Trump Periode Kedua bakal Guncang Pasar Finansial, Dukungan Fiskal Dibutuhkan
JAKARTA, investortrust.id – Kepemimpinan kedua Donald Trump diprediksi mengguncang pasar finansial, stabilitas nilai tukar, serta hubungan dagang internasional.
Director & Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula mengatakan, guncangan ini bisa terjadi setelah melihat sejumlah kebijakan Trump pada periode pertama, seperti kebijakan yang tidak terduga, drastis, hingga dianggap emosional.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie: Indonesia Harus Antisipasi Kebijakan Donald Trump
“Di era tersebut, beberapa kebijakan, seperti penurunan pajak dan kebijakan proteksionisme, tidak mampu meningkatkan pertumbuhan serta tak terlalu memicu inflasi. Siklus ekonomi lah yang justru memengaruhi angka inflasi dan arah suku bunga,” papar Ezra yang dikutip pada Rabu (18/12/2024).
Di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan-kebijakan AS ke depan, dia mengatakan, potensi pemangkasan suku bunga di 2025 tidak berubah. Perekonomian global diperkirakan memasuki siklus moderasi pertumbuhan dan pelandaian inflasi, sehingga penurunan suku bunga dapat berlanjut.
“Dampak kebijakan Trump terhadap inflasi dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS sepertinya belum akan terjadi di tahun depan. Sehingga The Fed masih punya peluang untuk melanjutkan pemangkasan Fed Funds Rate (FFR),” sambung Ezra.
Baca Juga
Powell Tak Khawatir The Fed Akan Kehilangan Independensi di Era Pemerintahan Trump
Dia mengakui, saat ini besaran pemangkasan FFR memang lebih konservatif, namun ekspektasi pasar akan selalu dinamis mengikuti data dan sentimen terbaru yang muncul.
Kawasan Asia sendiri, menurut Ezra, punya beberapa peluang yang dapat dioptimalkan di tengah outlook kondisi yang menantang. Contohnya pada era perang dagang AS–China 2018, di mana banyak perusahaan multinasional menerapkan strategi China +1 dan Friendshoring.
Solusi ini dinilai cukup berhasil menghadapi ketatnya kebijakan AS saat itu dan kebijakan serupa sangat terbuka diterapkan di 2025. ASEAN dan India sebenarnya diuntungkan dari kondisi tersebut, seiring biaya produksi yang kompetitif dan keterbukaan pemerintah terhadap investasi asing.
Baca Juga
Ezra melanjutkan, Indonesia tak luput dari tantangan global tersebut. Oleh karena itu perlu dukungan dari sisi fiskal untuk mengawal pertumbuhan ekonomi 2025 dalam upayanya menjaga stabilitas Rupiah dan potensi pelemahan ekspor imbas dari kebijakan tarif AS.
Tahun depan, BI diperkirakan lebih berhati-hati melanjutkan pemangkasan suku bunga dengan tetap berfokus pada upaya stabilisasi nilai tukar. Namun dari sisi yang lain, perang tarif ini berpotensi memicu peningkatan Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, terjadi peningkatan kontribusi FDI China dan Hong Kong dari 17% dari total FDI Indonesia di 2016 menjadi 28% di 2023.
Menilik data terkini, komitmen investasi di sektor teknologi tinggi seperti AI, baterai EV, carbon capture juga menggembirakan dan diharap mendukung pengembangan industri domestik, serta memberi nilai tambah lebih.

