Chandra Asri (TPIA) Torehkan ATH hingga Geser Market Cap AMMN, Dua Aksi Korporasi Besar Ini Jadi Alasan
JAKARTA, investortrust.id – Saham emiten Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), mendadak melesat ke level tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan intraday sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dipicu lompatan harga tersebut kapitalisasi pasar (market cap) TPIA melambung ke posisi tiga dengan nilai lebih dari Rp 960 triliun. Angka tersebut menggusur PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi peringkat empat dengan nilai Rp 824,89 triliun.
Lompatan harga saham AMMN ke level tertinggi baru terjadi saat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui konferensi pers RDKB Juni 2024 menyebutkan bahwa OJK tengah menelaah hasil pendalaman pemeriksaan transaksi saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Pendalaman bertujuan untuk melihat apakah terdapat indikasi perdagangan semu transaksi dua saham emiten Prajogo tersebut.
Baca Juga
Akuisisi Kilang Minyak dan Kimia Shell Energy akan Perkuat Chandra Asri (TPIA)
Berdasarkan data perdagangan saham BEI hingga pukul 11.15 WIB, saham TPIA melesat Rp 1.500 (15,50) menjadi Rp 11.175. Bahkan, saham TPIA sempat melambung ke level Rp 11.225. Dengan demikian, saham TPIA satu dari empat saham emiten yang dikendalikan Prajogo yang telah berhasil ke luar dari zona penurunan, bahkan cetak level harga tertingi baru.
Lalu, apa pemicu utama lompatan harga saham emiten terbesar kedua milik Prajogo Pangstu ini? Sucor Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa gerak saham TPIA ditentukan penyelesaian dua aksi korporasi besar tahun ini. Dua aksi ini akan menjadi sentimen positif terhadap kinerja keuangan dan pergerakan saham emiten ini.
Baca Juga
Saat OJK Lanjutkan Pendalaman Pemeriksaan, Begini Gerak Saham BREN dan CUAN
Kedua aksi korporasi itu, yaitu TPIA bersama dengan Glencore sebelumnya telah membentuk perusahaan patungan CAPGC Ple Ltd. TPIA bertindak sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan patungan tersebut. Pembenatukan perusahaan tersebut bagian dari rencana untuk ekspansi melalui akuisisi.
Perusahaan patungan ini dibentuk untuk mengakuisisi aset kilang minyak Shell di Singapura, Shell Singapore Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) dari Shell Singapore Pte Ltd. Kilang minyak tersebut memiliki kapasitas pemrosesan sebanyak 237 ribu barel per hari dan ethelene cracker dengan kapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun.
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan dan Jeremy Hansen NH menyebutkan bahwa akuisisi kilang tersebut bisa mengerek laba Chandra Asri (TPIA) menjadi US$ 300 juta, dibandingkan laba tahun lalu senilai US$ 34 juta. Sumbangan laba tersebut mencerminkan net margin sektiar 1-4% dari total pendapatan CAPGC diperkirakan mencapai US$ 10 miliar.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Keruk Cuan Bisnis Kepelabuhanan lewat Chandra Pelabuhan Nusantara
Aksi korporasi kedua adalah rampungnya spin off anak usaha PT Chandra Pelabuhan Nusantara (CPAT) pada Juni 2024 dan akan dilanjutkan dengan penerbitan saham baru untuk menjaring dana jumbo guna ekspansi.
Spin off akan disertai dengan transaksi affiliasi dari TPIA kepada PT Chandra Daya Invesetasi (CDI), yaitu memperbolehkan CDI mengambil bagian atas saham biasa baru yang telah atau akan diterbitkan CPAT. CDI diberikan opsi pemesanan sebanyak 51% saham perusahaan pengelolaan pelabuhan tersebut senilai US$ 326,4 juta.
Meski TPIA menjadi emiten yang paling diuntungkan, Sucor Sekuritas menyebutkan bahwa saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) selaku induk TPIA akan ikut tersengat sentimen positif tersebut. Saham BRPT layak dilirik sebagai proxi terdekat terhadap dampak positif aksi korporasi TPIA, apalagi saat ini saham BRPT dinilai masuk murah.
Grafik Saham TPIA

