GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) Geber Strategi Agar Cetak Profit Tahun Depan
JAKARTA, Investortrust.id – Baru-baru ini, CEO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Patrick Walujo memberikan gambaran bahwa EBITDA yang disesuaikan (adjusted EBITDA) perusahaan berada di level positif sebesar Rp137 miliar pada kuartal III/2024.
Disampaikan Patrick, adjusted EBITDA perseroan pada periode kuartal III/2024 merupakan angka tertinggi sejak GOTO melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tiga tahun lalu. Adjusted EBITDA perseroan juga melonjak tinggi jika dibandingkan periode yang sama tahun 2023 yang masih negatif Rp559 miliar.
”Jadi kita mencapai adjusted EBITDA sebesar Rp137 miliar, perbaikannya hampir Rp 700 miliar dibandingkan tahun lalu,” kata Patrick kepada media pada awal pekan lalu, Senin (4/11/2024).
Baca Juga
GoTo Teken Kerja Sama dengan Tencent dan Alibaba Senilai Rp 7,8 Triliun
Dalam kesempatan tersebut ia juga menyampaikan harapannya bahwa kinerja perseroan akan kembali meningkat di akhir tahun ini, karena berdasarkan data historis, perseroan selalu mencatatkan kinerja yang baik di kuartal keempat. “Kuartal keempat ini biasanya lebih bagus dari kuartal-kuartal sebelumnya. Jadi, mudah-mudahan nanti kuartal keempat ini, performanya akan mencapai rekor baru lagi,” ujar Patrick.
GoTo Gojek Tokopedia, sejauh ini menawarkan produk dan jasa lewat tiga pilar bisnisnya, yakni layanan on-demand services, perdagangan elektronik (e-commerce), dan teknologi keuangan (financial technology atau fintech).
“Ini kan market-nya memang masih tumbuh, masih bagus. Untuk produk financial technology kita itu bisa jadi unik, kita produksi sesuatu yang bank lain atau financial technology lain gak miliki, yaitu Gojek, ekosistem Gojek,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Catherine Hindra Sutjahyo, Direktur/Presiden Layanan On-Demand GOTO menyampaikan, perseroan punya strategi untuk memperbesar pasar layanan on-demand dengan menjaring para pengguna-pengguna baru melalui produk-produk on-demand services GOTO yang sifatnya pasar umum yang lebih luas atau mass-market.
Baca Juga
Setelah 5 Bulan Uji Coba, GoTo Group Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di 13 Kota
Dengan akuisisi pengguna baru lewat produk mass market, diharapkan pengguna akan mau mencoba pengalaman lain lewat produk GoTo lainnya.
“Jadi produk-produk (mass market) ini, akan menawarkan produk hemat dan bukan hemat, atau lebih hemat, di public transportation. Ini mass market product,” kata Catherine.
“Ternyata pada saat user menggunakan produk-produk ini, mereka mulai upscale dan cross-sell. Jadi misalnya dia pertama kali nyoba pakai GoRide hemat, eh ternyata ada GoRide regular, eh ternyata bisa pesan Go-Food lho, habis itu, dan lain sebagainya. Ini yang menunjukkan bahwa ekspansi user kita itu bukan cuma satu, tapi bisa crossing,” kata Catherine.
Berbekal kelebihan ekosistem pula, Catherine menyebut GOTO bisa mengawinkan produk-produk on-demand services dengan produk finansial yang dimiliki untuk kemudahan para pengguna.
Baca Juga
GOTO Diprediksi Capai Breakeven EBITDA Disesuaikan, Sahamnya bisa ke Level Ini
Berikutnya, GOTO juga menyiapkan produk yang mampu memperbesar margin dan meningkatkan pendalaman wallet share atau kemampuan untuk meningkatkan belanja di ekosistem GoTo.
Biasanya, lanjut Catherine, pengguna yang pertama kali membeli paket Gojek Plus yang tujuannya agar bisa berbelanja lewat GoFood lebih murah, ternyata akhirnya mau menggunakan paket tersebut untuk layanan GoRide hingga GoCar. Langkah ini, lanjutnya, pada akhirnya akan meningkatkan frekuensi pemesanan dan penggunaan layanan, serta mendorong pengguna memperluas pilihan jasa yang ia gunakan.
Berdasarkan data yang ia paparkan, strategi deepening wallet share ini ternyata ikut berkontribusi meningkatkan pendapatan dari iklan sebesar 1,3% dari total Gross Merchandise Value (GMV) dari bisnis makanan (GoFood), atau meningkat 96% secara tahunan di kuartal III-2024.
Patrick mengungkapkan, hampir 30 juta orang di Indonesia menggunakan salah satu layanan dari GOTO setiap bulan. Dari angka tersebut, mereka menggunakan salah satu layanan dari GoTo, seperti GoPay, GoFood, GoRide, dan GoCar, serta produk lainnya dari GoTo.
"Jadi dari kami kita sebetulnya kita melihat bisnis itu mulai dari pengguna kami, penggunanya GOTO itu setiap bulan itu sekitar hampir 30 juta orang kurang lebih," ujar Simon.
Patrick menambahkan ruang untuk bertumbuh bagi GOTO semakin besar. Bandingkan dengan pengguna TikTok per hari mencapai 150 juta orang di Indonesia. Kemudian, WhatsApp informasinya sekitar 200 juta penguna di Indonesia.
"Kita per bulan masih belum sampai 30 juta, kita melihat ruangnya masih cukup besar. Dan kita melihat bahwa kalau kita bisa eksekusi, terutama GoPay dengan baik, untuk menjadi dompet elektronik kesayangan bangsa Indonesia, mestinya jumlah penggunanya bisa mencapai 200 juta, dalam beberapa tahun ke depan. Jadi kita melihat ruang bertumbuhnya masih besar," jelas Patrick.

