Harita Nickel (NCKL) Bukukan Laba Rp 6,38 Triliun, Melonjak 13,52%
JAKARTA, investortrust.id – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 6,38 triliun tahun 2024, melonjak sekitar 13,52% dibanding tahun 2023. Perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi berkelanjutan ini juga menyelesaikan proyek berjalan dan terus memperkuat efisiensi.
Berdasarkan laporan keuangan untuk periode fiskal yang berakhir pada 31 Desember 2024, Harita Nickel membukukan pendapatan sebesar Rp 26,97 triliun. "Sedangkan laba kotor sebesar Rp 8,45 triliun dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 6,38 triliun," kata Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin D Liwan dalam keterangan di Jakarta, 25 Maret 2025.
Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada Tbk Roy Arman Arfandy mengatakan sebelumnya, pada tahun 2023, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 5,62 triliun.
Baca JugaCek Breaking News, Analis Paparkan Penyebab Rupiah Anjlok Terdalam Tahun Ini
Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia Indonesia, Selasa (25/03/2025), harga saham NCKL ditutup naik Rp 10 640.
Selesaikan Proyek Berjalan, Perkuat Efisiensi
Dari lini bisnis pertambangan, lanjut Suparsin, Harita Nickel mencatatkan volume penjualan bijih nikel total sebesar 23,75 juta wet metric ton (wmt) kepada perusahaan afiliasi, yang bergerak di bidang pengolahan dan pemurnian nikel. Sedangkan dari lini bisnis pengolahan dan pemurnian nikel, sepanjang 2024, Perseroan membukukan penjualan feronikel (FeNi) sebesar 126.344 ton, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 63.431 ton, dan produk turunan MHP berupa Nikel Sulfat (NiSo4) sebesar 38.622 ton.
Suparsin juga mengatakan, Perusahaan menyelesaikan pembangunan refinery kedua, PT Obi Nickel Cobalt (ONC), dan melakukan produksi komersial secara penuh sejak Agustus 2024. Dengan demikian, total kapasitas terpasang pemurnian nikel berkadar rendah yang dimiliki Harita Nickel mencapai 120.000 ton kandungan nikel dalam MHP per tahun. Dari lini smelter, setelah menyelesaikan pembangunan smelter rotary kiln-electric furnace (RKEF) kedua pada 2023, PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), total kapasitas terpasang FeNi mencapai 120.000 ton kandungan nikel dalam FeNi per tahun.
"Perseroan melihat kondisi industri nikel secara global belum terlalu baik dan akan penuh tantangan dalam beberapa tahun mendatang, mulai dari perlambatan ekonomi global, persaingan usaha yang semakin ketat, hingga peningkatan biaya operasional akibat perubahan kebijakan baik domestik maupun internasional. Harita Nickel menyikapi hal-hal di atas dengan upaya meningkatkan efisiensi dalam operasional perusahaan guna mempertahankan daya saing," paparnya.
Dia menjelaskan, salah satu strategi operasi yang dilakukan adalah dengan memulai pekerjaan konstruksi pabrik yang akan memproduksi kapur tohor atau quicklime, sebagai bahan pendukung dalam proses hidrometalurgi high pressure acid leaching (HPAL). Produksi bahan ini diperkirakan akan meningkatkan efisiensi biaya materi bahan baku pendukung. Selain itu, Perseroan juga melakukan pengetatan biaya operasional untuk semua bisnis unit yang ada di Harita Nickel.
"Menyadari kondisi industri yang masih menantang, Harita Nickel akan fokus untuk memperkuat efisiensi. Selain itu, menyelesaikan proyek yang sedang dalam tahap konstruksi, serta meningkatkan standar operasi yang bertaraf internasional," kata Suparsin.
Salah satu inisiatif peningkatan standar operasi secara internasional yang dilakukan Harita Nickel adalah fokus untuk menyelesaikan proses audit atau penilaian terhadap standar pertambangan internasional, Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), sejalan dengan prinsip environmental, social, and governance (ESG) yang dijalankan oleh Perusahaan.
Suparsin menyatakan, ke depan, Perusahaan juga akan tetap fokus pada upaya untuk menjaga kesehatan keuangan Perusahaan. “Kami juga akan tetap fokus menjalankan operasi secara efisien, menyelesaikan proyek yang sedang dalam masa konstruksi, dan terus meningkatkan standar operasi sehingga kondisi keuangan Perseroan tetap terjaga,” tandas Suparsin.
Baca Juga
Capai Rp 1,8 Triliun, Laba Trimegah Bangun Persada (NCKL) Triwulan II Naik 80% QoQ

