KISI AM Bidik Dana Kelolaan Rp 4,5 Triliun pada 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT KISI Asset Management (AM) membidik kenaikan jumlah dana kelolaan (asset under management/AUM) menjadi Rp 4,5 triliun pada 2025 atau sekitar 50% (yoy). Tahun ini, manajer investasi (MI) afiliasi Korea Investment and Securities Co.,Ltd itu, telah mencatatkan AUM Rp 3 triliun.
“Saya pikir kalau AUM, bila jadi peluncuran produk baru, itu saya rasa minimal (naik) Rp 1,5 triliu. Sehingga total penambahan (AUM) harusnya Rp 1-1,5 triliun lah untuk target tahun depan. Sekarang kan sekitar Rp 3 triliun,” jelas Direktur Utama KISI Asset Management Mustofa di Hotel Langham, Jakarta, Selasa (17/12/2024).
Tahun depan, KISI berencana meluncurkan produk reksa dana pendapatan tetap (RDPT) baru, yang saat ini masih menunggu proses perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Reksa dana baru tersebut, diyakini mampu mencetak penambahan AUM minimal Rp 800 miliar dengan nilai proyek diperkirakan mencapai US$ 300 juta.
Baca Juga
Sedangkan porsi produk KISI AM yang paling laku sepanjang tahun ini adalah money market fund dan fixed income plus, sesuai performa imbal hasil produknya.
AUM money market fund per 16 Desember 2024, disebut mencapai Rp 1,3 triliun. Disusul total AUM terbanyak kedua untuk produk fixed income plus yang nilainya belum diungkapkan manajemen.
Mustofa menjelaskan, imbal hasil (return) dari dua jenis produk tersebut cukup bersaing dan dapat menjadi alternatif investasi dibandingkan deposit. Return yang ditawarkan KISI untuk kedua produk tersebut berada pada kisaran 7% sedangkan deposit umumnya menawarkan return 6%.
Reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap yang diandalkan KISI AM juga diklaim lebih likuid dibandingkan deposito. Pencairan produk investasi ini dapat dilakukan dalam waktu tiga hari sedangkan deposito rata-rata butuh satu bulan.
Baca Juga
Ternyata Dana Kelolaan Reksa Dana Bisa Tembus Rp 1.000 Triliun, Asal…
Tahun depan pun, KISI AM masih memprediksi, dua produk andalan tersebut masih akan memimpin pertumbuhan AUM perusahaan.
“Kelebihan-kelebihan tadi, memberikan kami confidence bahwa pattern ini akan continue di tahun depan,” tegas Mustofa.
Senada, Direktur Kepatuhan KISI AM Budianto Kuling menyatakan bahwa reksa dana pasar uang memang menjadi idola pilihan investor tiap tahun. “Karena dari beberapa klien, risk appetite-nya masih main di money market. Belum mau take over, risk yang besar. Mereka lebih suka main di money market,” ujarnya.
Namun dia mengakui, sejumlah klien juga ada yang mulai melirik reksa dana saham karena proyeksi penurunan suku bunga. Hanya saja, manajemen belum bisa menerka porsi investor yang akan berpindah produk, karena iklim investasi tahun depan masih sulit dibaca.
Penyebabnya, kenaikan pajak menjadi 12% akan memengaruhi beberapa pendorong pergerakan ekonomi. Dampak kenaikan tersebut, belum bisa ditakar oleh KISI karena belum terealisasi.
“Tetapi kebayang bahwa money market masih bisa jadi idola. nanti akan diikuti oleh equity dan fixed income. Mungkin beberapa alternatif produk juga akan seperti itu. Mana yang memberikan opportunity lebih baik, pasti mereka pilih,” sambung Budi.
Sedangkan secara industri, dia menyebut bahwa total AUM reksa dana beberapa tahun terakhir turun secara menyeluruh. Berdasarkan data OJK, total AUM reksa dana di Indonesia turun dari Rp 580 triliun pada 2021 menjadi Rp 490 triliun per kuartal II-2024. (CR-10)

