Saham AKRA Melemah Usai Aksi Pengendali Borong 9,55 Juta Saham
JAKARTA, investortrust.id – Perusahaan pengendali PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), yakni PT Arthakencana Rayatama terus menambah kepemilkan sahamnya pada raksasa distributor kimia dasar dan Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan AKRA Suresh Vembu mengatakan, sebelum transaksi pembelian saham terbaru, PT Arthakencana Rayatama menguasai sebanyak 12,02 miliar lembar saham atau 59,90% saham AKRA.
“Dengan tambahan pembelian sebanyak 9.555.500 miliar lembar saham atau sekitar 0,05%, maka persentasi kepemilikan PT Arthakencana Rayatama meningkat menjadi sebanyak 59,95% atau sebanyak 12,033 miliar saham,” papar Suresh dalam keterbukaan informasi yang dilansir Minggu malam, (3/12/2023).
Baca Juga
AKRA Sebut Bisnis Ini Akan Jadi Sumber Baru Pertumbuhan Berkelanjutan
Dijelaskan, pembelian saham oleh PT Arthakencana Rayatama dilakukan bertahap dengan tiga kali transaksi, yaitu sebanyak 3.889.900 dengan harga transaksi Rp 1.438,77 dengan total Rp 5,59 miliar, pada 28 November 2023
Transkasi kedua dilakukan pada 29 November 2023 sebanyak 1.860.500 dengan harga Rp 1.450 per saham dengan total transaksi Rp 2,69 miliar. Kemudian transaksi ketiga pada 30 November sebanyak 3.805.100 saham pada harga Rp 1.442,9 sehingga dana yang dikeluarkan Rp 5,49 miliar.
Dari tiga transaksi tadi, PT Arthakencana Rayatama mengelurkan dana sebesar Rp 13,77 miliar. Dipantau pada perdagangan sesi I hari ini, Senin (4/12/2023), harga saham AKRA tercatat merosot 1,05% ke level Rp 1.420 per saham, artinya terjadi penurunan dari harga pembelian PT Arthakencana Rayatama.
Baca Juga
Pengendali Ini Tambah Saham AKR Corporindo (AKRA), Jumlahnya Jumbo
“Tujuan transaksi yang dilakukan PT Arthakencana Rayatama untuk investasi dengan status kepemilikan langsung,” imbuh Suresh.
Terkait kinerja, Perseroan berhasil menunjukkan performa keuangan yang kuat selama periode Januari – September 2023. Diantaranya membukukan pertumbuhan laba neto 9% yoy menjadi Rp 1,71 triliun.
Kemudian terjadi peningkatan komitmen pemesanan lahan, sebagai kontribusi dari segmen Kawasan Industri terhadap laba bruto (mencakup penjualan lahan Industri, pendapatan sewa dan utilitas) mencapai 16% dari pendapatan konsolidasi, lebih tinggi dibandingkan dengan 5% pada per September 2023.
‘’Kami juga berhasil mencapai posisi neraca yang kuat dengan total aset Rp 28,81 triliun miliar per 30 September 2023 dengan posisi utang yang rendah,’’ ujarnya.
Pada periode tersebut, posisi kas tercatat Rp 6,8 triliun atau 22% dari total aset. Net gearing ratio tercatat pada -0,17 kali, atau mengindikasikan posisi net cash dan total ekuitas Perseroan sebesar Rp 13,10 triliun atau 45% dari total aset.

