Harga Bitcoin Sempat Anjlok ke US$ 80.000, Bagaimana Selanjutnya?
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) sempat jatuh ke level US$ 80.000-an. Padahal dalam sepekan terakhir, pasar kripto diselimuti gelombang berita fundamental yang bullish. Para analis sebelumnya memperkirakan lonjakan harga Bitcoin pasca penandatanganan Strategic Bitcoin Reserve, namun realitas di pasar justru menunjukkan tren sebaliknya.
Riset Tokocrypto, Senin (10/3/2025) menyebutkan dalam 24 jam terakhir, Bitcoin telah merosot lebih dari 4% dan kini bertahan di kisaran US$ 82.000. Grafik tujuh hari mengonfirmasi bahwa BTC mengalami penurunan sebesar 3,37%, sementara volume perdagangan harian anjlok hingga 53%. Di tengah kemerosotan ini, para whale Bitcoin justru semakin agresif mengumpulkan aset, dengan total akumulasi mencapai lebih dari 22.000 BTC dalam tiga hari terakhir.
Penurunan harga ini terjadi meskipun pekan lalu diwarnai dengan sentimen positif, seperti perintah eksekutif untuk Cadangan Bitcoin Strategis dan KTT Kripto di Gedung Putih. Banyak yang berharap langkah ini akan memacu reli harga, namun kenyataannya Bitcoin justru terancam turun lebih dalam hingga di bawah US$ 80.000.
Beberapa faktor turut berkontribusi pada tekanan harga Bitcoin yang terjadi belakangan ini. Pertama, faktor ekonomi makro global, terutama kebijakan tarif baru dari AS, memicu aksi jual besar-besaran pada Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Selain itu, rilis laporan penggajian nonpertanian (NFP) pada Jumat lalu mengindikasikan kemungkinan pengetatan moneter oleh The Fed. Jika kebijakan ini diberlakukan, maka suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi minat investor terhadap aset spekulatif seperti Bitcoin.
Para analis juga menyoroti bahwa meskipun perintah eksekutif untuk Strategic Bitcoin Reserve dan Crypto Summit membawa sentimen positif, kurangnya kebijakan konkret yang dapat ditindaklanjuti membuat investor masih ragu untuk masuk ke pasar.
Baca Juga
Harga Bitcoin Cs Jatuh, Pertemuan KTT Kripto Pertama di Gedung Putih Tak Sesuai Ekspektasi?
Koreksi harga Bitcoin juga menyeret altcoin utama ke zona merah. Ethereum (ETH) turun 3,24%, XRP anjlok 6,38%, dan Binance Coin(BNB) melemah 4,78% dalam sehari terakhir. Secara keseluruhan, lebih dari $150 juta dana mengalami likuidasi, sementara kapitalisasi pasar kripto global turun hampir 6% menjadi $2,68 triliun.
Saat ini, investor menantikan apakah Bitcoin mampu bertahan di atas US$ 80.000 atau justru semakin tertekan di tengah ketidakpastian makroekonomi. Dengan volatilitas yang masih tinggi, keputusan investor dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah pergerakan pasar selanjutnya.
Volatilitas Tinggi
Sementara itu, Bitcoin berpotensi mengalami volatilitas yang lebih tinggi jika menutup pekan ini di bawah level support kunci US$ 82.000. Sentimen investor masih lesu usai muncul kekecewaan terhadap kebijakan cadangan strategis Bitcoin Amerika Serikat (AS) yang diumumkan oleh Donald Trump.
Pada 7 Maret lalu, Trump resmi menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan rencana pembentukan cadangan strategis Bitcoin menggunakan aset kripto hasil sitaan dalam kasus kriminal pemerintah, alih-alih membeli Bitcoin langsung dari pasar.
Menurut seorang analis Bitfinex, keputusan itu memicu reaksi negatif di pasar kripto karena investor sebelumnya berharap adanya akumulasi Bitcoin oleh pemerintah AS yang dapat mendorong harga lebih tinggi.
“Investor mengantisipasi bahwa akumulasi Bitcoin oleh pemerintah federal akan menjadi sinyal dukungan institusional yang kuat. Namun, kebijakan yang hanya mengandalkan aset hasil sitaan tanpa adanya pembelian tambahan telah meredam ekspektasi tersebut,” ujarnya, dilansir dari Cointelegraph, Senin (10/3/2025).
Baca Juga
AS Setujui Cadangan Bitcoin Strategis, Sinyal Positif Bagi Pasar Kripto
Sejak 7 Maret lalu juga, harga Bitcoin belum mampu menembus level psikologis US$ 90.000. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level US$ 82.000 pada akhir pekan ini, hal tersebut dapat menjadi sinyal pemulihan sentimen pasar seiring investor mencerna lebih lanjut kebijakan cadangan Bitcoin Trump.
Selain kebijakan terkait kripto, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi kondisi ekonomi makro dan kekhawatiran perdagangan global. Analis dari platform investasi aset digital Nexo Illiya Kalchev mengungkapkan, pergerakan jangka pendek Bitcoin akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang akan dirilis pekan depan.
“Semua mata akan tertuju pada laporan indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) yang diperkirakan menunjukkan perlambatan inflasi, serta laporan pembukaan lapangan kerja yang akan menjadi indikator utama kekuatan pasar tenaga kerja dan potensi penurunan suku bunga,” katanya.
Jika Bitcoin ditutup di bawah US$ 82.000, volatilitas di pasar kripto diperkirakan meningkat tajam. Data CoinGlass menunjukkan, penurunan di bawah level ini dapat memicu likuidasi lebih dari US$ 1,13 miliar posisi long dengan leverage di berbagai bursa.
Namun dari sisi teknikal, Bitcoin mungkin sudah mendekati titik terendahnya. Indikator relative strength index (RSI) Bitcoin berada di level 28 pada grafik harian, menunjukkan kondisi oversold.
Analis kripto Rekt Capital mencatat bahwa setiap kali RSI Bitcoin mencapai angka 28 dalam siklus ini, harga Bitcoin cenderung berada di dekat titik terendah. “Harga Bitcoin akan mencapai titik terendah atau berada di antara -2% hingga -8% dari titik terendah,” ucapnya.

