Harga Minyak Dunia Menguat Tipis, Ini Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pagi ini, Selasa (24/12/2024) terpantau bergerak menguat tipis ke posisi US$ 72,96 per barel didukung oleh sentimen dari potensi pengenaan sanksi yang lebih ketat dari negara barat terhadap sektor energi Rusia dan Iran, serta gangguan pasokan gas di negara Eropa.
Meski demikian, kemajuan positif pembicaraan gencatan senjata Gaza dan isyarat peningkatan tensi dagang antara AS dengan China masih terus membebani pergerakan harga.
Baca Juga
Ancaman Tarif Trump Terhadap Permintaan Uni Eropa Angkat Harga Minyak
Dalam catatan riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX), Delegasi Rusia yang diwakili oleh wakil perdana menteri Alexei Overchuk dan Vitaly Savelev bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran pada hari Senin, bersiap untuk menandatangani perjanjian kerja sama yang komprehensif, mencakup kerja sama yang lebih erat di bidang pertahanan.
“Berita tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatkan tensi lebih lanjut antara kedua negara itu dengan negara barat, yang berpotensi menjatuhkan sanksi yang lebih ketat terhadap sektor energi Rusia maupun Iran,” tulis riset ICDX, Selasa (24/12/2024).
Sentimen positif lainnya, negara-negara UE yang masih bergantung pada gas Rusia berpotensi menemui kendala pasokan pada tahun depan pasca Presiden Volodymyr Zelenskiy memutuskan untuk tidak memperpanjang kesepakatan lima tahun untuk mengirim gas Rusia melalui Ukraina ke Eropa yang akan berakhir pada akhir tahun ini.
Baca Juga
Rusia dan Iran Terancam Sanksi Lebih Ketat, Harga Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Tiga Minggu
“Sementara itu, upaya mediasi baru yang dilakukan oleh Mesir, Qatar, dan AS untuk mengakhiri konflik Gaza menunjukkan kemajuan positif. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin mengatakan kemajuan telah dibuat dalam negosiasi sandera dengan Hamas,” ulasnya.
Turut membebani pergerakan harga, tensi dagang antara AS dengan China berpotensi meningkat lebih lanjut setelah penyelidikan terbaru yang dilakukan tim pemerintahan Biden terhadap perdagangan chip buatan China diyakini dapat memberikan Presiden terpilih Donald Trump jalan yang lebih cepat untuk mulai mengenakan sebagian dari tarif 60% pada produk impor China.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 72 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 67 per barel.

