Outlook Investasi di Tahun Naga Kayu
Penulis: Nicodimus A. Kristiantoro
Investment Advisor PT Infovesta Kapital Advisori
JAKARTA, investortrust.id - Tahun 2023 sudah berada di penghujung tahun, bagaimana cerminan investasi beberapa kelas aset selama tahun ini? Berdasarkan data terbaru hingga 17 November 2023, kinerja pasar saham domestik (IHSG) mencatat positive return sebesar +1,85% ytd alias berada di level 6.977,67.
Kemudian untuk pasar obligasi domestik, kita dapat menggunakan indeks benchmark Infovesta yakni Infovesta Government Bond Index (kinerja obligasi negara) yang mencatat positive return sebesar +3,56% ytd dan Infovesta Corporate Bond Index (kinerja obligasi korporasi) yang mencatat positive return sebesar +3,21% ytd.
Kemudian untuk instrumen kelas aset yang terakhir yakni Reksa Dana, juga dapat menggunakan indeks benchmark bentukan Infovesta di mana terdapat 4 indeks yang mewakili masing-masing jenis yakni, Infovesta Money Market Fund Index yang naik +3,55% ytd, disusul oleh Infovesta Fixed Income Fund Index yang naik +3,48% ytd. Sedangkan disisi lain Infovesta Balanced Fund Index turun sebesar -0,33%ytd dan Infovesta Equity Fund Index turun -6,37% ytd.
Dari kondisi terkini, terlihat bahwa instrumen kelas aset saham baik dari sisi IHSG maupun reksa dana saham memberikan return yang kurang optimal karena memang dihadapkan dengan berbagai volatilitas risiko dari global dan domestik.
Namun di sisa akhir tahun 2023 ini, seiring semakin membaiknya data inflasi Amerika Serikat (AS) yang ditopang dengan perlambatan tenaga kerja sehingga yield US Treasury berangsur turun, membuat The Fed diperkirakan bergerak dovish ke depannya, sehingga hal ini dapat menjadi angin segar untuk pasar modal domestik hingga akhir tahun 2023.
Terlebih lagi dimulainya musim kampanye pemilu Presiden 2024 pada 28 November hingga 10 Februari mendatang, diperkirakan akan memberikan dampak positif untuk IHSG. Begitu pula potensi window dressing juga masih terbuka lebar.
Lantas, pertanyaan lanjutannya adalah, bagaimana proyeksi investasi pasar modal domestik untuk tahun 2024 yang jika dilihat berdasarkan kalender China memiliki shio Naga Kayu?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, investor perlu mencermati kemungkinan ada potensi sentimen atau isu apa saja yang akan menghampiri di tahun Naga Kayu. Mari kita cermati dari sisi global terlebih dahulu.
Dari AS, terlihat kondisi sekarang seolah mulai berbalik kearah yang lebih positif. Inflasi AS dari sisi konsumen (CPI) turun ke level 3,2% yoy dari sebelumnya 3,7% yoy. Begitu pula inflasi AS dari sisi produsen (PPI) yang turun ke 1,3% yoy dari sebelumnya 2,2% yoy. Kemudian data beberapa indikator tenaga kerja juga menunjukkan angka penurunan.
Merespon kondisi tersebut, The Fed tidak lagi menaikkan FFR-nya dan pasar memperkirakan level saat ini yang berada di 5,25% - 5,5% sudah mencapai level peak-nya, alias tidak akan ada kenaikan FFR lanjutan.
Dengan demikian untuk tahun 2024, pasar memperkirakan The Fed akan beralih dari yang sebelumnya siklus pengetatan moneter menjadi siklus pelonggaran moneter di mana diprediksi penurunan akan terjadi pada bulan Mei, Juli, dan November 2024.
Berikut rangkuman probabilitas level FFR berdasarkan Fed Fund Futures:
Selain Amerika, negara lainnya yang tak kalah penting untuk dicermati yakni China yang juga menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Untuk tahun 2024, China diprediksi masih mencatatkan perlambatan pertumbuhan walaupun geraknya tidak akan selambat tahun 2023. Hal ini didasari karena beberapa isu seperti masih terjadinya krisis properti di China dimana sektor properti menyumbang andil sekitar 1/3 dari tingkat PDB China. Selain itu, investor juga akan mencermati bagaimana perkembangan kinerja ekspor impor China yang akan memberi dampak langsung terhadap pergerakan harga komoditas global.
Selain dari dua negara tersebut, investor di tahun Naga Kayu juga perlu memfokuskan perhatiannya pada potensi risiko konflik geopolitik lanjutan antara beberapa negara, yang bisa kembali menyebabkan kenaikan inflasi seperti halnya yang terjadi pada tahun 2022, tentu hal tersebut tidak kita inginkan.
Proyeksi Indonesia 2024
Lalu bagaimana proyeksi kondisi dari negara Indonesia? Kita dapat melihat bahwa 2-3 bulan pertama tahun 2024 pasar masih akan disibukkan dengan dinamika politik mulai dari kampanye, proses pencoblosan, hingga perhitungan suara. Proses kampanye hingga perhitungan suara yang berlangsung aman, damai, dan kondusif diyakini dapat membawa arah angin investasi pasar modal Indonesia menjadi lebih positif di kuartal I-2024. Terlebih jika data pertumbuhan ekonomi domestik tahun penuh 2023 yang akan dirilis pada bulan Februari juga dapat sesuai atau bahkan lebih baik dari prediksi konsensus.
Secara fundamental, ekonomi Indonesia diproyeksi juga dapat bertahan kuat ditengah volatilitas dari global, Bank Indonesia diprediksi akan melakukan pelonggaran kebijakan moneter juga jika The Fed mengindikasikan penurunan FFR. Kondisi demikian diproyeksikan baru akan terjadi pada semester 2-2024.
Namun disisi lain, terdapat potensi risiko yang membayangi yakni lamanya proses transisi dari penetapan hasil perhitungan suara sekitar bulan Maret 2024 hingga pada proses pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada Oktober 2024.
Proses transisi yang berlangsung cenderung lama yakni 7 bulan dikhawatirkan dapat mengganggu efektivitas pemerintahan yang sedang berjalan sehingga proses penyerapan APBN diprediksi menjadi kurang maksimal, hal tersebut sempat terjadi pada proses transisi antara Presiden Megawati dengan Presiden Terpilih Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.
Dengan demikian, diproyeksikan gerak IHSG bisa cenderung sideways alias tidak dapat melaju kencang pada masa transisi tahun 2024 jika tidak diimbangi dengan sentimen positif yang dominan.
Menimbang segala plus minus proyeksi sentimen untuk tahun 2024, pertanyaan menarik adalah seperti apa investasi yang akan memberikan return paling tinggi dengan risiko yang lebih terukur di tahun Naga Kayu tersebut? Jawabannya adalah tergantung dengan profil risiko investor.
Jika investor memiliki profil risiko konservatif cenderung moderat, maka pilihan investasi di obligasi negara ataupun obligasi korporasi akan memberikan return yang cukup tinggi di tahun 2024. View bullish untuk pasar obligasi dikarenakan tahun Naga Kayu diproyeksikan akan memberikan ruang untuk pelonggaran moneter, sehingga jika suku bunga turun, maka yield obligasi juga akan turun.
Sehingga investor yang sudah berinvestasi di obligasi negara maupun korporasi dengan rating yang aman, akan merasakan gain tambahan dari kenaikan harga seri-seri obligasi yang beredar di pasar.
Namun, investor obligasi sejatinya perlu bersabar menunggu keputusan penurunan FFR yang diproyeksikan baru akan terjadi Mei 2024. Untuk yield obligasi pemerintah tenor 10-tahun diproyeksikan dapat turun ke rentang sekitar level 6,5% hingga akhir tahun 2024.
Kemudian bagaimana dengan view investasi untuk investor dengan profil risiko moderat cenderung agresif? Pilihannya pasar saham. Untuk pasar saham yang terkenal dengan high risk high return, investor perlu lebih jeli juga menentukan time frame, mau investasi jangka pendek alias jangka yang lebih panjang.
Jika kita menentukan time frame investasi saham di tahun 2024 saja, beberapa potensi sektor dan saham yang dapat memberikan return lebih optimal dibandingkan sektor-sektor lainnya yakni sektor perbankan, konsumen primer, dan sektor properti.
Pada sektor perbankan khususnya emiten bank dengan kapitalisasi besar akan diuntungkan dengan membaiknya kondisi perekonomian baik dari global dan domestik seiring rencana pelonggaran kebijakan moneter.
Pada sektor konsumen primer yang tergolong saham defensif dan masih dibutuhkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari juga menjadi pilihan sektor potensial untuk tahun 2024 karena diekspektasikan harga bahan baku pangan yang semakin turun serta pemulihan ekonomi yang diproyeksikan dapat meningkatkan pendapatan berbasis ekspor untuk emiten FMCG tersebut.
Kemudian untuk sektor properti juga berpotensi mendapat penguatan dikarenakan adanya insentif dari pemerintah seperti bebas biaya administrasi hingga bebas pajak pertambahan nilai. Adapun jika nantinya suku bunga diturunkan juga akan menjadi katalis positif untuk sektor properti.
Sektor yang tak kalah menarik untuk dicermati yakni infrastruktur, khususnya terkait emiten yang bergerak di sub sektor energi terbarukan. Terkait view proyeksi level IHSG untuk tahun 2024 dengan skenario moderat diperkirakan naik sebesar 4,15% kemudian jika menggunakan skenario bullish dapat naik sebesar 8%.
Menarik untuk dicermati bagaimana nantinya kondisi investasi tahun 2024. Sebagai investor tentu kita berharap tahun Naga Kayu dapat memberi cuan yang maksimal untuk setiap portfolio investasi yang kita miliki.
Tapi tentu saja kondisi tersebut harus didukung dengan pemahaman pasar yang memadai dan strategi yang jitu agar bisa memanfaatkan return dan sekaligus meminimalkan risiko terhadap investasi kita. Fondasi pengetahuan yang kuat terhadap instrumen investasi yang akan dipilih akan menjadi kunci sukses investasi kita masing-masing. Happy investing!

