Batu Bara Dinilai Masih Jadi Backbone Ketahanan Energi Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Hendra Sinadia menyebutkan, komoditas batu bara masih akan menjadi backbone ketahanan energi nasional.
Maka dari itu, dia mengaku tidak heran jika produksi batu bara Indonesia masih akan tinggi.
“Komoditas Batubara sejauh ini masih sebagai sumber energi termurah (affordable) yang menjadi backbone dari ketahanan energi nasional,” kata Hendra Sinadia saat dihubungi Investortrust, Kamis (30/5/2024).
Berdasarkan data bauran energi primer tahun 2023, batu bara masih menjadi sumber energi terbesar di Indonesia, yakni menyumbang lebih dari 3 kali lipat kontribusi energi baru terbarukan (EBT).
Baca Juga
Perjalanan RMKE: Bermula dari Bisnis Konstruksi, Berlabuh ke Sektor Angkutan Batu Bara
Kontribusi batu bara mencapai 736,00 juta barrels oil equivalent (MBOE) atau 40,5% dari total 1.819,23 MBOE. Sementara itu, kontribusi minyak bumi sebesar 548,99 MBOE (30,2%), gas bumi 296,11 MBOE (16,2%), dan EBT sebesar 238,12 MBOE (13,3%).
“Cadangan batu bara kita masih cukup besar. Jika Sumber daya dan cadangan kita digabung, paling tidak batu bara masih bisa dimanfaatkan ratusan tahun,” ujar Hendra Sinadia.
Pada tahun 2024, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok target produksi batu bara sebesar 710 juta ton. Dari jumlah itu, alokasi kewajiban pemenuhan batu bara dalam negeri atau DMO mencapai 181,28 juta ton.
Baca Juga
Sebagai perbandingan, pada tahun 2023, produksi batu bara sebesar 775 juta ton atau 112% dari target 694,5 juta ton. Realisasi DMO juga melebihi target. Angkanya sebesar 213 juta ton atau 121% dari target 177 juta ton.
Kendati demikian, Hendra memperkirakan produksi batu bara tahun 2024 ini bisa lebih rendah dari realisasi 2023. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan kalau produksi tahun ini bisa juga lebih tinggi.
“Produksi tahun 2024 diperkirakan lebih rendah dari realisasi produksi 2023. Kemungkinan produksi 2024 hampir sama dengan realisasi produksi 2023 yang lalu yaitu 775 juta ton atau paling maksimal di atas 800 juta ton,” terang dia.

