BRIS Direkomendasikan Rights Issue, Harga Saham Bisa Melesat Segini
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian BUMN tengah mengkaji kemungkinan pelepasan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ke pasar.
Hal itu demi memenuhi syarat free float 15% untuk masuk indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Saat ini saham free float BRIS di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih sebesar 9,91%.
Pengamat pasar modal Wahyu Tri Laksono menilai, pelepasan (unlock) saham BRIS sebaiknya dilakukan melalui metode penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Hal itu dilakukan, bila ada prioritas atau kepentingan khusus dan hak spesial. “Para investor yang sudah masuk di perusahaan akan diprioritaskan untuk menyerap saham baru,” jelas Wahyu kepada Investortrust.id, Jumat (19/7/2024).
Baca Juga
Kejar Indeks MSCI, Pemerintah akan ‘Unlock’ Saham BRIS untuk Tambah Porsi ‘Free Float’
Pasalnya, aksi korporasi tersebut dilakukan juga untuk menambah kapital, menyuntikkan modal lebih besar sehingga bisa menunjang strategi korporasi, seperti ekspansi.
“Jelas itu bagus. Karena bursa memang sejatinya pelibatan publik. Semakin besar akses publik mestinya semakin baik,” menurut dia.
Metode pelepasan saham BRIS pun diingatkan untuk tetap menerapkan prinsip kehati-hatian, serta tunduk pada ketentuan atau peraturan berlaku, termasuk pelaksanaan keterbukaan informasi.
Wahyu melanjutkan, rights issue biasanya diberikan berdasarkan rasio. Misalnya rasio yang diberikan adalah 1:2 maka setiap pemegang satu lembar saham memperoleh dua hak untuk membeli saham yang baru akan diterbitkan.
Harga saham baru yang diterbitkan melalui proses right issue disebut sebagai harga rights. Harga rights ini bisa lebih rendah, sama maupun lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar saham saat ini.
Baca Juga
Namun jika ingin memberikan keuntungan lebih bagi investor lama, Wahyu menyarankan sebagian besar harga rights sebaiknya berada di bawah harga pasar.
“Jadi HMETD akan terfokus kepada pemilik saham lama, tidak melibatkan publik. Akibatnya tetap pertambahan kapital namun keuntungan investasi diberikan kepada pemilik lama sehingga lebih pasti dan harga akan cenderung naik,” ujar dia.
Wahyu menambahkan, rights issue cenderung jadi pilihan karena adanya kepastian walaupun emiten bisa memilih opsi mengambil atau tidak. Dibandingkan pelepasan saham publik yang lebih luas dan variatif, BRI dan BNI mungkin akan melepas saham ke publik. Mengurangi kepemilikan saham BRIS, di mana Bank Mandiri akan dibiarkan jadi pengendali utamanya.
Dia menggambarkan, strategi rights issue bisa diarahkan ke pemegang saham dari pihak Mandiri sehingga konsekuensinya kepemilikan Mandiri semakin kuat.
“Atau ya dilepas ke publik dengan pihak Mandiri cenderung relatif tidak berubah signifikan. Apapun itu, ini semua bagus dan memicu sentimen positif harga BRIS,” ungkapnya.
Sebagai informasi saat ini pemegang saham mayoritas adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 51,47%. Sisanya 23,24% dimiliki PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan 15,38% masih dikempit PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Selebihnya dimiliki publik sebesar 9,91%.
Wahyu pun merekomendasikan investor untuk membeli saham BRIS saat harga melemah (buy on weakness) di bawah level Rp 2.100. Sedangkan hingga penutupan perdagangan pada Jumat (19/7/2024), harga saham BRIS masih di kisaran Rp 2.450, terkoreksi 1,61% dari hari sebelumnya.
Baca Juga
BSI (BRIS) Incar Posisi Top 3 Bank Syariah Global dalam 10 Tahun ke Depan
Menurut analisis dia, saat ini pergerakan saham BRIS sedang mengalami konsolidasi bullish di kisaran Rp 2.100-3.000. Saham ini diprediksi mampu mencapai harga Rp 4.000 bila sudah menembus level Rp 3.000.
“Tetapi di dekat atau atas Rp 4.000 rentan koreksi. Sebaiknya sell on strength,” saran dia.
Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta meyakini, aksi korporasi BRIS bisa meningkatkan likuiditas pada pergerakan harga sahamnya.
Opsi rights issue dan pelepasan saham oleh BBRI dan BBNI pun dinilai sama-sama berpeluang mengerek harga saham. Asalkan terserap dengan baik ke publik maka kekurangan free flow dapat teratasi dengan baik.
“Bila pergerakan harga saham menunjukkan tren apresiasi, akan pula diikuti dengan tren kenaikan kapitalisasi pasar,” ujar Nafan melalui pesan singkat. (CR-10)

