Investor Asing "Switching" dari Pasar Saham ke Obligasi, Ini Faktor Pemicunya
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing beralih (switching) dari pasar saham ke obligasi. Asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) surat berharga negara sebesar Rp 18,4 triliun sejak awal tahun hingga 13 Maret 2025. Sebaliknya penjualan bersih (net sell) di pasar saham mencapai Rp 24,27 triliun.
Mandiri Sekuritas mengungkapkan, investasi masuk (in flow) di pasar obligasi mengalami perubahan drastis dari periode sama tahun lalu. Berdasarkan data, awal tahun hingga 13 Maret 2024, pasar SBN dilanda arus keluar dana asing sebesar Rp 22 triliun.
“Asing di equity net sell, di fixed income itu asing net gain sebenarnya. Jadi mungkin ada diferensiasi asing lebih memilih dari sisi obligasi saat ini dibandingkan equity,” jelas Kepala Divisi Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto, di Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga
IHSG Anjlok, Luhut Sebut Prabowo Bakal Bertemu dengan Pelaku Pasar
Aliran dana asing ke pasar obligasi, terang dia, dipengaruhi jejak kondisi makro, perlambatan ekonomi, dan suku bunga yang belum turun. Hal ini menjadikan investasi obligasi bertumbuh (perform), dibandingkan saham. Dilihat dari sisi investor, porsi investor di pasar obligasi dan saham hampir mirip.
“Dari sisi dapen (dana pensiun), asuransi masih banyak belanja, ritel juga banyak belanja, itu mungkin salah satu dorongan ritel yang optimum tahun ini,” sambung Handy.
Dia mengatakan, dukungan investor domestik yang semakin beragam justru membantu arus masuk ke pasar obligasi. Handy menceritakan, dahulu pasar obligasi sangat bergantung dengan perbankan, namun sekarang dana pensiun dan asuransi jadi pembeli yang cukup besar. Begitu pula dengan investor ritel. “Jadi jangan underestimate kekuatan dari retail investor,” imbuh Handy.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 910,34 Miliar, Asing Kembali Buang Saham Bank Ini
Data yang dikumpulkan Mandiri Sekuritas menunjukkan, investor ritel telah mencatatkan pembelian SBN sebanyak Rp 31,9 triliun. Hampir sama dengan institusi dana pensiun dan asuransi, yang masing-masing mencetak net buy Rp 29,1 triliun.
Handy Yunianto
Sedangkan tahun lalu, ritel menciptakan arus masuk pada pasar obligasi sebesar Rp 15,7 triliun sehingga catatan hingga Maret 2025 ini menunjukkan kenaikan. “Ini yang melatarbelakangi kenapa pasar kita sangat resilient. Karena kita punya investor base domestik yang kuat dan tidak hanya tergantung dari satu tipe investor,” tutur Handy.
Berdasarkan data 10 tahun terakhir, dengan banyak kondisi luar biasa seperti perang dagang Amerika-China, kenaikan suku bunga The Fed secara agresif, dan perang Rusia-Ukraina, hingga pandemi Covid-19, membuat investasi obligasi lebih menarik dari saham.
Baca Juga
Handy menghitung, rata-rata imbal hasil investasi obligasi masih bisa lebih tinggi dibandingkan saham, dan lebih tinggi dibandingkan pasar uang. “Memang tidak setiap tahun outperform ya,” ujarnya.
Sejauh ini, Handy membuktikan bahwa pasar obligasi masih memberikan imbal hasil 2%, di saat saham turun 14% dan deposito memberi return sekitar 0,8%.

