Menanti Koreksi Harga Bitcoin Berakhir, Investor Beri Sinyal Potensi Pemulihan
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) sempat sedikit meningkat sebesar 0,9% menjadi US$ 60.052 selama sesi perdagangan hari Minggu (18/8/2024). Namun, perlahan turun pada Senin (19/8/2024) pagi yang mendorong BTC di bawah level US$ 59.000 atau anjlok 2,42%. Hingga siang BTC juga masih berada di level US$ 58.000-an.
Harga BTC telah berfluktuasi di sekitar level psikologis ini selama dua minggu terakhir, dan akhir pekan yang bergejolak rendah tidak mengonfirmasi kesesuaiannya. Akankah tren pemulihan berlanjut, atau pelaku pasar akan melakukan serangan balik untuk koreksi yang berkepanjangan?
Dalam dua minggu terakhir, harga Bitcoin menunjukkan pembalikan yang signifikan dari US$ 49.000 menjadi US$ 60.052, mencatat kenaikan sebesar 22%. Secara berturut-turut, kapitalisasi pasar melonjak menjadi US$ 1,18 miliar.
Harapan pemangkasan suku bunga The Fed dan data AS yang kuat Minggu in dapat mendorong kenaikan BTC lebih lanjut di tengah permintaan ETF. Sementara, dalam minggu yang berakhir pada 16 Agustus, pasar ETF BTC spot AS mencatat total arus masuk bersih sebesar US$32,4 juta, mengakhiri tren arus keluar selama dua minggu. Hal ini menangkal risiko kelebihan pasokan dan meningkatkan permintaan Bitcoin.
Pasar ETF BTC-spot AS mengalami total arus keluar bersih sebesar US$ 81,4 juta pada hari Rabu, 14 Agustus, menyusul berita tentang pemerintah AS yang mentransfer 10.000 BTC ke dompet Coinbase. Transfer BTC tersebut memicu kekhawatiran tentang kemungkinan pesanan jual dalam jumlah besar, yang dapat memengaruhi tren penawaran dan permintaan BTC. Pasokan berlebih dapat mendorong BTC menuju US$ 55.000.
“Namun, meningkatnya harapan akan beberapa kali pemangkasan suku bunga Fed pada tahun 2024 dan pemulihan ekonomi AS yang lemah meredakan kekhawatiran kelebihan pasokan, sehingga mendorong permintaan ETF BTC-spot,” kata Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur dalam risetnya, Senin (19/8/2024).
Baca Juga
Pemerintah AS Jual Bitcoin Silk Road, Begini Dampaknya Bagi Pasar Kripto
Minggu ini, pelaku pasar fokus akan beralih ke klaim pengangguran AS, PMI jasa, Risalah Rapat FOMC, dan pidato dari Simposium Jackson Hole di mana Ketua The Fed, Jerome Powell akan hadir. Pasar tenaga kerja dan aktivitas sektor jasa yang optimis serta dukungan untuk beberapa pemangkasan suku bunga Fed pada tahun 2024 dapat meningkatkan permintaan BTC. BTC dapat menargetkan US$ 70.000 dalam lingkungan berisiko.
Meskipun demikian, investor harus memantau pemerintah AS dan aktivitas Mt. Gox. Pemerintah AS saat ini memegang 203.239 BTC (US$ 12,08 miliar), sementara Mt. Gox menahan 46.164 BTC (US$ 2,75 miliar) untuk pembayaran kembali kepada kreditur.
Pelaku pasar tampaknya mulai optimis dengan potensi sektor kripto dalam beberapa hari mendatang. Selain itu, banyak investor kini memperkirakan harga Bitcoin akan terus menguat, karena banyak yang menganggap aset tersebut sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Sentimen Crypto Fear & Greed Index masih menunjukan pelemahan dikategori 'Fear' dengan 28 poin, masih lebih baik dibanding minggu lalu yang berada di level "Extreme Fear." Hal ini menunjukan bahwa meskipun sentimen pasar masih cenderung negatif, ada sedikit peningkatan dalam kepercayaan investor terhadap pasar kripto.
Kenaikan tersebut mungkin disebabkan oleh stabilisasi harga Bitcoin dan aset kripto utama lainnya, serta berita-berita positif yang mulai muncul kembali di industri. “Namun, investor masih tetap waspada dan berhati-hati, menunggu katalis yang lebih kuat untuk mendorong pasar kembali ke zona optimis,” kata Fyqieh.
Baca Juga
Reku Catat Peningkatan 60% Pengguna Kripto di Luar Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi Tertinggi
Analisis Pergerakan Bitcoin
Bitcoin saat ini berada dalam fase yang menarik, dengan posisinya yang berada di atas Exponential Moving Average (EMA) 200 hari tetapi masih di bawah EMA 50 hari. Posisi ini memberikan sinyal yang beragam bagi para investor: Bearish dalam jangka pendek, tapi bullish dalam jangka panjang.
Salah satu level kunci yang perlu diperhatikan adalah resistensi di US$ 60.365. Jika Bitcoin berhasil menembus level ini, ada potensi pergerakan harga menuju EMA 50 hari. Lebih jauh lagi, penembusan dari EMA 50 hari dapat membuka peluang bagi Bitcoin untuk bergerak menuju resistensi selanjutnya di US$ 64.000. Ini akan menjadi sinyal kuat bagi para investor bahwa momentum bullish semakin kuat.
Namun, penting juga untuk memperhatikan sentimen data ekonomi dan pidato Ketua The Fed pekan ini dan arus masuk ETF BTC. Jika Bitcoin gagal mempertahankan posisinya di atas EMA 200 hari, tekanan penjualan dapat mendorong harga turun hingga US$ 55.000. Penurunan ini berpotensi membawa level support di US$ 52.884 ke dalam permainan.
Melihat indikator Relative Strength Index (RSI) harian di 47,06, Bitcoin mungkin mengalami penurunan hingga US$ 55.000 sebelum masuk ke wilayah oversold. Level ini sering kali dianggap sebagai titik balik, di mana investor mulai melihat peluang beli yang menarik.
Secara keseluruhan, posisi Bitcoin di atas EMA 200 hari menunjukkan bahwa tren pasar yang lebih luas mulai berubah menjadi bullish. Namun, para investor perlu tetap waspada dan memantau level-level kunci seperti EMA 50 hari dan resistensi US$ 60.365 untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
“Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, Bitcoin berada dalam posisi yang menarik dengan potensi kenaikan signifikan. Namun tetap rentan terhadap tekanan jual jika level support tidak bertahan,” ucap Fyqieh.

