Bitcoin Sideways Dua Minggu Ini, Selanjutnya Bakal Turun ke US$ 90.000 atau Naik ke US$ 105.000?
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) sideways masih bergerak di kisaran US$ 94.000 hingga US$ 100.000 sepanjang 14 hari terakhir tanpa berhasil keluar dari zona tersebut. Tekanan semakin terasa setelah arus keluar dari perdagangan ETF Bitcoin Spot di AS sebesar US$ 585,65 juta selama periode 10-14 Februari, menurut data SoSoValue.
Menilik data Coinmarketcap, Selasa (18/2/2025) pukul 14.50 WIB, pasar kripto masih memerah. Koin utama sepertI Bitcoin terperosok 0,53% dalam 24 jam terakhir ke US$ 95.480. Begitupun dengan Ethereum (ETH) yang minus 0,22% ke US$ 2.672 dan XRP yang turun 2,73% menjadi US$ 2,57 per koin.
Kapitalisasi pasar kripto global sebesar US$ 3,15 triliun, penurunan 1% selama hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 97,48 miliar, yang berarti peningkatan 49,28%. Sementara dominasi Bitcoin saat ini adalah 60,21%, peningkatan 0,36% selama sehari.
Baca Juga
Inflasi AS di Atas Ekspektasi, Harga Bitcoin Masih Berpeluang ke Level Psikologis US$ 100.000?
Penurunan ini dipicu oleh komentar hawkish Ketua The Fed, Jerome Powell, serta data inflasi AS pekan lalu yang lebih tinggi dari perkiraan. Inflasi tahunan AS tercatat naik menjadi 3% pada Januari, sementara inflasi inti mencapai 3,3%, memicu kekhawatiran pasar. Akibatnya, kapitalisasi pasar aset kripto turun 5%, dan Bitcoin sempat jatuh di bawah US$ 95.000. Powell menegaskan bahwa suku bunga kemungkinan tetap tinggi lebih lama untuk menekan inflasi, yang mengecewakan investor yang berharap pemangkasan lebih cepat.
Selain faktor kebijakan The Fed, sentimen pasar juga tertekan oleh kebijakan tarif Presiden Donald Trump terhadap Kanada, Meksiko, dan China. Kombinasi faktor ini membuat aset berisiko, termasuk Bitcoin, berada di bawah tekanan. Fear and Greed Index Bitcoin pun merosot ke zona ‘Fear’ setelah rilis data CPI, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian di pasar.
Baca Juga
Potensi Reli Bitcoin ke Atas US$ 100.000 Tetap Terbuka, Ini Alasannya
“Selama hampir dua minggu, Bitcoin bergerak di kisaran US$ 94.000 hingga US$ 100.000 tanpa berhasil menembus level tersebut atau mengalami penurunan signifikan. Pergerakan harga cukup tajam, di mana BTC berpotensi naik ke US$ 105.000 jika mampu menembus resistensi psikologis di US$ 100.000. Namun, jika BTC turun di bawah US$ 94.000, koreksi lebih lanjut dapat terjadi dengan support berikutnya di sekitar US$ 91.000," kata Financial Expert Ajaib Panji Yudha dalam risetnya, Selasa (18/2/2025).
Pekan ini, sambung Panji, pelaku pasar kripto bersiap menghadapi data ekonomi AS yang dapat memicu volatilitas. Fokus utama tertuju pada risalah FOMC Januari yang dirilis 19 Februari, memberikan wawasan terkait kebijakan suku bunga The Fed. Pernyataan Jerome Powell yang tidak terburu-buru menurunkan suku bunga, meski ada tekanan dari Donald Trump, semakin diperhatikan pasar.
Selain itu, laporan klaim pengangguran awal pada 22 Februari akan menjadi indikator penting. Pekan lalu, angka klaim turun ke 213.000, lebih rendah dari perkiraan. Jika angka ini kembali naik, pasar dapat mengantisipasi potensi pemangkasan suku bunga lebih cepat, yang bisa meningkatkan daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif.
Terakhir, data Sentimen Konsumen AS dari University of Michigan pada 23 Februari dapat mempengaruhi pasar. "Optimisme konsumen dapat mendorong permintaan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Sebaliknya, ekspektasi inflasi yang meningkat bisa membuat investor beralih ke aset lebih aman, memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," tulisnya.
