Saham Stagnan, Garudafood (GOOD) Buka Opsi Berikut
JAKARTA, investotrust.id – PT Garudafood Putra Putri Tbk (GOOD) berencana menggelar pembelian kembali (buy back) dengan target 46,39 juta atau setara dengan 0,13% saham. Total dana yang disiapkan berkisar Rp 20 miliar.
Manajemen GOOD menyebutkan bahwa buy back saham tersebut akan dilaksanakan dalam 12 bulan ke depan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 3 Mei 2024.
Baca Juga
Penjualan Naik Tipis, Garudafood (GOOD) Cetak Lonjakan Laba 36,50%
“Buy back saham bertujuan agar perseroan dapat memiliki fleksibilitas guna menjaga stabilitas harga saham perseroan. Sebab saat ini tidak mencerminkan nilai atau kinerja perseroan,” tulis manajemen dalam penjelasan resminya di Jakarta, hari ini.
Berdasarkan data harga saham GOOD mencatatkan penurunan sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd) dari level Rp 430 menjadi Rp 428. Bahkan, sepanjang tahun berjalan, saham GOOD relatif bergerak di rentang level tersebut.
Sebelumnya, Garudafood (GOOD) membukukan kenaikan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 36,50% menjadi Rp 580,41 miliar pada 2023, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 425,62 miliar.
Kenaikan tersebut menjadikan laba per saham perseroan meningkat menjadi Rp 15,78, dibandingkan tahun 2022 senilai Rp 11,64 per saham. Kenaikan laba tersebut didukung peningkatan penjualan dari Rp 10,51 triliun menjadi Rp 10,54 triliun bersamaan dengan penurunan beban pokok penjualan dari Rp 7,85 triliun menjadi Rp 7,67 triliun.
Baca Juga
Impresif! Rupiah Ditutup Menguat Didorong Keputusan The Fed hingga KPU
Penurunan pesat beban pokok tersebut menjadikan laba bruto tumbuh dari Rp 2,65 triliun menjadi Rp 3,87 triliun. Sedangkan laba sebelum pajak penghasilan naik dari Rp 674,25 miliar menjadi Rp 783,01 miliar. Laba tahun berjalan naik dari Rp 521,71 miliar menjadi Rp 601,46 miliar.
Tahun lalu, GOOD berhasil mencatatkan kenaikan total aset dari Rp 7,32 triliun menjadi Rp 7,42 triliun. Sebaliknya liabilitas perseroan turun dari Rp 3,97 triliun menjadi Rp 3,51 triliun.

