Laba Diprediksi Melesat, Target Harga Saham CPIN dan JPFA Diangkat
JAKARTA, investortrust.id – Saham emiten poultry atau unggas yakni, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diprediksi masih berpotensi menguat meski 3 bulan terakhir telah naik masing-masing 45% dan 7%.
Stockbit Sekuritas menilai potensi kenaikan kedua saham tersebut didorong oleh pertumbuhan laba bersih per semester I-2024.
“Kami prediksi laba bersih JPFA dan CPIN lebih tinggi dari konsensus, ini berpotensi memberikan kejutan positif bagi market,” ujar Investment Analyst Stockbit Reynaldo Mulya dalam risetnya, Senin (29/7/2024).
Atas prediksi kenaikan laba di semester I-2024, Stockbit merevisi naik estimasi kinerja laba bersih JPFA dan CPIN di akhir 2024 dibandingkan estimasi awal. Laba JPFA direvisi naik 140% dari Rp 1,1 triliun menjadi Rp 2,7 triliun dibandingkan konsensus sebesar Rp 1,7 triliun.
Baca Juga
Sementara CPIN direvisi naik 2,4% dari Rp 3,7 triliun menjadi Rp 3,8 triliun dibandingkan konsensus Rp 3,1 triliun.
Asal tahu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) telah mengalami pemulihan pada kuartal I-2024. Perseroan meraup laba bersih Rp 664,82 miliar dibandingkan rugi bersih Rp 249,92 miliar pada kuartal I-2023.
Sedangkan, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) pada kuartal I-2024 membukukan laba bersih Rp 711,03 miliar atau melonjak 195% dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 240,99 miliar.
Penjualan bersih CPIN pada kuartal I-2024 sebesar Rp 15,91 triliun, atau naik 9,27% dari periode sama tahun lalu Rp 14,56 triliun. Sementara JPFA membukukan penjualan bersih Rp13,92 triliun, surplus 18% dari periode sama tahun lalu Rp 11,76 triliun.
Secara umum, kenaikan estimasi tersebut didasarkan pada dua faktor utama yaitu harga jagung yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi Stockbit sebelumnya seiring hasil panen yang melimpah.
Baca Juga
Kemudian, harga DOC yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya karena kondisi pasokan yang terjaga.
Adapun Stockbit telah menetapkan estimasi terbaru terhadap harga jagung dan DOC yaitu harga jagung direvisi turun 14% dari Rp 6.000/kg menjadi Rp 5.150/kg (YTD: Rp4.974/kg) dan harga DOC direvisi naik 10% dari Rp5.000/ekor menjadi Rp5.500/ekor (YTD: Rp6.065/ekor)
“Revisi kenaikan estimasi laba bersih CPIN jauh lebih rendah dibandingkan JPFA karena kami juga mempertimbangkan kinerja segmen Processed Foods milik CPIN yang lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya, dengan estimasi terbaru atas margin laba usaha tersebut untuk FY24F sebesar -1% (vs. estimasi sebelumnya: +12%),” jelas Reynaldo.
JPFA menjadi preferensi Stockbit dibandingkan CPIN. Selain itu, Stockbit juga menilai Malindo Feedmill (MAIN) juga berpotensi membukukan kinerja kuartal II-2024 yang sangat baik.
Sejalan dengan hal itu, Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memaparkan bahwa sentimen yang mempengaruhi penguatan harga saham emiten poultry adalah terjadinya recovery pada harga broiler maupun harga dari DOC.
Kemudian, terdapat sentimen tambahan seperti strong domestic consumption yang masih in line terlepas dari musim kenaikan konsumsi seperti bulan suci Ramadhan dan pemilu yang telah berakhir. Kemudian, kinerja penjualan emiten poultry juga dinilai positif.
“Hal ini dapat memberikan optimisme ya agar emiten sektor poultry di Tanah Air juga bisa berkembang,” jelasnya kepada investortrust.id, Senin (29/7/2024). Oleh sebab itu, ia menyarankan untuk buy on weakness saham CPIN dengan target price Rp 5.450.
Sementara itu, analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan buy on weakness saham CPIN dengan support Rp 5.125 dan resistance Rp 5.375 dan target price Rp 5.600 – Rp 5.750, kemudian spec buy JPFA dengan support Rp 1.610 dan resistance Rp 1.750 dan target price Rp 1.800-Rp 1. 850. (CR-4)
Pergerakan Harga Saham CPIN dan JPFA secara Ytd:

