Performa Saham Perbankan Melesat Dalam Sepekan, Ketahui Sejumlah Faktor Pendorong Ini
JAKARTA, investortrust.id - Dalam sepekan terakhir, saham-saham perbankan, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), naik signifikan hingga turut mengerek indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ke zona hijau.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai salah satu pemicunya adalah jadwal pembagian dividen tunai dari bank-bank tersebut yang memang kerap menjadi daya tarik investor untuk mengoleksi saham menjelang cum date.
“Namun, lonjakan harga tidak semata didorong oleh dividen. Sentimen besar datang dari potensi aliran dana jumbo dari institusi domestik strategis,” kata Hendra kepada investortrust.id Kamis, (24/4/2025).
Baca Juga
Saham Bank Melesat Dipimpin BRIS dalam 3 Pekan, Ternyata Target Harga masih Tinggi
Menurut Hendra, Danantara Indonesia, sovereign wealth fund nasional, berpotensi menyalurkan sebagian dari dividen jumbo senilai Rp 59,1 triliun yang diterima dari bank-bank BUMN ke pasar saham domestik sebagai bagian dari diversifikasi portofolio jangka panjang.
Di saat yang sama, BPJS Ketenagakerjaan juga tengah merancang peningkatan alokasi dana ke instrumen saham dari 10% menjadi 20% dalam tiga tahun ke depan, dengan estimasi aliran dana sebesar Rp 25 triliun per tahun. “Jika realisasi dua arus dana besar ini terjadi secara beriringan, maka kekuatan dana domestik akan menjadi bantalan solid bagi pasar saham Indonesia di tengah potensi tekanan eksternal,” papar Hendra.
Selain itu, penguatan IHSG didorong oleh peningkatan bobot saham-saham perbankan dalam indeks. BBCA, BBRI, dan BMRI, merupakan konstituen utama IHSG dengan kapitalisasi pasar terbesar, sehingga setiap kenaikan harga pada saham-saham tersebut langsung memberi dampak signifikan terhadap pergerakan indeks.
Ditambah lagi, rekomendasi terbaru dari bank investasi global UBS yang menaikkan status pasar saham Indonesia menjadi 'overweight' semakin menambah daya tarik investor asing terhadap pasar domestik. UBS menilai valuasi saham di Indonesia saat ini sangat menarik, mendekati level terendah saat pandemi COVID-19, dan ditopang oleh kondisi makro yang stabil.
“Dalam pandangan UBS, pasar Indonesia kini lebih atraktif dibandingkan India yang dinaikkan ke status netral, dan lebih defensif dibandingkan pasar Hong Kong yang justru diturunkan karena risiko perdagangan global,” bebernya.
Rekomendasi Saham Bank
Kendati demikian, IHSG pada perdagangan Kamis, (24/4/2025) justru ditutup melemah tipis sebesar 0,32% ke level 6.613,48 setelah gagal menembus resistance di area 6.640–6.707. Tekanan terutama datang dari aksi ambil untung di saham-saham bank besar seperti BBCA dan BBRI.
“Secara teknikal, IHSG masih memiliki support kuat di kisaran 6.436 hingga 6.544, yang jika tertembus bisa membuka peluang penutupan gap lama di 6.092. Namun, selama bertahan di atas support tersebut, arah jangka menengah indeks masih positif, apalagi jika aliran dana dari institusi domestik mulai mengalir secara nyata dalam waktu dekat,” tuturnya.
Baca Juga
Saham BTN (BBTN) Berjaya Kembali ke Atas Rp 1.000, Sejumlah Sentimen Ini Jadi Penopang
Hendra melihat prospek sektor perbankan, rekomendasi akumulasi beli (buy on weakness) masih berlaku untuk saham-saham bigbank. Saham BBRI direkomendasikan beli di area Rp 3.730 dengan target jangka pendek di Rp 3.930 dan jangka menengah di Rp 4.350, seiring pertumbuhan kredit UMKM yang kuat.
“Sementara saham BMRI menarik dibeli di kisaran Rp 4.850 dengan target Rp 5.250 hingga Rp 5.550, didukung oleh ekspansi digital dan peran strategis dalam pembiayaan proyek nasional,” terang dia.
Sedangkan saham BBTN direkomendasikan beli di rentang Rp 980 - Rp 990 dengan target Rp 1.110 - Rp 1.200, sejalan dengan ekspektasi peningkatan pembiayaan perumahan rakyat. Saham BBNI layak dikoleksi di level Rp 4.150 dengan potensi kenaikan ke Rp 4.450 dan Rp 4.880, didukung oleh strategi ekspansi korporasi dan peningkatan efisiensi.
“Sementara BBCA tetap menjadi pilihan utama investor jangka panjang karena fundamental yang sangat solid dan efisiensi tinggi, dengan titik beli di Rp 8.325 dan target kenaikan hingga Rp 9.900,” ungkapnya.
Dengan berbagai katalis positif, dari arus dana domestik yang besar, dukungan kebijakan buyback OJK, hingga kepercayaan institusi global, pasar saham Indonesia tengah memasuki fase yang sangat strategis untuk re-rating valuasi. “Momentum ini dapat menjadi peluang emas bagi investor yang siap menangkap potensi jangka menengah hingga panjang, terutama di sektor perbankan yang menjadi tulang punggung pemulihan ekonomi nasional,” tandas dia.

