Jelang Pembukaan Perdagangan BEI Imbau Investor Tak Panik dan Analisis Keputusan Investasi
JAKARTA, investortrust.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau para investor tidak panik menyikapi kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pasalnya kebijakan ini berpotensi tren bearish pada indeks harga saham gabungan (IHSG) serta memberikan dampak negatif pada sejumlah sektor saham.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik menegaskan keputusan investasi sebaiknya dibuat berdasarkan analisis yang teliti dan pertimbangan yang rasional.
“Investor agar tidak panik. Lakukan analisis secara cermat dan mengambil keputusan investasi secara rasional,” tulis Jeffrey kepada awak media Minggu, (6/4/2025).
Selain itu, Jeffrey mengutarakan dampak dari kebijakan tarif ini tidak secara langsung merugikan pasar saham di kawasan Asia. Berdasarkan data BEI Bursa Asia yang terkena dampak tarif impor justru tidak menunjukkan penurunan signifikan.
“Kalau kita lihat data maka bursa bursa negara Asia yang dikenakan tarif tinggi tidak mengalami dampak negatif yang signifikan. Tetapi justru bursa negara Eropa dan Amerika yang berdampak signifikan,” bebernya.
Sementara itu, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menyebut tarif ini merupakan kebijakan proteksionis di mana AS menetapkan bea masuk setara terhadap negara-negara yang selama ini menerapkan tarif tinggi terhadap produk asal Amerika.
Baca Juga
Bursa Asia Longsor, Hang Seng Anjlok 10% dan CSI Tiongkok Hilang 4,8%
Implikasi kebijakan ini begitu luas dan cepat, memicu kepanikan pasar global, terutama karena pasar khawatir akan eskalasi perang dagang, disrupsi rantai pasok, dan potensi perlambatan ekonomi dunia.
“Saya memperkirakan IHSG akan bergerak dalam tren pelemahan dengan area support pada 6.290–6.312 dan resistance di kisaran 6.660,” kata Hendra kepada investortrust.id Sabtu, (5/4/2025).
Meskipun menjelang libur bursa tren jangka pendek IHSG cenderung menguat, namun kata Hendra kekhawatiran terhadap dampak tarif Trump menjadi katalis negatif utama yang bisa menahan laju penguatan.
Selain itu, menurut Hendra sektor yang paling terdampak dari kebijakan ini adalah manufaktur dan ekspor. Industri tekstil dan apparel, yang sebelumnya menjadi andalan ekspor ke AS, kini menghadapi tekanan berat.
“Namun, dengan potensi delisting dari bursa, emiten seperti PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) dan PT Pan Brothers Tbk (PBRX) tidak lagi menjadi fokus utama. Sementara itu, PT Trisula International Tbk (TRIS) tetap harus menghadapi tantangan baru dalam menyesuaikan strategi ekspor,” terang Hendra.
Sedangkan industri elektronik, PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) diperkirakan mengalami penurunan permintaan, selajn itu dari sektor otomotif PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga berpotensi terdampak.
Di sektor komoditas, ia menjelaskan meskipun AS bukan pasar utama untuk minyak sawit, emiten seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) tetap terkena dampak negatif akibat sentimen perdagangan global yang memburuk.
Baca Juga
Rahasia dan Tips Investasi Saham Ala Warren Buffett, Efektif Minimalisir Risiko Berinvestasi
“Industri karet juga berisiko kehilangan pasar ekspor, dengan PT Kirana Megatara Tbk (KMTR) sebagai pemain utama yang terdampak,” ucapnya.
Sementara itu, sektor migas dan batubara, termasuk PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO), bisa mengalami tekanan akibat potensi melemahnya permintaan energi global.
“Dampak lainnya juga dirasakan di sektor logistik dan transportasi. PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dapat menghadapi gangguan distribusi barang ekspor akibat kebijakan ini. Maskapai penerbangan seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) juga diperkirakan mengalami penurunan volume angkutan barang,” tutur dia.
Sedangkan pada sektor perbankan, menurut Hendra khususnya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), menghadapi risiko meningkatnya kredit bermasalah (NPL) akibat tekanan terhadap sektor manufaktur dan ekspor.

