Perang Tarif Terjadi, Ekonom Bahana Sekuritas: Ada Peluang Beli Saham di Tengah Ancaman Circuit Breaker
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro meminta investor untuk bersiap menghadapi potensi circuit breaker pada perdagangan perdana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) usai libur panjang Nyepi dan Lebaran, Selasa (8/4/2024).
"Karena ETF (Exchange-Traded Fund) saham Indonesia telah turun -10% dalam seminggu saat pasar lokal tutup, hampir pasti circuit breaker akan terpicu ketika IHSG pertama kali dibuka pada Selasa," kata Satria dalam keterangan kepada investortrust.id.
Baca Juga
IHSG Tertekan Isu Tarif Trump, BP Jamsostek Siap Tambah Muatan
Berdasarkan data terakhir Bloomberg, posisi terakhir IHSG BEI pada level 6.510,62 pada penutupan perdagangan 27 Maret 2025. Meski potensi terjadi circuit breaker, Satria menjelaskan, ada peluang kemunculan investor domestik dan luar negeri yang melakukan pembelian saham.
"Ada kemungkinan pembeli asing dan lokal akan muncul, dengan tingkat kas yang sudah tinggi, karena penjualan saham telah dilakukan sebelum libur panjang Lebaran," ujar dia.
Satria menjelaskan penetepan tarif impor Amerika Serikat (AS) ke negara mitra dagang, termasuk Indonesia akan mempengaruhi kondisi kas korporasi. Tetapi, dalam analisisnya, dampak tarif impor sebesar 32% tak banyak membuat kontraksi pada laba korporasi Indonesia.
Baca Juga
Cek! BEI Mendadak Ubah Ketentuan Soal ARB Saham dan Trading Halt IHSG
"Sebaliknya, margin korporasi justru mungkin terdongkrak positif, karena rupiah terdepresiasi 5% dalam sebulan sementara harga minyak (komponen biaya utama perusahaan Indonesia) turun 15%" ujar dia.
Satria mengatakan, aksi jual mendatang justru bisa menjadi titik masuk yang lebih menarik untuk mengakumulasi saham seperti, BBRI, BRIS, ANTM, ADHI, CTRA, dan GOTO.
Terkecil di Asia
Dalam perspektif makroekonomi Indonesia, ekspor ke AS hanya menyumbang 2% dari PDB. Angka ini merupakan yang terkecil di Asia Tenggara jika dibandingkan Thailand sebesar 11% dan Malaysia sebesar 10%.
Produk Indonesia akan dikenakan tarif 32% oleh AS. Namun, bagi Satria, tarif ini salah satu tarif impor terendah di antara negara-negara berupah murah. Sebab, bea masuk yang mencapai hampir 37-49% diterapkan terhadap Bangladesh, Kamboja, China, Sri Lanka, dan Vietnam. "Pesaing kita dalam menarik FDI (Foreign Direct Investment)" kata dia.
Baca Juga
Saham Eropa Merosot 4,5% di Tengah Gejolak Pasar Global Akibat Tarif Trump
Sementara itu, dalam alam ekonomi makro global, Satria menyarankan untuk mengikuti likuiditas. Saat ini, likuditass lebih penting daripada fundamental.
Pemulihan pasar bisa datang dari potensi lonjakan likuiditas M2 dengan Fed dan bank sentral global bersiap memangkas suku bunga agresif atau bahkan quantitative easing baru.
"Pada 2020, pasar meroket meskipun laba korporasi turun, kini di 2025, kami yakin saham masih bisa rebound meskipun AS mengalami stagflasi," ujar dia.

