Operator Telko Konsolidasi, Target Harga TOWR Jadi Segini
JAKARTA, investortrust.id - Saat ini, industri telekomunikasi mengalami tantangan seperti adanya kenaikan beban bunga di era suku bunga tinggi serta adanya konsolidasi operator telekomunikasi dari FREN dan EXCL yang akan berlangsung kedepan. Hal ini turut menjadi tantangan bagi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) untuk mengerek laba bersihnya.
Walaupun demikian, pada kuartal I-2024, TOWR membukukan kenaikan pendapatan yaitu sebesar 6.3% yoy (year on year) menjadi Rp 3,047 triliun dibandingkan kuartal I-2023 Rp 2,865 triliun. Adapun EBITDA naik 4.4% secara yoy menjadi Rp 2,545 triliun dibandingkan kuartal-I 2023 Rp 2,439 triliun. Net Profit yang dicetak oleh TOWR di periode kuartal I-2024 menjadi Rp 797,4 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 752.4 miliar.
Segmen penyewaan menara di kuartal I-2024 yang merupakan kontributor terbesar untuk besaran pendapatan TOWR, terlepas sudah mature, masih bertumbuh 1% yoy menjadi Rp 2,081 triliun di kuartal I-2024 dibandingkan kuartal I-2023 Rp 2,061 triliun.
Sementara mengenai mengenai data operasional asset, jumlah menara yang dimiliki TOWR saat ini berada di 31,049 unit di kuartal I-2024 dibandingkan kuartal I-2023 sebanyak 29.757 unit atau naik 4,3%. Sedangkan jumlah Penyewa (Tenancy) berada di level 54,170 penyewa atau naik 0,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 53,820 penyewa.
Baca Juga
Tuntaskan Akuisisi 90,11% Saham Inti Bangun (IBST), Begini Dampaknya bagi Sarana Menara (TOWR)
Pendapatan segmen non menara menyumbang pertumbuhan cukup signifikan dari TOWR di tengah segmen menara yang sudah mature sekaligus mesin pertumbuhan dari TOWR di masa mendatang menjadi Rp 20,2% menjadi Rp 965 miliar. Sedangkan, segmen FTTT (Fiber to The Tower) mengalami pertumbuhan 15.5% yoy menjadi Rp 476 miliar dan Segmen FTTH mengalami pertumbuhan eksponensial menjadi Rp 118 miliar di kuartal I-2024. Adapun jaringan FTTT TOWR yang sudah terpasang saat ini tercatat membentang sejauh 186,571 km jaringan Fiber. Berdasarkan lokasi terpasangnya jaringan FTTT sepanjang 117,297 km berada di pulau Jawa (64%) dan 64,959 km berada di luar Jawa (36%).
Oleh sebab itu, NH Korindo Sekuritas mempertahankan rating Buy untuk TOWR namun dengan target harga yang lebih rendah yaitu di Rp1.070 (Potensi upside +45.6%) yang mencerminkan FY24 8.8x Forward EV/EBITDA.
Penurunan target tersebut dikarenakan mengimplikasi dan untuk mengantisipasi dampak dari konsolidasi operator telekomunikasi di Indonesia kedepannya dan era suku bunga tinggi yang masih berlangsung, dimana beban bunga cukup memukul kinerja TOWR dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga
Sarana Menara (TOWR) Tuntaskan Akuisisi 90,11% saham Inti Bangun (IBST), Nilainya Segini
“Terlepas dari dampak tantangan di atas dan badai yang sedang dilalui tersebut, valuasi TOWR saat ini berada di angka yang cukup menarik dan atraktif. Hal yang menjadi risiko dari call TOWR ini adalah tidak tercapainya ekspetasi pertumbuhan dari TOWR baik dari pendapatan dan tingkat penyewaan serta beban bunga yang masih bertengger tinggi akibat situasi higher for longer,” tutur Analis NH Korindo Leonarno Lijuardi dalam risetnya yang dikutip Kamis (11/7/2024).
Sementara itu, pada perdagangan hari ini (11/7/2024), saham TOWR ditutup menguat 5 poin (0,64%) ke level 785. Dalam jangka waktu satu bulan, saham TOWR melesat 10,56% dari angka 710 pada 11 Juni 2024. Adapun volume perdagangan yang tercatat adalah 38,61 juta dan nilai transaksi sebesar Rp 38,61 miliar. Sementara itu, frekuensi perdagangan yang tercatat hingga penutupan adalah 5.036 kali dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 40,05 triliun.

