Prospek Sektor Telekomunikasi Cerah, Saham ISAT Pilihan Utama
JAKARTA, investortrust.id – Pendapatan industri selular diyakini meningkat seiring langkah penaikan harga layanan oleh sejumlah operator sebesar 1-10%.
Tarif layanan baru diperkirakan mendorong pertumbuhan pendapatan layanan selular sebesar 4,2% year on year di kuartal III-2023.
Tim Riset PT Mandiri Sekuritas mencermati, penaikan harga layanan relatif menguntungkan dua operator besar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT).
“Penaikan tarif oleh Smartfrend untuk semua layanan secara agresif beberapa tahun terakhir, serta layanan XL Axiata untuk produk tertentu, memberi ruang bagi Telkomsel meningkatkan ARPU dan mempertahankan harga premiumnya di pasar,” tulis Mandiri Sekuritas dalam riset yang diterbitkan, akhir pekan lalu.
Mandiri menilai, peningkatan pendapatan bisnis selular sebesar 4,2% di kuartal III-2023, melanjutkan peningkatan pendapatan yang diperoleh industri ini di kuartal II-2023 sebesar 3,9%.
Sementara di akhir tahun, secara total pendapatan indusri diperkirakan tumbuh 4,1%, bandingkan dengan pertumbuhan tahun 2022 yang hanya tumbuh 2,8% year on year.
Kendati begitu, dilatari penurunan layanan legacy secara total pendapatan Telkomsel akan melambat sebesar 0,3% YoY di kuartal III-2023.
Sementara pendapatan layanan selular ISAT diperkirakan bertumbuh dari 7,9% YoY di kuartal II-2023 menjadi 8,1% YoY di kuartal III-2023. Kenaikan ini didorong kenaikan tarif layanan.
Adapun dari sisi margin, Mandiri Sekuritas memperkirakan industri telekomunikasi akan mengalami penurunan margin EBITDA dari 52,2% pada kuartal II-2023 menjadi 46,6% pada kuartal III-2023.
Ini dapat dikaitkan dengan margin baru Telkomsel sebesar 45%-46% setelah konsolidasi IndiHome. Sementara ISAT diharapkan dapat melanjutkan peningkatan margin EBITDA menjadi 47,8% di kuartal III-2023 dibanding angka 47,6% di kuartal II-2023.
Sementara XL Axiata akan meningkatkan margin EBITDA dari 49,5% menjadi 49,7% yang berasal dari program efisiensi.
“Kami perkirakan margin EBITDA industri telekomunikasi mencapai sebesar 48,7% pada tahun akhir 2023, dibanding level 50,7% pada tahun 2022,” tulis Mansek.
Dari berbagai analisis tadi, saham ISAT menjadi pilihan utama Mansek, terlebih ISAT menawarkan profil pertumbuhan EBITDA tertinggi. Dari sisi valuasi saham ISAT dianggap relative menarik dengan 5,3 kali EV/EBITDA 2024.
“Namun kami juga menganggap TLKM undervalued dengan valuasi 5,8 kali EV/EBITDA, 2024F/13,8 kali PER 2024F dan imbal hasil dividen di atas 4,2%,” imbuh Mansek.
Target price TLKM disebut Mansek berada di Rp 4.500 tahun 2023 sedangkan ISAT pada angka Rp 12.000 per saham hingga akhir tahun 2023.

