Penurunan Suku Bunga Jadi Katalis Positif Bagi Capex Emiten Pertambangan
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan suku bunga menjadi katalis positif bagi rencana anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) emiten pertambangan, terutama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Hal ini diungkapkan oleh Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin.
“Bank Indonesia menurunkan suku bunga 25 bps menjadi 5,75% pada 15 Januari 2025, mendukung sektor padat modal, terutama komoditas, meskipun harga komoditas cenderung moderat,” tulis Wilbert dalam riset yang dikutip pada Jumat (17/1/2025).
Menurut dia, penurunan suku bunga menciptakan lingkungan pendanaan yang lebih kompetitif untuk investasi menjelang pemulihan harga komoditas pada 2026/2027. Pemangkasan BI rate pun dipercaya dapat meningkatkan daya saing sektor padat modal.
“PTBA diuntungkan dengan pendanaan kompetitif untuk ekspansi jalur kereta api. PTBA mengalokasikan Rp 7,19 triliun untuk belanja modal pada proyek jalur kereta api Tanjung Enim-Keramasan,” sambung Wilbert.
Pasalnya, lebih dari 50% capex tersebut akan dipenuhi oleh pendanaan pihak kedua atau utang. Sehingga penurunan BI rate diharap bisa membantu PTBA memperoleh pembiayaan dengan suku bunga yang lebih kompetitif.
Baca Juga
Penasihat Prabowo Ungkap PR Terbesar Hilirisasi Sektor Pertambangan di Indonesia
Tahun ini, Bukit Asam berencana memproduksi 50,05 juta ton baru bara dengan target penjualan sebanyak 50,09 juta ton. Sedangkan volume pengangkutan batu bara anggota MIND ID tersebut berada di kisaran 43,25 juta ton dengan stripping ratio 6,49.
Di sisi lain Vale Indonesia (INCO) dinilai dapat memanfaatkan suku bunga yang lebih rendah untuk mendukung rencana pertumbuhan agresif. INCO mengalokasikan capex US$ 668 juta untuk belanja modal 2025, dengan berfokus pada pengembangan tambang Pomalaa dan Bahodopi.
“Penurunan suku bunga ini akan membantu INCO memperoleh pembiayaan utang dengan syarat yang lebih menguntungkan untuk mendukung rencana pertumbuhannya,” ujar Wilbert.
BI rate yang turun, dipercaya mengurangi dampak pinjaman capex terhadap laba bersih perseroan sehingga lebih memastikan ketahanan kinerja keuangan. Mengingat, penurunan suku bunga dan kondisi pendanaan yang lebih menguntungkan, memberi fleksibilitas lebih besar bagi PTBA dan INCO.
“Ini akan meminimalkan beban keuangan dan membantu menjaga arus kas yang terkelola,” tutup Wilbert.

