Kelanjutan Integrasi Garuda Indonesia (GIIA) ke Holding BUMN Pariwisata Belum Jelas
JAKARTA, investortrust.id - Rencana integrasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIIA) ke holding BUMN aviasi dan pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney hingga kini masih belum jelas kapan akan terealisasi.
Direktur Pemasaran dan Program Pariwisata InJourney Maya Watono menyatakan pihaknya belum bisa memastikan kapan Garuda Indonesia akan bergabung dengan InJourney.
“Namun, waktunya kami belum tahu periodenya kapan,” katanya ketika ditemui usai konferensi pers penandatanganan kerja sama InJourney dan Thai Airways di Sarinah, Jakarta Pusat, Senin (19/8/2024).
Baca Juga
Garuda Indonesia (GIAA) Masuk Top 25 Perusahaan Terbesar Versi Fortune 100
Walaupun demikian, Maya memastikan bahwa integrasi Garuda Indonesia ke InJourney akan terealisasi. Sebab, rencana tersebut sejalan dengan buku putih (white paper) perusahaan yang menempatkan sebagai salah satu pilar utama pengembangan bisnis dan ekosistem pariwisata di Indonesia.
Sebagai catatan, InJourney saat ini menaungi PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality), PT Sarinah, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (InJourney Destination Management). Pemerintah juga menyerahkan mayoritas saham pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) ke perusahaan ini.
Sebelumnya, Maya sempat menyebut Garuda Indonesia akan bergabung dengan InJourney selambat-lambatnya pada akhir tahun ini. Aksi korporasi itu menurutnya membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat.
Baca Juga
Tumbuh 35%, Penumpang Garuda Indonesia Group (GIAA) Capai 6,11 Juta di Kuartal II-2024
“Masih dalam kajian, tantangannya banyak, semoga semuanya berjalan dengan lancar, targetnya tahun ini [terealisasi],” katanya kepada Investortrust ketika ditemui di Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2024).
Lebih lanjut, Maya menyebut pihaknya belum bisa memberikan informasi secara detail terkait penggabungan usaha Garuda Indonesia ke InJourney. Namun yang jelas, aksi korporasi itu tidak sekadar untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, baik dari sisi Garuda Indonesia maupun InJourney.
“Jadi, kita ini kan punya purpose, purpose-nya lebih besar dari sekadar profitability [keuntungan] Ini untuk bangsa dan negara kita menata ulang air connectivity [konektivitas udara] dan ekosistem pariwisata Indonesia,” tuturnya.
Baca Juga
Dukung PON XXI, Garuda Indonesia (GIAA) Siapkan 28.300 Kursi Tambahan Penerbangan Aceh–Medan PP
Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan integrasi maskapai penerbangan nasional (flag carrier) ke InJourney bisa rampung sebelum Oktober 2024. Proses integrasi tersebut dilakukan paralel dengan merger anak usahanya, maskapai penerbangan berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) PT Citilink Indonesia dengan maskapai penerbangan anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pelita Air Service.
Setelah merger rampung, kedua maskapai penerbangan itu juga akan diintegrasikan ke InJourney. Dengan demikian, nantinya seluruh maskapai penerbangan pelat merah nantinya akan terintegrasi sepenuhnya di bawah naungan holding BUMN aviasi dan pariwisata.
Menurut Irfan, banyak isu yang perlu dibahas, seperti soal legal, valuasi, ekuitas Garuda Indonesia yang masih negatif, rencana pemerintah dan Kementerian BUMN mengenai industri aviasi di dalam negeri. Selain itu, pembahasan juga dilakukan mengenai jumlah pesawat terbang di Indonesia, harga tiket, hingga bisnis pesawat carter atau penerbangan tidak berjadwal yang juga dijalankan oleh Pelita Air.

