Indonesia Cetak Defisit Perdagangan Terdalam dengan Tiga Negara Ini per Januari 2025
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 57 bulan berturut-turut menjadi US$ 3,45 miliar pada Januari 2025. Nilai tersebut menunjukkan peningkatan sebanyak 1,21% secara bulanan dan 1,45% secara tahunan.
Nilai surplus tersebut jauh di atas perkiraan sejumlah pengamat ekonomi dengan prediksi sebelumnya terjadi penurunan surplus perdagangan Januari 2025, dibandingkan Desember 2024.
Meski mencatatkan surplus jumbo, Indonesia ternyata masih konsisten mencatatkan defisit neraca perdagangan dengan tiga negara berikut, yaitu China, Australia, dan Ekuador. Defisit perdagangan dengan China menyentuh US$ 1,77 miliar, Australia US$ 0,18 miliar, dan Ekuador sebesar US$ 0,13 miliar.
Baca Juga
57 Bulan Beruntun, Surplus Perdagangan Indonesia Januari Capai US$ 3,45 Miliar
“Defisit dengan China disumbang komoditas HS 84 atau mesin peralatan dan peralatan mekanis serta bagiannya, lalu HS 85 atau mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta komoditas plastik dan barang dari plastik atau HS 39,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di kantornya, Jakarta, Senin (17/2/2025).
Berdasarkan data, defisit dari HS 84 tercatat mencapai US$ 1,42 miliar, HS 85 sebesar US$ 1,19 juta, HS 39 sebesar US$ 320,1 juta.
Sementara itu, defisit dengan Australia terjadi karena impor serealia yang mencapai US$ 80 juta, logam mulia dan perhiasan/permata sebesar US$ 67,7 juta, dan bahan bakar mineral sebesar US$ 65,7 juta.
Negara penyebab defisit perdagangan ketiga Indonesia yaitu Ekuador akibat impor kakao dan produk olahannya senilai US$ 136,8 juta, tembakau dan rokok sebesar US$ 0,9 juta, dan bijih logam, terak, dan abu sebesar US$ 0,2 juta.
Baca Juga
Jepang Catat Rekor Surplus Transaksi Berjalan pada 2024, Ini Penopangnya
Amalia mengatakan, selain dengan Ekuador, penyuplai kakao Indonesia yaitu Kenya dan Kamerun. Meskipun Indonesia mengalami defisit perdagangan kakao dengan Ekuador, secara umum komoditas kakao dan Indonesia masih surplus perdagangan dengan nilai sebesar US$ 16,11 juta.
“Ditinjau dari komoditasnya, sebagian besar impor Indonesia adalah biji kakao utuh/pecah/mentah dan sangrai dengan total impor US$ 266,51 juta,” ujar dia.
BPS menyebut nilai ekspor kakao mencapai US$ 320,52 juta pada Januari 2025 atau meningkat 3,4%, dibanding Desember 2024. Tujuan utama ekspor komoditas kakao Indonesia antara lain, Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 71,66 juta, India sebesar US$ 47,49 juta, dan China sebesar US$ 35,35 juta. “Produk ekspor unggulan Indonesia adalah kakao olahan, seperti mentega kakao, lemak dan minyak kako, bubuk kakao, dan pasta kakao,” kata dia.

