Yen dan Bursa Saham Tokyo Ambruk, Bagaimana Pengaruhnya ke Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id - Usai Deputi Gubernur Bank of Japan (BoJ) Shinichi Uchida mengatakan bahwa BoJ tidak akan menaikkan suku bunga kebijakannya ketika pasar keuangan dan pasar modal tidak stabil, Bursa Saham Tokyo terjun sebesar 20% dalam tiga hari, atau merupakan kejatuhan terbesar dalam sejarah, yang bahkan melampaui kejatuhan Black Monday pada tahun 1987.
Tidak hanya itu, yen jatuh lebih dari 2% dan aset EM melonjak pada Rabu (7/8/2024). Jepang pun efektif kembali ke mode pelonggaran.
“Pasar ekuitas menyampaikan pesan yang jelas kepada Bank of Japan bahwa ekonomi tidak dapat menahan kenaikan suku bunga yang agresif, dan tindakan BoJ hanya akan mematikan pasar,” tulis Head of Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro dan Ekonom Bahana Sekuritas Drewya C dalam risetnya yang dikutip Rabu (7/8/2024).
Dengan demikian, Jepang terjebak dalam kebijakan suku bunga mendekati nol. Bahana menilai, yen berada dalam tren depresiasi struktural karena Jepang meskipun inflasinya tinggi, tidak dapat dengan mudah menaikkan suku bunga dan mempersempit spread imbal hasil dengan negara lain.
Bahana menilai kepedulian Bank of Japan kepada pasar saham, ditandai dengan adanya ETF ekuitas. Oleh sebab itu, Bahana menilai undershooting ekstrem dalam dolar AS dan yen Jepang dan aksi jual baru-baru ini pada ekuitas Jepang dapat memberikan efek kekayaan negatif pada konsumen dan perusahaan yang bergantung pada ekspor.
Hal ini akan mendorong kenaikan suku bunga BoJ berikutnya hingga Desember atau Januari 2025, dibandingkan ekspektasi awal untuk September atau Oktober 2024. Data BoJ menunjukkan bahwa investor domestik memiliki sekitar 70% ekuitas, dan pada akhir tahun 2023, aset rumah tangga Jepang dalam bentuk saham melonjak 29% yoy menjadi US$ 1,8 triliun, dibantu oleh kenaikan harga saham.
“Pasar menilai ekonomi Jepang tidak sekuat ekonomi AS, terlihat pada aksi jual brutal baru-baru ini pada ekuitas Jepang. Pasar tampaknya berpikir bahwa ekonomi Jepang tidak cukup kuat untuk menahan siklus pengetatan agresif BoJ,” paparnya.
Bahana memproyeksi bahwa BoJ akan segera kembali ke mode pelonggaran, sehingga membebani mata uangnya. Sementara itu, Bahana menilai the Fed tidak berpikir akan mengadakan pertemuan darurat untuk memangkas suku bunga sebelum September.
“Kami percaya bahwa koreksi pasar baru-baru ini sebagian besar didorong oleh penghentian perdagangan carry yang didanai JPY, daripada ketakutan resesi ekonomi AS,” terangnya.
Sementara itu, Bahana mencermati Indonesia relatif tidak terpengaruh oleh gejolak pasar global, dengan indeks acuan LQ45 turun hanya 1,6% bulan ini, di antara yang berkinerja terbaik di dunia. Hal tersebut sebanding dengan penurunan lebih dari 7% di Korea Selatan dan Taiwan, yang selama dua tahun terakhir telah diuntungkan oleh gencarnya AI global.
Bahana mencermati Indonesia akan mendapat manfaat dari rotation trade dari pasar saham Asia Timur yang gencar ke AI ke pasar saham ASEAN, mengingat prospek PDB Indonesia yang relatif sehat.
Bahana merekomendasikan perusahaan dengan hasil keuangan kuartal II 2024 yang tangguh, dengan pilihan utama adalah BBCA, BMRI, CMRY, MYOR, AMRT, MIDI, GOTO, dan MIKA.
“Di sektor perbankan, pemulihan kualitas aset masih berlangsung dengan margin bank yang tetap tertekan, tetapi pertumbuhan kredit yang kuat menyiratkan prospek ekonomi yang lebih kuat ke depannya. Di sektor konsumen, proksi barang kebutuhan pokok juga melaporkan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dari yang diharapkan,” pungkasnya. (CR-4)

