IHSG Balik Arah, “Confirm Rebound” atau "PHP"?
Oleh Hari Prabowo,
Ketua Lembaga Pelatihan dan Pendidikan Pasar Modal (LP3M) Investa dan pengamat pasar modal
INVESTORTRUST.ID - Anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Februari lalu terasa menyesakkan bagi sebagian besar investor. Sepanjang dua bulan sejak awal tahun 2025 atau year to date (ytd), indeks turun 11%. Itu penurunan yang bikin mules memang.
Sampai akhirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumpulkan para pelaku pasar untuk menyikapi penurunan IHSG yang cukup dalam.
Dari pertemuan tersebut antara lain dihasilkan kebijakan OJK bahwa peluncuran short selling ditunda. Short selling sedianya diterapkan bulan ini atau paling lambat pada kuartal II-2025.
Baca Juga
Sempat Dibuka Naik Tipis, IHSG Berbalik Arah ke Zona Merah Memasuki Menit Kedua
Otoritas pasar modal juga mengkaji aksi korporasi buy back saham oleh emiten tanpa harus menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) terlebih dahulu.
Hasilnya, pada Senin (3/3/2025) kemarin IHSG langsung loncat 3,97% atau 249 poin ke level 6.519,65. Harga 454 saham naik, 162 turun, dan 180 stagnan.
Baca Juga
Tersengat Wall Street, Mayoritas Saham di Pasar Asia-Pasifik Jatuh
Kenaikan IHSG ini belum mendapat dukungan investor asing. Sebab jika dilihat dari nilai transaksi investor asing secara all market masih menunjukkan net sell Rp 137,91 miliar.
Kenaikan IHSG ini dimotori oleh saham bank pelat merah, di mana saham BBRI naik 9,23%, BBNI naik 5,71%, BMRI menguat 6,52%, dan BBTN meningkat 5,39%. Saham lainnya yang juga naik lebih dari 5% di antaranya UNVR, BRMS, TINS, LSIP, PTPP, ADHI, SIMP, APLN, dan DEWA.
Apakah kenaikan ini akan berlanjut atau hanya sekadar "PHP" (pemberi harapan palsu)?
Secara fundamental memang beberapa emiten telah menunjukkan price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang lebih rendah dari rerata sebelumnya. Artinya harganya sudah cukup murah. Hal ini juga mengundang minat beberapa emiten untuk merencanakan buy back saham dalam waktu dekat.
Jadi, cukup beralasan jika IHSG masih memungkinkan mengalami penguatan dengan target jangka pendek ke level 6.800 dan jangka menengah di kisaran 7.300 sampai smester I tahun ini.
Namun skenario pesimistis bisa terjadi jika kondisi internal mengalami situasi yang kurang kondusif, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Sedangkan dari sisi eksternal, berbagai kondisi, terutama perang tarif antarnegara besar, seperti Amerika Serikat, China, dan Eropa sangat mengganggu perekonomian sehingga menciptakan ketidakpastian yang masih tinggi.
Baca Juga
Selamatkan IHSG, OJK & BEI Kaji Peluang Emiten Buyback Tanpa RUPS
Aksi investor asing yang belum kompromi melepas saham-saham berkapitalisasi besar juga masih bisa mengganggu pembalikan IHSG dalam jangka pendek ini. Apalagi dukungan investor institusi dalam negeri terasa minim sejak kasus Jiwasraya, Asabri, Taspen, dan dana pensiun BUMN yang mengalami kerugian besar.
Investor memang sebaiknya tetap waspada dengan segala perkembangan yang terjadi, baik internal msupun eksternal yang bisa memengaruhi bursa kita.
Trading pendek dengan target yang terukur cocok untuk saat ini karena volatilitas pasar masih tinggi. Adapun beberapa saham yang layak dicermati dengan potensi penguatan harga yaitu saham bank-bank BUMN, BBCA, UNVR, MAIN, CPIN, dan TLKM. ***

