Restrukturisasi Berlangsung, Gerak Saham Bukalapak (BUKA) masih Menunggu Kepastian
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) masih menghadapi tantangan berat selama restrukturisasi bisnis masih berjalan atau belum tuntas. Investor juga masih menunggu kejelasan focus bisnis setelah marketplace fisik dihentikan.
Hal ini mendorong Sucor Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi hold saham BUKA dengan target harga Rp 160. Target harga tersebut telah mempertimbangkan ketidakpastian bisnis perseroan dan besarnya dana kas yang masih digenggam setara dengan Rp 182 per saham.
Baca Juga
Archipelago Investment Buang Saham Bukalapak (BUKA) Rp 1,34 Triliun, Untung atau Rugi?
Analis Sucor Sekuritas Paulus Jimmy mengatakan, Bukalapak tahun lalu hanya mencatat kenaikan tipis pendapatan sebesar 0,5% menjadi rp 4,46 triliun. Tipisnya kenaikan tersebut dipicu mulai berjalannya restrukturisasi bisnis BUKA sejak kuartal III tahun lalu.
Saat ini, BUKA masih melanjutkan optimalisasi biaya IT dan tenaga kerja yang menjadi restrukturisasi utama perseroan. Restrukturisasi ini telah menelan dana sekitar Rp 426 miliar. Restrukturisasi ini diperkirakan berlanjut sampai kuartal I-2025 dan diharapkan mulai stabil pada kuartal II tahun ini.
Sedangkan dari sisi bisnis, Sucor Sekuritas menyebutkan, BUKA telah mengalihkan focus pada segmen O2O dengan perkiraan peluang keuntungan lebih beasr. Perseroan juga tengah menyiapkan segmen bisnis baru yang kemungkinan segmen gaming marketplace yang diharapkan menjadi focus bisnis perseoran ke depan.
"Kami memperkirakan BUKA juga gencar menjajaki akuisisi untuk bisa meningkatkan nilai dan sinergi dengan bisnisnya. Perseroan akan focus pada bisnis yang sudah mencatatkan keuntungan,” tulisnya dalam riset tersebut.
Selain itu, Paulus dalam risetnya menyebutkan, Bukalapak (BUKA) tengah mengkaji opsi pembelian kembali (buyback) saham.
Baca Juga
Bukalapak (BUKA) Buka Opsi Penggunaan Sisa Dana IPO untuk Akusisi
Manajemen BUKA dalam rilis laporan kinerja keuangan menyebutkan kenaikan tipis pendapatan menjadi Rp 4,46 triliun pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 4,43 triliun. Sebaliknya rugi tahun berjalan naik pesat menjadi Rp 1,54 triliun.
Pertumbuhan pendapatan ditopang kenaikan pendapatan marketplace sebanyak 6% dari Rp 2,38 triliun menjadi Rp 2,51 triliun, namun margin kontribusi segmen ini turun drastic dari Rp 672 miliar menjadi Rp 402 miliar.
Meski mencatatkan peningkatan rugi bersih, Bukalapak menyebutkan masih menggenggam kas bersih jumbo dan terjadi perbaikan EBITDA disesuaikan sepanjang tahun lalu. Kas dan setara kas akhir tahun mencapai Rp 19,1 triliun dengan EBITDA disesuaikan negative membaik dari Rp 475 miliar menjadi Rp 340 miliar.

