Bitcoin Siap Meningkat, Para Analis Incar Harga US$ 92.000
JAKARTA, investortrust.id - Setelah beberapa bulan mengalami pergerakan yang menurun, Bitcoin (BTC) mungkin siap untuk reli atau mengalami peningkatan dalam tiga bulan. Sejumlah analis memprediksi harga Bitcoin akan berada di atas US$ 92.000.
Analis Populer Titan Crypto mengungkapkan, harga Bitcoin dapat berada di ambang reli tiga bulan berdasar pola grafik pasca halving historis. Bitcoin baru-baru ini menguji ulang level dukungan utama pada grafik mingguan, yang dapat mengantarkannya untuk reli di atas US$ 90.000.
“Pada siklus sebelumnya, ketika harga menguji ulang simple moving average 50 minggu, harganya melambung setidaknya 40%. Rata-rata, kenaikannya adalah 71%. Jika Bitcoin naik 71% dari sini, harganya bisa mencapai US$ 92.000,” ujarnya, dalam postingan X, dilansir dari Cointelegraph, Selasa (17/9/2024).
Baca Juga
Bitcoin pulih di atas level psikologis US$ 60.000 pada 14 September, untuk pertama kalinya sejak 30 Agustus lalu. Menurut data Bitstamp, harga Bitcoin mengalami tren turun selama lebih dari tiga bulan, di mana selama tren tersebut harganya turun lebih dari 9%.
Menurut data CoinGlass, secara historis, September merupakan bulan dengan kinerja buruk untuk Bitcoin, dengan pengembalian rata-rata sebesar -4,69%, menjadikannya bulan paling bearish berdasarkan pengembalian rata-rata.
Baca Juga
Bitcoin Melonjak Setelah Penurunan Besar, Fokus Pekan ini Ada di Data Inflasi dan The Fed
Sementara itu, trader kripto populer Mags, dalam postingannya di X menyebut, koreksi saat ini bisa jadi merupakan peluang pembelian terakhir sebelum kenaikan berikutnya.
“Bitcoin memberikan tiga kesempatan untuk membeli sebelum harganya melambung tinggi. Kesempatan terakhir adalah tepat setelah halving. Ini bisa jadi kesempatan terakhir anda untuk membeli Bitcoin dengan harga murah sebelum harganya melambung tinggi,” katanya.
Kemudian, analis dengan nama samaran Checkmate juga menunjukkan bahwa Bitcoin diposisikan dengan cara yang sama persis seperti selama dua siklus bull sebelumnya.
“Saya lebih suka perbandingan titik terendah siklus karena menggambarkan waktu psikologis yang dibutuhkan investor untuk pulih dari pasar yang sedang lesu,” ucapnya.

