Harga Emas Tembus Rekor Tertinggi, Emiten Ini Bakal Berkah
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi, melampaui US$ 3.290 per troy ounce, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat perang dagang Amerika Serikat dan China, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Sejumlah emiten seperti ANTM, MDKA, ARCI, dan HRTA bakal panen dan mendapat berkah.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot tercatat naik 1,7% menjadi US$ 3.282,88 per troy ounce pada pukul 12.00 WIB. Sementara itu, kontrak berjangka emas di AS juga turut mengalami penguatan sebesar 1,8% menjadi US$ 3.299,60.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana berpandangan, kenaikan tajam harga emas ini memicu rotasi portofolio investor global ke aset safe haven, termasuk logam mulia, yang secara langsung menguntungkan emiten tambang emas di Indonesia.
Emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) diproyeksikan akan mencatatkan peningkatan kinerja keuangan pada kuartal II dan III-2025
“Karena harga jual rata-rata (ASP) emas yang lebih tinggi akan mengerek pendapatan dan margin laba bersih,” ucap Hendra kepada investortrust.id Kamis, (17/4/2025).
Menurut Hendra, ANTM sebagai bagian dari holding MIND ID, memiliki prospek kuat karena portofolio komoditasnya yang terdiversifikasi serta eksistensinya sebagai produsen emas batangan terbesar nasional melalui logam mulia. Selain itu, BRMS juga berpeluang mencatat lonjakan laba bersih seiring optimalisasi produksi di Tambang Poboya dan Palu yang pada 2025 ditargetkan menghasilkan lebih dari 15 ribu ons emas per kuartal.
“Sementara, MDKA meski masih dalam fase investasi besar untuk proyek Tujuh Bukit dan Pani, tetap menjadi incaran investor spekulatif berkat cadangan emasnya yang besar dan ekspektasi valuasi masa depan,” tutur Hendra.
Sedangkan ARCI, yang fokus di Kalimantan Tengah dengan struktur biaya produksi yang kompetitif, juga mencatatkan fundamental yang solid untuk jangka pendek, terutama karena leverage terhadap harga emas sangat besar.
“Untuk PSAB, emiten emas dengan kepemilikan aset tambang besar di Martabe, diperkirakan akan mengalami re-rating valuasi karena eksposurnya terhadap harga emas global dan potensi konsolidasi struktur modal,” papar Hendra.
Baca Juga
HRTA, meskipun lebih berfokus pada manufaktur dan perhiasan emas, akan diuntungkan dari peningkatan nilai inventori serta penjualan domestik yang tetap tinggi di tengah konsumsi yang kuat.
“Emiten seperti UNTR melalui anak usahanya PT Sumbawa Juta Raya juga memiliki eksposur terhadap tambang emas, namun kontribusinya terhadap total pendapatan masih kecil dibandingkan sektor alat berat dan batu bara,” ujarnya.
Secara umum, kata Hendra, kombinasi dari peningkatan harga jual, produksi yang membaik, serta efisiensi operasional akan memperkuat kinerja keuangan emiten-emiten emas sepanjang 2025, bahkan bisa mendorong revisi naik konsensus laba oleh analis.
“Namun, di balik euforia harga emas, terdapat sejumlah tantangan yang tetap harus dicermati investor. Ketergantungan emiten tambang terhadap harga emas global membuat mereka rentan terhadap volatilitas apabila tensi geopolitik mereda atau arah kebijakan suku bunga berubah,” tuturnya.
Baca Juga
Ada Faktor Bank Sentral Negara BRICS di Balik Melonjaknya Harga Emas
Selain itu, beberapa emiten seperti MDKA masih memiliki struktur utang tinggi dan arus kas operasional yang ketat, sehingga sensitivitas terhadap biaya pendanaan tetap tinggi. Hendra berujar tekanan dari sisi capex, biaya eksplorasi, dan risiko lingkungan juga bisa menimbulkan tekanan tambahan, khususnya bagi perusahaan yang sedang dalam ekspansi.
Dari sisi makro, kenaikan harga saham-saham emas berkontribusi positif terhadap IHSG melalui sektor tambang dan bahan baku, namun efeknya cenderung terbatas secara agregat karena bobot emiten emas di indeks masih relatif kecil dibandingkan sektor perbankan dan konsumer. “Meski demikian, dalam konteks rotasi sektoral, sektor emas berpotensi menjadi pelarian utama dana di tengah meningkatnya aversi risiko pasar,” ungkapnya.
Oleh karena itu, saham-saham seperti ANTM dengan target harga Rp 2.200, BRMS dengan target harga Rp 412, PSAB dengan target harga Rp 358 dan ARCI dengan target harga Rp 330 Hendra merekomendasikan trading buy, sementara MDKA dengan target harga Rp 1.875 bersifat spekulative buy, dengan outlook jangka pendek hingga menengah yang masih positif seiring tren bullish emas global.

