IPO Saham, Barito Renewables (BREN) Ternyata Nomor Wahid di Indonesia dan Kelima Dunia
JAKARTA, Investortrust.id – PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) merupakan pengembang dan pemilik pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Indonesia dan nomor lima di dunia. Perseroan dan melalui anak usahanya menguasai kapasitas pembangkit listrik sebanyak 886 MW.
Di antaranya, pembangkit listrik tenaga panas bumi Wayang Windu, Salak, dan Darajat, dengan total kapasitas sebanyak 886 MW. Di antaranya, perseroan bertindak sebagai pemegang 90% saham Star Energy Geothermal Wayang Windu Ltd (SEGWWP) yang mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi.
Baca Juga
Perusahaan Prajogo Pangestu Ini (BREN) Bidik Dana IPO Rp 3,51 T, Simak Keunggulan Bisnisnya
Perseroan juga bertindak sebagai pemegang masing-masing 76,11% saham Star Energy Geothermal Darajat I dan II. Perseroan juga tercatat sebagai pemeang Star Energy Geothermal Salak, Ltd. (SEGSL) dengan kepemilikan sebanyak 76,11% saham. Perseroan juga bertindak sebagai pemegang Star Energy Geothermal Darajat II
Perusahaan Prajogo Pangestu ini juga bertindak sebagai pemegang 76,11% saham pembangkit energi panas bumi dan pembangkit listrik Star Energy Geothermal Salak Pratama, Ltd (SEGSPL)
Berdasarkan prospektus perseroan, pembangkitan listrik tenaga panas bumi Wayang Windu terdiri atas dua unit dengan kapasitas pembangkit terpasang bruto gabungan sebesar 230,5 MW.
Sedangkan operasi pembangkit listrik tenaga panas bumi Darajat dan Salak memiliki kapasitas pembangkit terpasang bruto masing-masing 274,5 MW dan 381 MW, termasuk didalamnya secara berturut-turut, kapasitas penjualan uap sebesar 55 MW dan 180 MW.
Baca Juga
Dengan demikian total kapasitas terpasang bruto pembangkit listrik perseroan hingga tahun 2022 mencapai 886 MW dan diharapkan bertambah sebanyak 146 MW menjadi 1.032 MW pada 2027.
Manajemen perseroan mengungkap bahwa perseroan akan mempertahankan operasi dan kapasitas dari pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dimiliki saat ini dengan cara melakukan efisiensi atas biaya operasi, mengurangi biaya pengeboran, dan menghasilkan tenaga uap yang maksimal melalui penggunaan metode dan teknologi terbaru dalam proses pengeboran dan penentuan lokasi pengeboran sumur.
Perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu ini juga akan menambah kapasitas terpasang dari pembangkit listrik tenaga panas bumi di Wayang Windu, Salak, dan Darajat melalui penambahan cadangan panas bumi baru dan penerapan teknologi turbine dan cooling tower terbaru.
Selain itu, Group perseroan berencana untuk mengembangkan lapangan panas bumi di Sekincau Selatan dan Hamiding. Perseroan juga telah mengembangkan unit tambahan di Wayang Windu, yaitu Unit 3.
Baca Juga
“Dengan adanya cadangan panas bumi tambahan tersebut, grup perseroan akan bisa membangun unit tiga baru dan meningkatkan kapasitas pembangkitan terpasang bruto perseroan sampai sebesar 23 MW, yaitu dari 230,5 MW ke 253,5 MW pada tahun 2026,” terangnya.
Di Salak, perseroan tengah dalam proses tahap akhir pembangunan pembangkit listrik Salak binary dengan kapasitas 14 MW yang direncanakan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2023.
Dengan adanya inisiatif tersebut, kapasitas terpasang bruto Grup Perseroan pada tahun 2022 sebesar 886 MW, diperkirakan akan meningkat sebesar 146 MW menjadi 1.032 MW pada tahun 2027.
Kelima Dunia
Manajemen perseroan mengungkapkan bahwa pembangkitan tenaga panas bumi di Indonesia baru dimulai tahun 1970 dan 1980 sebagai upaya yang dimandatkan pemerintah di bawah kepemimpinan dan kendali operasional Pertamina.
Baca Juga
Target Harga Pertamina Geothermal (PGEO) masih Jumbo, Berikut Faktor Pendorongnya
Industri yang dimulai sebagai monopoli kemudian bertumbuh secara progresif untuk mengintegrasikan pemain baru, pertama melalui JOC dengan Pertamina dan kemudian melalui mekanisme pasar terbuka. Lanskap panas bumi saat ini terdiri dari enam perusahaan. Selain Pertamina, seluruh perusahaan lainnya mulai beroperasi tahun 2000.
Prospektus perseroan juga mengungkap bahwa sebanyak 80% dari kapasitas terpasang panas bumi dunia tahun 2023 terkonsentrasi di 5 negara, yaitu Indonesia (20%), Amerika Serikat (21%), Turki (16%), Filipina (14%), dan Selandia Baru (8%). Perseroan menempati peringkat kelima terbesar di dunia untuk pengembangan panas bumi.

