Pegang Saham Ini, Kekayaan Anda Tergerus 60,64% dalam Sepekan
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA) tercatat sebagai saham dengan penurunan paling drastic pekan ini. Bahkan, penurunan tersebut membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan saham tersebut bergerak tidak wajar (unusual market activity/UMA).
ISEA merupakan saham pendatang baru yang listing di BEI pada 8 Juli 2024 dengan harga penawaran Rp 250 per saham. Saham ISEA sempat melesat hingga empat hari bursa dari level Rp 250 menjadi Rp 468 pada 11 Juli, bahkan semapt sentuh rekor tertinggi intraday Rp Rp 500.
Baca Juga
Namun sejak cetak rekor tertingginya, saham ISEA ditutup melemah hingga mencatatkan auto reject bawah (ARB) berhari-hari hingga akhirnya ditutup level Rp 148 per saham atau di bawah harga listing Rp 250 per saham. Saham ini juga masuk UMA oleh BEI.
Berdasarkan data BEI, saham ISEA melorot sebanyak 60,64% sepanjang pekan ini dari level Rp 376 menjadi Rp 148 per saham. Selain saham ini, saham PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) anjlok dari Rp 185 menjadi Rp 103 atau turun 44,32%.
Penurunan selanjutnya dicatatkan saham PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) sebanyak 26,98% dari Rp 945 menjadi Rp 690, PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) anjlok sebanyak 22,83% dari Rp 254 menjadi Rp 196, dan PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) melorot 22,63% dari Rp 190 menjadi Rp 147.
IHSG BEI pekan ini ditutup BEI melorot 0,09% menjadi 7.288,16. Meski melemah, pemodal asing terpantau masih melanjutkan pembelian bersih (net buy) saham Rp 320,75 miliar yang ditopang aksi borong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) lebih dari Rp 1 triliun pekan ini setelah rilis laporan kinerja keuangan dengan torehan mengesankan pada semester I-2024.
Baca Juga
Indo American Seafood (ISEA) Kejar Target Laba Rp 27 Miliar Tahun 2024
Koreksi IHSG pekan ini dipicu atas penurunan sebanyak 377 saham. Sisanya sebanyak 323 saham berhasil menguat dan hanya 238 saham ditutup stagnan. Sedangkan kapitalisasi pasar (market cap) BEI turun dari Rp 12.358 triliun menjadi Rp 12.363 triliun.
Sektor saham dengan penurunan paling dalam melanda, saham sektor material dasar 1,29%, sektor consumer non primer 1,20%, sektor keuangan turun 0,31%, sektor property melemah 0,96%, dan sektor infrastruktur turun 0,55%. Sebaliknya saham sektor teknologi, transportasi, dan industry menguat.

