Kilau Emas Menuju US$ 4.000 Akibat Ancaman Geopolitik dan Kebijakan Moneter
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas dunia melonjak tajam hingga menembus US$ 3.400 per troy ounce pada April 2025. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sementara di dalam negeri, harga emas batangan Antam juga ikut terbang, menembus Rp 2 juta per gram, atau naik lebih dari 31% sejak awal tahun.
Riset Kiwoom Sekuritas menunjukkan kenaikan ini bukan sekadar lonjakan musiman atau efek euforia sesaat. Ini adalah hasil dari perpaduan faktor fundamental yang solid, tekanan makroekonomi global, serta sentimen pasar yang semakin waspada, namun tetap mencari peluang lindung nilai di tengah ketidakpastian yang tinggi belakangan ini.
“Bahkan, beberapa lembaga keuangan besar bahkan memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 4.000 per troy ounce dalam waktu dekat,” tulis riset tersebut dikutip Kamis, (24/4/2025).
Lonjakan harga ini tidak hanya dipicu oleh faktor teknikal pasar, tetapi juga oleh kondisi geopolitik yang memanas, kebijakan moneter global yang lebih dovish (sekalipun di bawah tekanan terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap Fed Chairman Jerome Powell), serta demand yang meningkat dari negara-negara Asia dan bank sentral dunia.
Selain itu, analis Kiwoom Sekuritas menganalisis lebih mendalam mengenai proyeksi harga emas ke depan, di mana ketegangan geopolitik di berbagai wilayah, terutama di Timur Tengah (Iran-Israel), Ukraina, dan potensi ketegangan Taiwan, memicu flight to safety yang memperkuat permintaan emas.
Baca Juga
“Investor yang resah mencari logam mulia sebagai pelindung kekayaan mereka dari ancaman risiko global. Dalam situasi ini, emas berfungsi sebagai hedging terhadap potensi bencana sistemik atau black swan events,” urainya.
Dengan ketidakpastian ini, banyak analis mengindikasikan bahwa harga emas bisa terus melonjak seiring dengan meningkatnya permintaan safe haven.
Tak hanya itu, kebijakan moneter di seluruh dunia kini memasuki fase dovish, dengan bank-bank sentral besar seperti Federal Reserve, ECB, dan Bos memperlambat laju pengetatan mereka. Inflasi memang mulai mereda, namun ekonomi global menunjukkan tanda-tanda kehilangan tenaga.
“Beberapa lembaga, seperti CME FedWatch, menunjukkan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed lebih dari 70% baru terjadi pada semester I-2025,” jelasnya.
Pandangan ini lebih intens dengan perkembangan terbaru dari White House, di mana Presiden AS Donald Trump berani memberikan sindiran kepada Fed Chairman Jerome Powell sebagai Mr. Too Late, untuk mendorong Powell segera menurunkan suku bunga (mengikuti seruan Trump sejak baru terpilih di Pilpres AS tahun lalu).
Baca Juga
Fungsi US Treasury sebagai 'Safe Haven' Mulai Meluntur, Apa Pasal?
“Menurunnya suku bunga riil akan mempengaruhi nilai dolar AS, yang pada gilirannya memberikan keuntungan bagi harga emas yang lebih tinggi,” ulasnya.
Sebagaimana diketahui, emas sangat sensitif terhadap real yield (imbal hasil riil), dan ketika yield obligasi riil menurun atau negatif, emas menjadi pilihan investasi yang lebih menarik.
Kemudian, di negara-negara Asia khususnya China dan India, menunjukkan peningkatan signifikan dalam permintaan emas fisik, baik oleh investor ritel maupun institusi. Di China, emas telah menjadi pilihan utama bagi masyarakat kelas menengah, bersaing dengan properti dan saham. Momentum musiman, seperti pernikahan di India, juga mendorong permintaan emas secara musiman.
“Selain itu, pengembangan investasi emas digital melalui MIND ID dan Brankas LM memberikan akses lebih luas bagi generasi muda dan kelas menengah urban untuk berinvestasi emas, mengubah tren ini menjadi potensi struktural dalam akumulasi kekayaan masyarakat Asia,” tulis riset tersebut.
Lembaga-lembaga keangan besar, termasuk Goldman Sachs dan UBS, juga memberikan proyeksi harga emas yang sangat bullish. Adapun Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 4.000 per ounce pada pertengahan 2026, dengan target US$ 3.700 pada akhir 2025. UBS lebih konservatif dengan proyeksi harga emas mencapai US$ 3.500 per ounce pada Desember 2025.
“Kedua lembaga tersebut didorong oleh permintaan bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan kekhawatiran resesi yang menjadi pendorong utama bagi emas sebagai pilihan investasi,” ungkapnya.

