Tiga Saham Emiten Bakrie Bangkit, Bahkan VKTR dan ALII Cetak Rekor Baru
JAKARTA, investortrust.id – Tiga saham emiten grup Bakrie ini cetak lompatan harga sepanjang perdagangan saham sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/2/2024). Bahkan, saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) melesat ke level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH).
Lompatan saham perusahaan grup Bakrie lainnya juga dicatatkan saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) bangkit dari level Rp 50 setelah bertengger di harga tersebut sejak Agustus 2023.
Baca Juga
Anindya Bakrie Buka-bukaan soal Potensi Pasar Kendaraan Listrik yang Digarap VKTR
Data BEI mencatat, saham VKTR melesat ke level tertinggi baru sepanjang masa setelah menguat Rp 26 (14,77%) menjadi Rp 202. Saham produsen bus dan truk listrik ini bergerak dalam rentang Rp 171-206 per saham.
Lompatan harga ke level tertinggi baru juga dicatatkan saham ALII setelah berhasil menguat Rp 55 (6,75%) menjadi Rp 870. Saham ini bergerak dalam retnang Rp 725-895 sepanjang sesi I.
Baca Juga
Dengan harga penutupan Rp 870, saham emiten pengangkutan batu bara ini telah berhasil melesat 219,85% dari level Rp 272 menjadi Rp 870 hanya dalam 10 hari transaksi di BEI.
BNBR Bangkit
Sementara itu, saham BNBR berhasil melesat Rp 5 (10%) menjadi Rp 55 pada penutupan perdagangan sesi I. Saham induk usaha grup Bakrie ini bergerak dalam rentang Rp 50-57 sepanjang sesi berlangsung.
Dengan pengautan tersebut, saham BNBR bangkit dari tidur panjang sejak Agustus 2023 atau dari level Rp 50 per saham selama berbulan-bulan ini. Lompatan harga tersebut menjadikan kapitalisasi saham BNBR meningkat menjadi Rp 1,21 triliun.
Baca Juga
Restrukturisasi Berlanjut, Bakrie & Brothers (BNBR) Mulai Menuai Hasil
Penguatan tiga saham emiten grup Bakrie tersebut berbanding terbalik dengan Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Jumat (23/2/2024), ditutup anjlok 64,4 poin (0,88%) menjadi 7.275,24. IHSG bergerak dalam rentang 7.273,01-7.342,59 dengan nilai transaksi Rp 4,22 triliun.
Penurunan indeks dipicu koreksi mayoritas sektor saham, seperti saham sektor keuangan 1,16%, sektor konsumer non primer 0,77%, sektor kesehatan 0,55%, sektor properti 0,46%, dan sektor industry 0,44. Sebaliknya penguatan hanya melanda saham sektor teknologi 0,20%.

