Dunia Masih Butuh Batu Bara
JAKARTA, investortrust.id - PT Ancara Logistics Indonesia Tbk tergolong fenomenal. Selain meraih dana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) terbesar pada 2024 (setidaknya hingga akhir Februari), emiten bersandi saham ALII itu juga mencetak capital gain paling tinggi di antara 19 emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ancara Logistics melantai di BEI pada 7 Februari 2024 dengan menghimpun dana IPO Rp 860,92 miliar. Sejak listing perdana pada 7 Februari 2024, saham ALLI sudah membukukan gain 148,16% per 29 Maret 2024.
Emiten pengapalan batu bara yang melepas 20% sahamnya ke publik dengan harga IPO Rp 272 ini memang bukan emiten kaleng-kaleng. ALII ditopang fundamental yang kokoh dengan prospek bisnis yang moncer.
Di tengah santernya isu bahwa dunia bakal meninggalkan batu bara untuk beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT), anak perusahaan Grup Bakrie yang didirikan pada Juli 2019 itu tetap yakin bahwa dunia masih membutuhkan batu bara hingga beberapa dekade ke depan.
“Jalan menuju penggunaan EBT, menurut saya, masih panjang,” ujar Direktur Utama PT Ancara Logistics Indonesia Tbk,Faisal Mohamad Nur dalam podcast Konvergensi yang dipandu Chief Executive Officer (CEO) PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu di gedung The Covergence, Kuningan, Jakarta, Jumat (1/3/2024). Berikut penuturan lengkapnya:
Apa yang membuat IPO ALII sukses, baik dari sisi perolehan dana maupun kinerja sahamnya?
Pertama, market-lah yang menentukan harga saham di bursa. Tidak ada intevensi dari kami. Ini respons positif para investor terhadap saham ALII karena fundamental bisnis kami sangat baik. Kami mengangkut batu bara, coal barging. Kami punya live of mine contract (kontrak seumur tambang) dengan pelanggan kami di Kalimantan Timur (Kaltim).
Dana hasil IPO untuk apa saja?
Dari perolehan dana IPO sebesar Rp 860,92 miliar, net-nya sekitar Rp 847 miliar. Sekitar 75% digunakan untuk melunasi sebagian utang anak perusahaan dalam dolar AS. Sekitar 21% untuk capex, di mana kami sedang membangun lagi 15 unit tongkang sungai. Sisanya untuk modal kerja.
Dengan pambayaran utang anak usaha tersebut, profitabilitas kami akan meningkat tahun ini dan pada tahun-tahun mendatang. Otomatis cashflow kami pun akan lebih kuat karena kami tidak perlu bayar bunga lagi. Kapasitas kami lebih optimal, sehingga kami bakal lebih ekspansif.
Hal paling strategis yang dicapai ALII dari IPO?
IPO merupakan langkah strategis ALII untuk memperbaiki financial position-nya menjadi lebih baik lagi. Utang kami sifatnya private equity, equity loan, atau equity financing. Mahal memang, nggak apa-apa karena kami perlu dana untuk tumbuh. Tetapi ini kami perbaiki.
Sekarang financial position ALII sudah baik, tapi kami ingin lebih baik lagi. Maka kami perlu debt. Kalau bicara pinjaman, kita pasti bicara cost of capital. Kalau bicara cost of capital maka kita bicara pilihan antara equity dan debt. Mana paling bagus, tentu yang kombinasi. Kalau equity itu cost-nya lebih besar karena ada uncertainty (ketidakpastian).
Kalau debt, misalnya ke bank, pihak perbankan merasa lebih pasti. Dapat angsuran pokok, dapat angsuran bunga. Kalau equity itu kan diinjeksi. Kapan bayar? Nanti kalau sudah profit, kalau sudah bagi dividen.
Kami sudah berjanji kepada pemegang saham, terutama masyarakat selaku pemegang 20% saham bahwa perusahaan ini akan tumbuh. Kami menjanjikan profit, kami janjikan dividen pada 2025 dari tahun buku 2024. Kami akan bagikan dividen sebanyak-banyaknya 80%.
Tantangan paling berat ketika menangani IPO?
Tantangannya mungkin waktu. Alhamdulillah kami punya tim yang solid. Pemegang saham juga memberikan direction yang clear. Kami bersyukur, seminggu sebelum pilpres, IPO dapat direalisasikan. Kami hanya mundur tujuh hari, lho.
Bisa dijelaskan lebih jauh mengenai operasional ALII?
Kami melayani perusahaan-perusahaan tambang batu bara di Kutai Kartanegara, Kaltim. Di sana ada sebuah desa, namanya Desa Gunung Sari. Kami mengangkut batu bara dari sana menggunakan tongkang sungai ukuran 180 feet atau berkapasitas 1.800-2.300 ton.
Nanti kapal-kapal itu sampai ke customer kami, khususnya dua pelanggan utama kami. Batu bara untuk pasar ekspor diangkut ke anchorage loading point di Muara Berau atau Muara Jawa. Sedangkan batu bara untuk pasar domestik diangkut langsung ke jetty para pelanggan, di antaranya PLN dan Semen Tonasa.
Dari jetty pelanggan utama kami dari Desa Gunung Sari, batu bara itu dibawa kapal tongkang ke anak perusahan kami, PT Mahakam Coal Terminal (MCT) di Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, dibawa ke tempat yang disebut intermediate stockpile (ISP).
Nanti ada lagi tongkang 300 feet yang membawa batu bara tersebut ke mother vessel (kapal angkut berkapasitas besar atau kapal induk) di Muara Berau atau Muara Jawa, bisa juga langsung ke jetty pelanggan.
Para eksportir di Indonesia pakai free on board (FOB) mother vessel. Yang menyediakan mother vessel biasanya pihak buyer. Batu bara yang kami angkut untuk pasar domestik sekitar 30%, sedangkan 70% untuk ekspor. Dari 70% ekspor, sekitar 80% ke China, 20%-nya ke India.
Jumlah armada ALII sudah memadai?
Jumlah armada kami sebenarnya masih kurang. Kami punya 36 unit tongkang sungai, 6 sudah ready selesai dibangun di Batam, minggu-minggu ini dalam proses towing ke lokasi kami di Embalut. Total dalam dua minggu ini akan ada 42 unit tongkang sungai yang kami miliki.
Tahun lalu kami juga meneken kontrak pengadaan 8 unit kapal tongkang, itu dalam progres. Minggu lalu kami teken 7 unit lagi. Kami harapkan pada akhir tahun ini armada tongkang kami bertambah menjadi 57 unit. Di luar itu, kami punya 40 unit kapal tunda (tugboat). Sudah berkontrak, totalnya akan kami penuhi 70 unit.
Ada juga kapal charter. Untuk freight charter tongkang sungai, kami sudah meneken kontrak 15 unit. Adapun untuk tongkang laut, kami sudah berkontrak time charter 12 unit. Kami masih butuh kapal charter karena akan mengangkut 2-4 kali lipat lebih banyak dari tahun lalu.
Artinya permintaan angkutan batu bara ke depan akan tetap tinggi?
Masih baik. Dari dua pelanggan, kami punya life of mine contract. Jadi, sepanjang mereka punya reserve (cadangan) batu bara, kami terikat kontrak dengan mereka.
Mereka punya 300 juta ton reserve batu bara. Kalo diasumsikan setiap tahun kami angkut 10 juta ton, berarti kontrak masih berjalan sampai 30 tahun ke depan. Bahkan pada 2023, kami hanya mengangkut sekitar 2,8 juta ton batu bara.
Rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang diperoleh dua pelanggan utama kami pada 2024, 2025, dan 2026 masing-masing 7 juta, 10 juta, dan 13 juta ton. Jadi, dibanding 2023, batu bara yang kami angkut tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya akan jauh lebih banyak.
Itu sebabnya, fundamental kami sangat baik, karena kami punya life of mine contract dengan RKAB tiga tahun ke depan sudah dapat dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kami punya establish dan sustainability business model dengan perform sangat baik.
Anda yakin bisnis ALII akan tumbuh berkelanjutan?
Semua rasio keuangan sangat baik. Rasio likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas, semua baik. Apalagi tahun ini, karena batu bara yang akan kami angkut meningkat dua kali lipat lebih, dari 2,8 juta ton menjadi 7 juta ton. Tahun ini kami akan tumbuh, baik dari sisi laba, cashflow, maupun lain-lainnya.
Dunia sedang bergerak dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT), apakah ini ancaman bagi ALII?
Dalam 11 tahun terakhir, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5%. Yang bikin ekonomi kita tumbuh, salah satu pendorongnya adalah sektor pertambangan dengan kontribusi 11% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sekitar 6,6%-nya dari batu bara. Betapa dominannya batu bara. Dalam empat tahun terakhir, kontribusi batu bara melonjak dari 2,3% menjadi 6,6% terhadap PDB.
Kebutuhan dan permintaan batu bara masih tinggi. Cadangan batu bara nasional pada 2022 mencapai 33,4 miliar. Dari jumlah itu, sekitar 41%-nya berlokasi di Kaltim, sisanya di 14 provinsi di Indonesia. Ini data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian ESDM.
Produksi batu bara dalam lima tahun terakhir berdasarkan compounded annual growth rate (CAGR)-nya mencapai 22%. Sekitar 67% pembangkit listrik di Indonesia kan masih pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau pembangkit berbasis batu bara.
Selain itu, permintaan batu bara dari China untuk pembangkit listrik masih tinggi, mencapai 1,8 miliar sampai 2 miliar ton per tahun. Dari India sekitar 400 juta ton per tahun. Jadi, permintaan ekspor batu bara juga masih tinggi.
Bukankah dunia juga sedang melakukan transisi energi ke gas?
Kemarin saya mengikuti salah satu economic outlook, ada produsen batu bara bilang, sampai hari ini batu bara paling efisien, paling murah. Bahkan sebelum lepas dari batu bara dan masuk EBT, kita mesti transisi dulu, masuk ke gas.
Belum lama ini ada ahli yang mengatakan bahwa untuk proses gasifikasi pun kesiapannya belum optimal karena infrastrukturnya belum siap. Kecuali nanti teknologinya berkembang, di mana EBT lebih murah sehingga bisa diakselerasi.
Sekitar 10 tahun lalu, saya bekerja di shipping company, yang bergerak di bidang offshore supply vessel (OSP) untuk oil and gas company. Kami menyediakan 50 kapal.
Waktu itu di seminar-seminar muncul pernyataan bahwa kami harus siap-siap berinvestasi di small scale LNG carrier karena penggunaan energi berubah dari batu bara dan minyak bumi ke gas. Alasannya, Indonesia kan negara kepulauan, tapi pelabuhannya nggak dalam, maka yang dibutuhkan adalah kapal small scale.
Tapi sampai sekarang investasi mereka di small scale LNG carrier masih zero. Jadi, jalan menuju penggunaan EBT, menurut saya, masih panjang.
Anda ingin mengatakan bahwa rencana ‘suntik mati’ PLTU pada 2040 mustahil diimplementasikan?
Kembali kepada kebijakan pemerintah juga sih. Misalnya PLTU Suryalaya disuntik mati, Jakarta gelap lho, Pak. Contoh lainnya di China, hampir semua rumah sudah pakai solar cell. Tapi kalau kita lihat permintaan China terhadap batu bara yang mencapai 2 miliar ton per tahun, berarti kebutuhannya masih besar sekali. Tidak bisa substitusi, tapi mungkin mengurangi.
Apakah ALII sudah mengantisipasi jika 30 tahun mendatang batu bara habis?
Kalau baca visi ALII, kami ingin jadi to be leading end to end mining logistic and service provider yang meliputi transportation transhipment, dari produksi, eksplorasi, sampai end customer.
Jadi, kalau baca visi ALII, kami sebetulnya tidak bicara coal barging. Kami bicara lebih luas, logistik. Kami sekarang fokus ke coal barging karena demand-nya tinggi.
Kami sudah pelajari komoditas lain, misalnya nikel dan iron sand (pasir besi). Indonesia saat ini mengekspor iron sand ke China untuk solar cell, kemudian China mengekspor solar cell-nya ke Indonesia. Jadi, kami akan mengantisipasi hal itu.
Bagaimana ALII melaksanakan ESG?
Kami sudah melaksanakan environmental, social, and governance (ESG). Bisnis kami sangat efisien. Hampir seluruh pekerjaan kami di-outsourcing-kan ke mitra kerja yang merupakan perusahaan lokal. Sekitar 90% karyawannya orang desa situ. Maka kalau bicara tentang sosial, program pemberdayaan masyarakat sudah kami jalankan dengan baik.
Untuk environmental (lingkungan), kami juga sudah melaksanakannya, di antaranya mengolah limbah B3 dengan baik. Sebagai listed company, kami terus melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai ketentuan yang berlaku. Begitu pula dari sisi governance (tata kelola).
Target ALII ke depan?
Setelah IPO, capital structure kami lebih bagus. Ruang kami untuk mendapatkan kredit dari perbankan makin baik. Kami akan investasi lagi. Kami akan akuisisi lahan untuk membangun ISP ke-2 bagi anak perusahaan kami, MCT. Ini dalam proses.
Selain itu, mother vesselkan di tengah laut. Kami punya floating transceiver unit/FTU (alat bantu bongkar muat untuk memindahkan batu bara dari tongkang ke mother vessel). Mungkin kami akan tambah investasi. ***

