Saham Sektor Bank Babak Belur Tekan IHSG Sesi I hingga 2,14%, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id– Penurunan harga saham bank besar menjadi salah satu faktor utama penekan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Jumat (21/3/2025). Penurunan tersebut memicu IHSG anjlok sebanyak 136,52 poin (2,14%) menjadi 6.245.
Berdasarkan data penutupan sesi I BEI, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) anjlok 5,39% menjadi Rp 3.860, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melemah 5,05% menjadi Rp 2.070, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 4,33% menjadi Rp 4.420, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 3,56% menjadi Rp 8.075, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 1,91% menjadi Rp 3.590.
Baca Juga
IHSG Sesi I Berbalik Anjlok 2,14% Terset Saham Bank dan Beberapa Emiten Prajogo
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa menilai, penurunan saham perbankan hahri ini, khususnya BBCA, bertepatan dengan ex date dividen, seperti yang diharapkan saham BBCA akan turun harganya paling tidak sebesar dividen yang akan dibayarkan (Dividend Trap).
“Sedangkan penurunan harga saham BBRI, BBNI dan BMRI sebagai antisipasi pemodal menjelang RUPS pekan depan. Namun demikian terbuka peluang rebound di minggu depan menanggapi RUPS yang akan membahas pembagian dividen dengan potensi payout ratio besar menjelang dimasukkan dalam Danantara,” kata Reydi saat dihubungi investortrust.id Jumat, (21/3/2025).
Secara umum, Reydi memandang, penurunan saham perbankan besar tersebut juga efek lanjutan aksi jual investor asing yang belum reda. Seminggu terakhir, asing telah mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 6,5 triliun.
Baca Juga
Lima Saham Bank Besar Ini Mendadak Turun Bersamaan, Bagaimana Target Harganya
Sentimen negative saham bank, terang dia, terpicu keputusan suku bunga Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate sebanyak 5,75% diikuti oleh suku bunga the Fed yang juga tetap di 4,25%-4,5%. Keputusan ini mengindikasikan suku bunga yang masih higher for longer juga merupakan sentimen pemberat.
“Untuk perbankan sendiri akan lebih sulit menyalurkan pinjaman dana dengan bunga kredit yang tinggi. Kalapun bisa disalurkan, profil risiko kredit cenderung naik hingga menjadi kredit bermasalah. Namun tanggapan BI untuk tetap membuka peluang menurunkan suku bunga bisa menjadi momentum,” jelasnya.
Adapun target capaian harga dalam jangka menengah menurut Reydi yakni, resistance swing high masing-masing emiten, yaitu saham BMRI dengan target Rp 5.050, BBNI dengan target Rp 4.700, BBCA dengan target Rp 9.200, BRIS dengan target Rp 2.650, BBRI dengan target Rp 4.000.
Baca Juga
IHSG Sesi I Berbalik Anjlok 2,14% Terset Saham Bank dan Beberapa Emiten Prajogo
Sementara Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana alias Didit menilai secara teknikal, saham BBCA buy on weakness dengan target harga Rp 8.575-9.025, saham BBRI buy on weakness dengan target harga Rp 3.890-4.130, saham BMRI buy on weakness dengan target harga Rp 4.650-4.950, saham BBNI wait and see dengan support Rp 3.860 dan resistance Rp 4.010 dan saham BRIS wait and see dengan support Rp 2.000 dan resistance Rp 2.110
“Walau begitu dapat dicermati juga, biasanya investor banyak juga yang tidak mau ambil risiko hold saham melewati periode libur panjang lebaran, karena dalam periode tersebut, potensinya besar terdapat peristiwa atau sentimen pemberat dari luar maupun dalam negeri yang dapat memperbesar selling pressure pada saat IHSG perdagangannya sudah dibuka kembali,” tutur Reydi.

