IHSG Sesi I Terjungkal 104 Poin, Faktor Ini Jadi Pemicunya dan Trend Bullish Belum Berakhir
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terjungkal 104 poin lebih pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (30/9/2024). Penurunan dipengaruhi minimnya katalis positif akhir September, memanasnya eskalasi Timur Tengah, dan adanya data perlambatan pertumbuha ekonomi China.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengungkapkan, pergerakan IHSG pada bulan September memang relatif bearish setiap tahunnya. Hal ini, setidaknya telah terjadi dalam delapan tahun berturut-turut secara historikal.
“Tetapi pada Oktober, November, dan Desember secara delapan tahun terakhir, IHSG itu majority dalam keadaan bullish. Jadi memang sejatinya di bulan September ini merupakan peluang bagi para investor untuk akumulatif buy,” jelas Nafan kepada Investortrust.id, Senin (30/9/2024).
Baca Juga
Batal Disahkan di Era Jokowi, RUU EBET Tetap Ditargetkan Rampung Tahun Ini
Berdasarkan analisis mereka, saat ini major support IHSG berada di level 7.460. Sedangkan major resistance masih optimistis berada pada level 7.900.
Bicara mengenai faktor koreksi IHSG dalam beberapa hari terakhir ini, Nafan melihat, katalis positif yang mewarnai perdagangan di pasar modal saat ini masih minim. Mengingat, euforia penurunan suku bunga The Fed justru sudah sangat mereda sekarang.
Penurunan juga dipengaruhi data faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi China. Hal ini membuat pemerintah China menggelontorkan stimulus US$ 800 miliar yang akan ditanamkan di pasar modal. Bank di China juga telah menurunkan suku bunga acuan, demi stabilitas perekonomian dan mencegah deflasi.
“Tetapi Saya akui China ini juga menghadapi situasi yang membuat pemerintahannya cukup kesulitan dalam rangka mengoptimalkan perekonomian. Misalnya saja dengan trade fragmentation (pembatasan) terhadap Uni Eropa,” sambung Nafan.
Baca Juga
CIMB Niaga (BNGA) Catat Laba Rp 4,37 Triliun per Agustus 2024, Simak Target Harga Sahamnya
China kerap menerapkan pembatasan perdagangan (trade barrier), terutama produk-produk impor dari Eropa berupa produk elektronik dan kendaraan listrik. Kebijakan tersebut dipercaya bisa mendongkrak kinerja ekspor China.
Belum lagi, penurunan suku bunga oleh The Fed otomatis membuat posisi Yuan menguat. “Tentunya ini akan menjadi benefit bagi peningkatan devisa hasil ekspor kondisinya lagi mengalami suku bunga acuan seperti itu. Jadi wajar saja China menerapkan beragam kebijakan menurunkan suku bunga juga,” jelas Nafan.
Selanjutnya, sentimen lain yang memengaruhi pergerakan IHSG adalah ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah yang meningkat. Hal ini turut mengurangi selera risiko (risk appetite) investor yang cenderung memilih berinvestasi di instrumen seperti emas.
Baca Juga
Apresiasi PMI Manufaktur RI Terus Ekspansif, Ketum Kadin Anindya Ungkap Industrialisasi Terjadi
Dengan begitu, Nafan optimistis, IHSG dapat kembali naik perlahan sejak Oktober 2024, yang dilanjutkan pada November dan Desember sampai Februari di tahun berikutnya. Proyeksi ini berkaca pada data historikal rata-rata IHSG delapan tahun terakhir
Dihubungi secara terpisah, Technical Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan bahwa IHSG masih rawan melanjutkan koreksi untuk menguji level 7.653-7.546.
“Secara historikal lima tahunan, return IHSG di bulan September akan cenderung turun dan diperkirakan akan kembali di bulan Oktober,” ungkapnya.
Grafik IHSG

