IHSG Dibuka Anjlok 9,19% hingga Langsung Terkena Trading Halt
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/4/2025) dibuka langsung jatuh dalam dengan penurunan sebanyak 598,56 poin (9,19%) menjadi 5.912,06. Dengan pembukaan koreksi indeks lebih dari 8%, BEI langsung menerapkan penghentian sementara (trading halt) pertama selama 30 menit.
Trading halt dilakukan sesuai dengan peraturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu trading halt perdagangan saham diterapkan jika IHSG turun lebih dari 8%. Sementara pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG langsung jatuh lebih dari 9,19%.
Baca Juga
Cek! BEI Mendadak Ubah Ketentuan Soal ARB Saham dan Trading Halt IHSG
Kejatuhan tersebut dipicu atas pelemahan seluruh sektor saham, seperti koreksi saham sektor material dasar 10,07%, sektor teknologi 10,38%, sektor keuangan 7,56%, sektor energi 7,53%, sektor property 6,88%, dan sektor consumer primer 7,64%.
Sedangkan saham emiten big cap dengan penurunan paling dalam hari ini, yaitu saham BBCA dibuka langsung anjlok sebanyak 12,94% menjadi Rp 7.400, saham BREN turun 12,91% menjadi Rp 4.790, dan BBRI melemah 14,57% menjadi Rp 3.460, dan BMRI turun sebanyak 13,46% menjadi Rp 4.500.
Sebaliknya beberapa saham berikut yang catatkan penguatan saat indeks anjlok, yaitu saham BALI naik 4,96% menjadi Rp 1.270, ASDM naik 2,98% menjadi Rp 484, UANG naik 2,48% menjadi Rp 330, dan CYBR naik 2,16%.
Baca Juga
Sebelumnya, pada perdagangan hari terakhir sebelum libur lebaran menguat sebanyak 38,26 poin (0,59%) menjadi 6.510,62 pada perdagangan Kamis (27/3/2025). Pemodal asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham mencapai Rp 623,46 miliar dengan memborong saham BBRI dan BMRI.
Kejatuhan indeks hari ini dipengaruhi kejatuhan seluruh indeks bursa saham global selama libur Nyepi dan Lebaran. Sebagaimana diketahui kejatuhan tersebut dipicu atas kebijakan resiprokral Trump terkait kenaikan tarif impor barang di negara tersebut.
Kebijakan tersebut telah membuat kejatuhan seluruh indeks bursa saham dunia, hampir semua negara mengalami penurunan indeks lebih dari 5% dalam sepekan terakhir selama libur lebaran.

