pellicer dilansir dari Beincrypto, Jumat (30/5/2025).
Data on-chain memperlihatkan indikator penting yang menyiratkan bahwa momentum makro Bitcoin masih bertahan kuat. Trader Realized Price dan Profit/Loss Margin on-chain sedang melonjak, menandakan bahwa investor Bitcoin, terutama mereka yang membeli dalam rentang 1 hingga 3 bulan lalu tengah duduk di atas profit tak terealisasi yang signifikan.
Baca Juga
JD Vance Guncang Konferensi Bitcoin 2025, Apa Saja yang Dikatakannya?
Data ini membantu membaca perilaku investor, dan menunjukkan bahwa banyak dari mereka masih memilih menahan posisi dengan harapan harga akan terus naik.
Kepala Riset di CryptoQuant Julio Moreno pun menyoroti bagaimana profit yang meningkat di antara para holder jangka pendek bisa jadi ancaman bagi Bitcoin.
“Dalam jangka pendek, mungkin akan muncul aksi ambil untung dari para trader karena margin profit tak terealisasi mereka mendekati level panas, yaitu sekitar 40%. Lihatlah grafik di mana kami memperkirakan margin profit on-chain dari para trader Bitcoin mencapai 31% dalam beberapa hari terakhir (area ungu),” ucap Moreno.
Harga Bitcoin terkerek naik 14% sepanjang Mei dan berhasil mencetak rekor tertinggi baru di US$ 111.980. Saat ini, Bitcoin bertengger di level US$ 108.258 dan tengah menguji resistance di kisaran US$ 110.000. Beberapa hari ke depan akan sangat menentukan apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentumnya.

