Bitcoin Disebut Bisa Jadi Aset 'Safe Haven', Begini Tanggapan OJK
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin menunjukkan kecenderungan stabil di tengah berbagai dinamika ketidakpastian global, meski kelayakannya sebagai instrumen aset lindung nilai (hedging) maupun safe haven masih menjadi perdebatan terbuka di kalangan pelaku industri. Atas fenomena ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun memberikan tanggapannya.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Hasan Fawzi mengungkapkan, saat ini perdebatan terkait peran Bitcoin dalam sistem keuangan global terus berlangsung secara aktif di berbagai level, baik regulator regional maupun global, para ekonom, pelaku pasar, dan tentunya konsumen aset kripto itu sendiri.
“Kita melihat di dalam berbagai situasi ketidakpastian global, adanya situasi perkembangan geopolitik maupun katakanlah untuk kebijakan baru, untuk aset kripto Bitcoin ini relatif dibanding aset kripto lainnya memang menunjukkan tren yang lebih stabil,” ujarnya, dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2025, Jumat (11/4/2025).
“Bahkan beberapa saat menunjukkan angka kenaikan (Bitcoin),” sambung Hasan.
Meski begitu, ia tetap mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi ciri khas Bitcoin, bahkan untuk aset kripto lainnya. Selain bisa mengalami gejolak kenaikan yang tajam, Bitcoin juga bisa mengalami kondisi yang sebaliknya.
“Namun, pada saat lainnya juga mengikuti gejolak yang ada yaitu terjadi penurunan secara tajam,” kata Hasan.
Baca Juga
Mengejutkan! Bitcoin Justru Diuntungkan dari Kejatuhan Wall Street. Bisa Jadi Safe Haven?
Untuk informasi, pada hari Jumat (4/4/2025) Wall Street mengalami salah satu penurunan tertajam sejak Maret 2020, namun harga Bitcoin (BTC) justru tak terlalu terpengaruh akan gejolak pasar tersebut. Perbedaan ini telah memicu diskusi luas tentang BTC yang berpotensi berfungsi sebagai aset lindung nilai alias safe haven.
Ketahanan ini telah memicu banyak perbincangan di X, dengan banyak yang mempertimbangkan potensi Bitcoin sebagai lindung nilai di tengah kekacauan. "Bitcoin adalah lindung nilai," tulis CEO Tether Paolo Ardoino dilansir dari Bitcoin.com, Sabtu (5/4/2025).
Demikian pula pada bulan Maret 2023, saat bank-bank regional terpuruk, Silvergate, SVB, dan Signature termasuk di antara korban yang paling terkenal, jurstru Bitcoin naik 35%, mencerminkan pelarian dari keuangan konvensional. Sementara Indeks Bank Regional S&P 500 turun sekitar 28%, BTC melonjak dari US$ 20.000 menjadi US$ 27.000 dalam satu minggu, melampaui kenaikan emas yang lebih terkendali sebesar 9%.
Pergerakan naik ini juga dibentuk oleh meningkatnya antisipasi sikap yang lebih lunak dari Federal Reserve, karena gejolak perbankan mendorong bank-bank sentral untuk melonggarkan kebijakan suku bunga. Karakter ganda Bitcoin menjadi fokus yang tajam, berfungsi sebagai tempat berlindung yang aman di tengah kekacauan keuangan dan kendaraan spekulatif atas harapan likuiditas yang diperbarui.
Kontradiksi tersebut yang mudah berubah tetapi defensif mengungkapkan identitasnya yang berubah. Hal ini secara bersamaan menjadi lindung nilai terhadap ketidakstabilan sistemik dan penentu arah bagi perubahan moneter.
Bab tersebut mengukuhkan posisi Bitcoin sebagai tempat berlindung dari krisis dan barometer yang peka terhadap risiko, yang menentang kategori aset konvensional. BTC pun tampaknya menunjukkan sifat ini dengan sangat jelas pada bulan Maret, khususnya pada tahun 2020, 2023, dan 2025.
Apakah Bitcoin Aset Safe Haven?
Melansir Consensus, Jumat (11/4/2025), konsep aset safe haven secara tradisional dikaitkan dengan investasi yang mempertahankan atau meningkatkan nilai selama masa tekanan pasar. Emas telah lama dianggap sebagai safe haven yang hakiki. Namun, dengan munculnya aset kripto, khususnya Bitcoin, ada minat yang signifikan terhadap apakah Bitcoin dapat menjalankan peran yang sama.
Volatilitas Bitcoin yang ekstrem dan likuiditas yang lebih rendah dibandingkan dengan aset safe haven tradisional seperti emas menghadirkan tantangan yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa Bitcoin lebih fluktuatif, kurang likuid, dan lebih mahal untuk ditransaksikan, yang melemahkan potensinya sebagai safe haven yang andal selama krisis pasar. Hingga pasar Bitcoin matang, faktor-faktor ini membuatnya kurang menarik bagi investor yang mencari stabilitas selama masa-masa sulit.
Beberapa penelitian telah membandingkan kinerja Bitcoin sebagai safe haven dengan kinerja emas dan komoditas lainnya. Temuan menunjukkan bahwa Bitcoin, emas, dan komoditas dapat dianggap sebagai tempat berlindung yang lemah dalam skenario tertentu, tetapi efektivitasnya bervariasi dari waktu ke waktu dan di berbagai indeks pasar saham. Sifat yang bervariasi dari waktu ke waktu ini menunjukkan bahwa peran Bitcoin sebagai aset lindung yang aman tidak konsisten, sehingga kurang dapat diandalkan dibandingkan aset tradisional seperti emas.
Dalam konteks ketidakpastian politik dan ekonomi, seperti yang terjadi di Amerika Serikat (AS), Bitcoin telah menunjukkan beberapa potensi sebagai safe haven. Selama periode ketidakpastian yang meningkat, Bitcoin tampaknya bertindak sebagai tempat berlindung yang aman, meskipun hubungan ini dapat berubah dalam jangka pendek hingga jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin dapat menawarkan beberapa perlindungan selama krisis tertentu, efektivitasnya tidak dijamin dalam jangka panjang.
Baca Juga
Bitcoin Naik Tajam Usai Trump Cabut Tarif, Sentimen Campur Aduk
Peran Bitcoin di Berbagai Pasar Keuangan
Penelitian yang berfokus pada pasar China mengungkapkan bahwa Bitcoin dapat bertindak sebagai lindung nilai terhadap saham, obligasi, dan aset moneter, dan berfungsi sebagai tempat berlindung yang aman selama perubahan harga yang ekstrem di pasar moneter. Ini menunjukkan bahwa sifat tempat berlindung yang aman dari Bitcoin mungkin lebih menonjol dalam lingkungan keuangan tertentu, terutama di mana sistem keuangan tradisional kurang stabil.
Menariknya, volatilitas Bitcoin sendiri telah menyebabkan munculnya stablecoin sebagai tempat berlindung yang aman bagi investor Bitcoin. Selama periode perubahan harga Bitcoin yang sangat negatif, investor cenderung beralih ke stablecoin seperti Tether, yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang stabil. Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin mungkin tidak selalu menjadi tempat berlindung yang aman, Bitcoin telah menciptakan ceruk bagi aset kripto lain untuk memenuhi peran tersebut.
Peran Bitcoin sebagai lindung nilai atau diversifikasi bervariasi di berbagai mata uang dan kondisi ekonomi. Misalnya, Bitcoin dapat bertindak sebagai lindung nilai intraday untuk mata uang tertentu seperti CHF, EUR, dan GBP, dan sebagai diversifikasi untuk mata uang lain seperti AUD, CAD, dan JPY6. Ini menunjukkan bahwa utilitas Bitcoin sebagai tempat berlindung yang aman atau lindung nilai bergantung pada konteks dan dapat menawarkan manfaat dalam skenario tertentu.
Studi yang meneliti pengaruh Ketidakpastian Kebijakan Ekonomi (EPU) terhadap Bitcoin menunjukkan bahwa pengembalian dan volatilitas Bitcoin meningkat selama masa ketidakpastian, mirip dengan emas. Perilaku ini sejalan dengan karakteristik aset safe haven, yang memberikan beberapa bukti bahwa Bitcoin dapat melindungi tabungan dan mendiversifikasi portofolio selama ketidakpastian ekonomi.

